Perilaku seseorang sedang hancur dalam hidup menurut psikologi./Freepik.
JawaPos.com – Ketika seseorang merasa hancur dalam hidup, perasaan itu sering kali tidak diungkapkan secara langsung.
Alih-alih mengatakan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi mental yang rapuh, mereka menunjukkan perilaku tertentu yang mencerminkan rasa sakit dan kelelahan emosional yang mendalam.
Menurut psikologi, orang yang merasa hidup sedang hancur cenderung mengalami perubahan dalam pola pikir, emosi, dan interaksi sosial.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mulai menunjukkan perilaku tertentu yang tampak tidak biasa, bisa jadi itu adalah sinyal dari kondisi mental yang sedang memburuk.
Dilansir dari geediting.com pada Selasa (11/2), diterangkan bahwa terdapat tujuh perilaku yang menunjukkan seseorang sedang merasa hancur dalam hidup yang mereka jalani menurut psikologi.
Ketika tekanan hidup terasa begitu berat, seseorang cenderung memilih untuk mengisolasi diri sebagai jalan termudah. Kelelahan mental membuat mereka merasa tidak memiliki energi yang cukup untuk bersosialisasi, ditambah ketakutan akan ketidakpahaman orang lain terhadap kondisi yang dialami.
Penarikan diri ini dimulai dari membatalkan janji bertemu, mengabaikan pesan, hingga meyakinkan diri bahwa lebih baik sendirian. Semakin lama seseorang mengasingkan diri, semakin sulit pula baginya untuk kembali membuka diri dan terhubung dengan orang lain.
Keengganan menerima bantuan sering kali bukan berasal dari rasa gengsi, melainkan kekhawatiran menjadi beban bagi orang lain. Mereka biasanya akan menolak dengan halus menggunakan kalimat “Saya baik-baik saja” atau “Saya bisa mengatasinya sendiri”, bahkan ketika mereka sedang berada di titik terendah.
Penolakan ini juga muncul dari pemikiran bahwa menerima bantuan adalah bentuk pengakuan atas kelemahan diri. Padahal sejatinya, membuka diri untuk menerima bantuan justru menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang wajar membutuhkan dukungan orang lain.
Orang yang merasa terpuruk seringkali menyepelekan masalah yang dihadapi dengan mengatakan “Ini bukan apa-apa” atau mengubahnya menjadi bahan lelucon ringan. Mereka cenderung menganggap kesulitan yang dialami sebagai hal sepele yang tidak perlu dipikirkan secara serius, bahkan sampai meyakinkan diri sendiri bahwa semua baik-baik saja.
Rasa sakit yang terus-menerus dipendam akan mempengaruhi cara berpikir, bereaksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Semakin lama seseorang menyangkal rasa sakitnya, semakin sulit pula proses penyembuhan yang harus dijalani.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
