
Menkomdigi Meutya Hafid saat memberikan sambutan dalam World Encounter Summit 2026 yang merupakan bagian dari rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Jumat (4/9). (Istimewa)
JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan skema denda bagi platform digital yang tidak memenuhi kewajiban pelindungan anak sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Besaran sanksi tersebut dibedakan berdasarkan skala penyelenggara sistem elektronik (PSE). Untuk platform digital berskala besar atau global, denda yang dirumuskan mencapai 6 persen dari pendapatan global. Sedangkan PSE privat dalam negeri akan dikenakan denda maksimal berdasarkan skala usahanya.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menjelaskan, PSE privat dalam negeri dengan kategori usaha mikro dapat dikenai denda maksimal Rp1 miliar. Sementara batas denda untuk usaha kecil mencapai Rp5 miliar dan usaha menengah sebesar Rp10 miliar.
“Untuk platform digital skala besar atau global, denda yang kami rumuskan sebesar 6 persen dari pendapatan global. Sementara untuk PSE privat dalam negeri, besaran dendanya disesuaikan dengan skala usaha,” ujar Meutya dalam Konferensi Pers Progres Implementasi PP Tunas di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (14/9).
Meutya mengatakan, rumusan sanksi tersebut tidak dibuat secara sepihak. Kemkomdigi telah melakukan konsultasi publik serta sosialisasi dengan sejumlah PSE privat sebelum besaran denda dirumuskan.
Pembahasan mengenai skema tersebut juga telah dilanjutkan dengan Kementerian Keuangan. Rumusan denda akan dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait sebelum ditetapkan sebagai bagian dari PP PNBP.
"Sebelum formulasi ditetapkan, ini sudah melalui konsultasi publik, sudah melalui penyampaian resmi kepada PSE terutama ke delapan platform (berisiko tinggi) dan juga sudah resmi diserahkan kepada Kementerian Keuangan untuk dibahas dan ditetapkan dalam PP PNBP bersama kementerian terkait," jelasnya.
Kemkomdigi sebelumnya menetapkan delapan platform digital sebagai layanan yang memiliki profil risiko tinggi terhadap anak. Daftar tersebut mencakup YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigolive, dan Roblox.
Sementara itu, pengelompokan PSE privat dalam negeri berdasarkan skala usaha akan mengikuti ketentuan yang berlaku dalam peraturan perundang-undangan. Salah satu acuan yang digunakan yakni Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022