Logo Alphabet terlihat dalam ilustrasi ini (Reuters)
JawaPos.com - Alphabet Inc., induk perusahaan Google, mengirim sinyal strategis ke pasar keuangan global dengan menerbitkan obligasi bertenor 100 tahun senilai 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 23,5 triliun (kurs Rp 16.790 per dolar AS).
Instrumen utang yang baru jatuh tempo pada 2126 itu menjadi pernyataan terbuka bahwa raksasa teknologi tersebut percaya diri membiayai ekspansi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam horizon satu abad.
Penerbitan obligasi bertenor 100 tahun ini bukan sekadar aksi pendanaan. Di tengah percepatan investasi AI dan kompetisi global industri teknologi, obligasi berjangka sangat panjang mencerminkan keyakinan korporasi terhadap daya tahannya sendiri—sebuah pesan yang ditangkap jelas oleh investor institusional dunia.
Dilansir dari USA Today, Senin (2/3/2026), analis investasi senior The Motley Fool, Jason Moser, menyatakan, "Anda dan saya tidak akan ada lagi ketika obligasi ini jatuh tempo."
Meski demikian, dia menilai penerbitan tersebut merupakan pesan eksplisit tentang keyakinan jangka panjang perusahaan. "Mereka pada dasarnya ingin mengatakan, 'Dengar, kami masih akan berada di sini dalam 100 tahun'. Sebagai pemegang saham Google, saya melihat ini sebagai peningkat kepercayaan diri," ujarnya.
Data Bloomberg mencatat, permintaan atas obligasi tersebut mencapai hampir 10 kali lipat dari nilai yang ditawarkan. Secara keseluruhan, Alphabet menghimpun hampir 32 miliar dolar AS atau sekitar Rp 537 triliun hanya dalam 24 jam melalui rangkaian penerbitan surat utang.
Obligasi 100 tahun itu diterbitkan di Inggris dengan denominasi minimum 100.000 poundsterling atau sekitar Rp 2,25 miliar (kurs Rp 22.520 per £1) serta tidak ditawarkan kepada investor ritel.
Di sisi lain, langkah ini terjadi ketika Alphabet mengumumkan rencana belanja modal AI sedikitnya 175 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.938 triliun pada 2026. Dengan pendapatan tahunan melampaui 400 miliar dolar AS dan kapitalisasi pasar sekitar 3,8 triliun dolar AS, nilai penerbitan obligasi tersebut relatif kecil. Namun, maknanya dinilai simbolik.
Sejalan dengan itu, Kepala Strategi Pendapatan Tetap LPL Financial, Lawrence Gillum, menilai, "Saya pikir Google ingin mengatakan, 'Kami menerbitkan obligasi 100 tahun karena kami bisa.' Dan tidak semua perusahaan bisa melakukan itu." Artinya, penerbitan obligasi berjangka satu abad tersebut lebih mencerminkan kekuatan fundamental dan reputasi keuangan perusahaan daripada sekadar kebutuhan pendanaan jangka pendek.
Meski tergolong langka, penerbitan obligasi berjangka 100 tahun bukanlah yang pertama di sektor korporasi, termasuk industri teknologi. Reuters melaporkan, obligasi serupa terakhir di sektor teknologi diterbitkan Motorola pada 1997, sementara IBM telah melakukannya pada 1996.
Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa tenor panjang bukan jaminan keberlangsungan bisnis. Pemimpin Redaksi Investopedia, Caleb Silver, mengingatkan, "Sejak 1990, perusahaan publik AS telah menerbitkan setidaknya 38 obligasi 100 tahun. Hanya 17 di antaranya yang masih bertahan."
Dari perspektif imbal hasil, obligasi Alphabet menawarkan kupon 6,125 persen, lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah AS tenor 10 hingga 30 tahun yang berada di kisaran 4 hingga 5 persen. Karena itu, Silver menjelaskan, "Investor menginginkannya karena mereka membayar imbal hasil yang sangat tinggi."
Selain itu, analis Oxford Economics, John Canavan, menambahkan, "Bagi dana pensiun atau perusahaan asuransi, cukup masuk akal untuk meyakini bahwa Alphabet masih akan ada 10 tahun lagi, dan itu sudah cukup." Sementara itu, dalam skenario terburuk, Gillum menegaskan, "Ada semacam perlindungan, tetapi kemungkinan Anda tidak akan menerima 100 sen per dolar."
Pada akhirnya, obligasi 100 tahun ini menegaskan bahwa Alphabet tidak hanya membiayai ekspansi AI, tetapi juga mempertaruhkan kredibilitas jangka panjangnya di hadapan pasar global. Di tengah dinamika industri teknologi yang pernah menggugurkan nama-nama besar, taruhan satu abad ini menjadi simbol ambisi sekaligus ujian ketahanan korporasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022