Elon Musk tiba di pengadilan federal Oakland saat sidang gugatan terhadap OpenAI dimulai, 28 April 2026. (Fortune)
JawaPos.com — Perseteruan lama di lingkar elite teknologi global kembali terbuka ke publik ketika Elon Musk membawa konflik ideologisnya dengan Larry Page ke ruang sidang. Dalam gugatan terhadap OpenAI, Musk tidak hanya menyoal arah institusi, tetapi juga mempertanyakan fondasi etika dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Kesaksian tersebut menandai babak baru dalam pertarungan pengaruh di industri AI global, yang kini melibatkan tokoh-tokoh kunci seperti Musk, Sam Altman, hingga perusahaan besar seperti Microsoft. Isu yang diangkat bukan sekadar bisnis, melainkan siapa yang menentukan arah teknologi paling strategis abad ini.
Dilansir dari Fortune, Selasa (5/5/2026), Musk menyampaikan peringatan keras di hadapan juri bahwa AI “bisa membunuh kita semua”. Dia kemudian menegaskan alasan mendasar berdirinya OpenAI, dengan mengatakan, “Alasan OpenAI ada adalah karena Larry Page menyebut saya ‘specieist’.”
Dalam pernyataan lain, Musk menambahkan, “Kami tidak ingin hasil teknologi AI termanifestasi seperti Terminator. Kami ingin hasil seperti Star Trek, bukan seperti film karya James Cameron tersebut.” Referensi yang digunakan Musk merujuk pada dua kemungkinan arah perkembangan AI: skenario ketika teknologi lepas kendali dan membahayakan manusia, atau sebaliknya dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan peradaban.
Sementara itu, istilah specieist yang dilontarkan Page—menurut Musk—menjadi titik balik konflik keduanya. Dalam konteks ini, istilah tersebut merujuk pada pandangan yang dianggap terlalu memprioritaskan manusia dibanding kemungkinan bentuk “kehidupan digital” di masa depan. Perbedaan cara pandang inilah yang kemudian membentuk garis pemisah antara pendekatan kehati-hatian dan optimisme teknologi.
Selain itu, Musk menjelaskan bahwa perbedaan tersebut mengemuka sejak pertemuannya dengan Page pada 2015. Saat Page memproyeksikan AI sebagai jalan menuju utopia, Musk justru menilai risiko tidak mendapat perhatian yang memadai. Ketegangan itu, menurutnya, menjadi alasan utama pembentukan OpenAI sebagai upaya menyeimbangkan kekuatan dalam pengembangan AI.
Namun, arah organisasi tersebut kemudian berubah. Pada 2017, kebutuhan pendanaan besar mendorong diskusi untuk mengadopsi model bisnis berorientasi profit. Musk, yang telah menyumbang setidaknya 38 juta dolar AS (sekitar Rp 660,8 miliar dengan kurs Rp 17.390 per dolar AS), menginginkan kendali lebih besar, tetapi konflik dengan Altman membuatnya keluar pada 2018.
Perubahan struktur itu berujung pada gugatan. Setelah peluncuran ChatGPT pada 2022 yang mendorong valuasi OpenAI hingga sekitar 730 miliar dolar AS, Musk menuduh Altman dan Presiden OpenAI Greg Brockman telah “mengambil alih” misi nirlaba. Dia kini menuntut ganti rugi lebih dari 150 miliar dolar AS dari OpenAI dan Microsoft.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
