
Larry Page (kiri) dan Sergey Brin, pendiri Google, yang sejak awal membayangkan mesin pencari berbasis kecerdasan buatan. (Fortune)
JawaPos.com — Ketika Larry Page berbicara tentang masa depan Google pada tahun 2000, mesin pencari masih dipahami sebagai alat pencari tautan, bukan sistem pemahaman pengetahuan. Namun sejak awal, salah satu pendiri Google itu menilai pendekatan tersebut tidak akan cukup.
Dua puluh lima tahun kemudian, kemunculan Gemini menempatkan Google lebih dekat pada visi lama Larry Page tentang mesin pencari berbasis kecerdasan buatan yang mampu memahami maksud pengguna secara utuh.
Google didirikan pada 1998 oleh Larry Page dan Sergey Brin di tengah dominasi AltaVista dan Yahoo. Melalui algoritma PageRank—yang menilai relevansi laman berdasarkan hubungan antartautan—Google memperkenalkan pendekatan baru dalam pencarian informasi.
Strategi ini bukan sekadar meningkatkan akurasi hasil pencarian, tetapi juga membangun fondasi ekonomi digital yang kelak menjadikan Google kekuatan utama teknologi global.
Dilansir dari Fortune, Kamis (25/12/2025), Page sejak awal menegaskan bahwa mesin pencari generasi awal belum memahami hierarki informasi di internet.
“Mesin pencari tidak benar-benar memahami halaman mana yang lebih penting. Jika Anda mengetik ‘Stanford’, hasilnya acak dan tidak relevan dengan maksud Anda. Ini jelas tidak akan berhasil,” ujar Page dalam wawancara Oktober 2000 dengan American Academy of Achievement yang kembali dikutip Fortune.
Pada tahun tersebut, Google telah menguasai sekitar 25 persen pasar pencarian global dan membukukan pendapatan iklan pencarian sekitar 80 juta dolar AS, atau sekitar Rp1,34 triliun dengan kurs Rp16.750 per dolar AS. Angka itu meningkat drastis menjadi hampir 200 miliar dolar AS pada 2024.
Namun, bagi Page, capaian finansial bukan tujuan akhir. “Kecerdasan buatan adalah versi pamungkas Google. Jika mesin pencari ideal dapat diwujudkan, teknologi tersebut akan memahami seluruh isi web, mengetahui secara akurat kebutuhan pengguna, dan menyajikan jawaban yang relevan,” katanya.
Pada saat yang sama, Page secara terbuka mengakui keterbatasan teknologi kala itu. “Kami sama sekali belum mendekati tahap tersebut sekarang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut kini kembali relevan seiring Google memperkenalkan Gemini, model bahasa besar (LLM) yang dirancang untuk menjawab pertanyaan secara kontekstual, lintas format, dan berbasis penalaran tingkat lanjut.
Peta persaingan AI global berubah signifikan sejak OpenAI meluncurkan ChatGPT pada akhir 2022. Google sempat berada dalam posisi defensif sebelum merilis Bard pada 2023, yang kemudian direposisi dan diberi nama Gemini.
Sejak Mei lalu, Google mengintegrasikan Gemini langsung ke mesin pencari melalui fitur “AI Mode”, menggeser pengalaman pencarian dari daftar tautan menuju jawaban naratif berbasis bahasa alami.
Menurut laporan Wall Street Journal, pembaruan terbaru Gemini menunjukkan performa yang melampaui ChatGPT serta pesaing lain seperti Claude dari Anthropic dalam sejumlah uji tolok ukur industri. Google juga telah menyematkan Gemini 3 Flash ke dalam AI Mode untuk seluruh pengguna global, dengan klaim peningkatan kemampuan penalaran dalam menangani pertanyaan kompleks dan berlapis.
Keunggulan utama Gemini terletak pada penalaran multimodal, yakni kemampuan memproses teks, gambar, audio, video, hingga kode dalam satu permintaan. Model ini juga memiliki jendela konteks hingga satu juta token, memungkinkan sistem menarik informasi dari riwayat panjang percakapan untuk menjawab pertanyaan yang bernuansa dan mendalam.
Lebih dari sekadar alat pencarian pasif, Gemini dirancang untuk menjalankan fungsi asisten berbasis kecerdasan buatan yang terintegrasi dengan berbagai layanan Google, mulai dari pengelolaan surat elektronik hingga membantu pengembangan kode dan pembuatan prototipe digital. Perubahan ini menandai pergeseran persaingan teknologi global dari akses informasi menuju penguasaan sistem pengetahuan berbasis AI.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022