Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 September 2026 | 18.20 WIB

Wamenkomdigi Nezar Ungkap Bahaya Algoritma Media Sosial, Bisa Bikin Terjebak Echo Chamber

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi) - Image

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi)

JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyoroti bahaya algoritma yang digunakan platform media sosial.

Menurut dia, sistem tersebut dapat membentuk lingkungan informasi yang membuat pengguna terus menerima konten sesuai kecenderungan mereka hingga berpotensi terjebak dalam echo chamber.

Kondisi itu menjadi tantangan di tengah derasnya arus informasi digital. Ketika masyarakat hanya terus terpapar narasi yang sesuai dengan pandangan atau minatnya, kemampuan untuk membedakan fakta dari informasi yang menyesatkan dapat semakin sulit.

Algoritma membentuk bilik gema, echo chamber, itu sekarang yang mengatur kita. Platform-platform membuat filter bubble,” kata Nezar saat berdiskusi dengan sejumlah pegiat Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam kegiatan Rural ICT Camp 2026 di Sulawesi Selatan, dikutip Selasa (15/9).

Nezar menjelaskan, perkembangan teknologi telah membuat informasi dan berbagai narasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Kecepatan tersebut menjadi persoalan ketika masyarakat harus memilah begitu banyak informasi yang diterima setiap hari.

“Teknologi mempercepat cerita-cerita itu menyebar sehingga kadang-kadang kita tidak bisa membedakan lagi mana yang benar, mana yang fakta,” ungkapnya.

Menurut Nezar, persoalan tersebut semakin kompleks seiring dengan semakin luasnya akses internet dan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial. Masyarakat kini dapat memperoleh informasi dengan mudah hanya melalui perangkat yang berada dalam genggaman.

Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat masyarakat mampu menentukan kebenaran setiap informasi yang diterima. Di tengah ledakan informasi, media sosial, algoritma, dan kecerdasan artifisial, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk mengenali informasi yang benar sekaligus mewaspadai narasi yang menyesatkan.

Nezar menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko masyarakat terpapar misinformasi dan disinformasi apabila akses terhadap konektivitas tidak diimbangi dengan kecakapan dalam menggunakan internet.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore