
Ilustrasi AI (Freepik)
JawaPos.com - Kecerdasan buatan (AI) kini tak hanya dimanfaatkan untuk mencari informasi atau membantu pekerjaan. Bagi banyak anak muda, chatbot AI juga mulai menjadi tempat berbagi cerita ketika menghadapi persoalan pribadi.
Fenomena ini dinilai mencerminkan masih minimnya ruang aman bagi generasi muda untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi.
Temuan tersebut terungkap dalam riset Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) yang dipaparkan melalui webinar Beyond the Prompt: Pemahaman Gen Z terhadap Batasan AI dalam Konteks Curhat di AI.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 59,4 persen Gen Z Indonesia pernah mencurahkan persoalan pribadinya kepada AI, dengan topik yang paling sering dibahas meliputi pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, hingga keluarga.
Baca Juga:BPH Migas Kawal Upaya Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Antrean BBM di SPBU Berangsur Terurai
Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah, mengatakan hubungan manusia dengan AI kini menghadirkan dua sisi berbeda. Di satu sisi teknologi menawarkan kemudahan, tetapi di sisi lain muncul tantangan baru yang perlu diantisipasi, terutama terkait kebutuhan ruang aman bagi anak muda.
“Dalam riset kami, sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah ‘curhat’ kepada AI. Hal ini menunjukkan bahwa chatbot telah menjadi ruang alternatif untuk mencari bantuan, berdiskusi, mapun berbagi persoalan pribadi. Penelitian juga menemukan bahwa banyak responden menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi percakapan, karena merasa lebih bebas berbicara kepada AI dan tidak takut dihakimi,” ujar Farabi di Jakarta dikutip Sabtu (18/7).
Sementara itu, peneliti DiRI sekaligus Direktur Digital Media Research and Consulting, Haris Fatwa, menyebut temuan tersebut memperlihatkan paradoks. Meski banyak Gen Z memahami keterbatasan AI, mereka tetap memilih chatbot sebagai tempat bercerita karena menganggapnya sebagai pendengar yang tidak menghakimi.
“Gen Z sebenarnya terliterasi soal bias dan halusinasi AI, tetapi mereka tetap memilihnya sebagai tempat bercerita. Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata, sehingga mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan,” jelas Haris.
Riset yang sama juga menemukan paradoks lain terkait perlindungan data pribadi. Sebanyak 88,7 persen responden meyakini AI kemungkinan menyimpan percakapan mereka, 90,9 persen menilai kebijakan privasi platform AI belum cukup jelas, dan 75,1 persen khawatir data tersebut berpotensi disalahgunakan. Kendati demikian, 63,2 persen responden tetap membagikan cerita pribadinya kepada AI.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022