Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Agustus 2026 | 04.47 WIB

Steve Jobs Pernah Minta Larry Page Fokus pada Lima Produk, Page Justru Membangun Alphabet

Larry Page dan Sergey Brin, pendiri Google yang kemudian membangun Alphabet sebagai salah satu raksasa teknologi terbesar dunia / Foto: (Fortune) - Image

Larry Page dan Sergey Brin, pendiri Google yang kemudian membangun Alphabet sebagai salah satu raksasa teknologi terbesar dunia / Foto: (Fortune)

JawaPos.com — Dua dekade lebih setelah Google melantai di bursa, keputusan Larry Page untuk tidak sepenuhnya mengikuti nasihat Steve Jobs justru menjadi salah satu titik penting dalam evolusi raksasa teknologi tersebut. Dari mesin pencari yang berdiri pada 1998, Google berkembang menjadi bagian dari Alphabet, perusahaan bernilai sekitar USD 1,9 triliun atau sekitar Rp33.570 triliun, dengan kurs Rp17.670 per dolar AS.

Alphabet kini tidak lagi terbatas pada bisnis internet. Perusahaan induk Google itu mencakup mesin pencari Google dan YouTube, komputasi awan, layanan kendaraan otonom Waymo, investasi modal privat, hingga riset kecerdasan buatan DeepMind. Fortune menempatkan Alphabet di posisi pertama dalam daftar Most Innovative Companies 2026, menunjukkan bagaimana strategi ekspansi Page akhirnya membentuk konglomerasi teknologi dengan cakupan jauh melampaui bisnis awal Google.

Dilansir dari Fortune, Senin (24/8/2026), Page mendatangi Jobs pada 2011, menjelang akhir hayat pendiri Apple tersebut, untuk meminta nasihat mengenai arah Google. Menurut biografi Jobs karya Walter Isaacson, Jobs menekankan pentingnya fokus. “Hal utama yang saya tekankan adalah fokus. Sekarang semuanya tersebar ke mana-mana. Apa lima produk yang ingin Anda fokuskan? Singkirkan sisanya karena itu justru membebani Anda. Itu membuat Anda menjadi Microsoft. Itu membuat Anda menghasilkan produk yang memadai, tetapi tidak hebat.”

Nasihat itu datang ketika Page kembali menjabat sebagai CEO Google pada 2011. Jobs melihat terlalu banyak proyek dapat menguras perhatian perusahaan dan menurunkan kualitas produk. Pada tahap awal, Page memang merespons dengan mempersempit sejumlah prioritas, termasuk mengarahkan karyawan untuk berfokus pada produk Android dan Google+, yang kini sudah dihentikan. Namun, langkah tersebut tidak menjadi arah permanen bagi Google.

Sebaliknya, Page melihat peluang yang lebih besar dalam mengelola banyak bisnis secara bersamaan. Ketika Alphabet didirikan pada 2015, perusahaan baru itu dirancang sebagai wadah bagi berbagai usaha Google, termasuk proyek yang lebih eksperimental seperti lensa kontak untuk memantau kadar glukosa. Page menganggap berbagai bidang tersebut saling berkaitan, mulai dari energi dan telekomunikasi hingga transportasi.

Menariknya, Page tidak sepenuhnya menolak penilaian Jobs. Dalam Fortune Global Forum 2015, beberapa hari setelah Alphabet didirikan, dia mengakui, “Dia benar. Maksud saya, dia juga berhasil.” Namun, pengakuan itu tidak berarti Page menerima gagasan bahwa perusahaan besar harus membatasi diri pada segelintir produk.

Setahun sebelumnya, dalam percakapan dengan Khosla Ventures, Page bahkan secara terang-terangan menyanggah prinsip tersebut. “Saya selalu berpikir agak bodoh jika Anda memiliki perusahaan sebesar ini, tetapi hanya boleh melakukan, katakanlah, lima hal,” ujarnya. Pandangan itu memperlihatkan perbedaan mendasar antara filosofi Jobs yang mengutamakan konsentrasi dan pendekatan Page yang melihat skala perusahaan sebagai alasan untuk memperluas jumlah bidang yang digarap.

Karena itu, Alphabet bukan sekadar penambahan nama perusahaan. Struktur tersebut memungkinkan Google tetap menjalankan bisnis intinya, sementara berbagai usaha lain dapat berkembang di bawah payung yang sama. Strategi itu pada akhirnya membawa Alphabet ke sektor yang semakin beragam, sekaligus memberi Page dan Sergey Brin ruang untuk mengawasi portofolio bisnis yang lebih luas.

Keputusan tersebut juga mencerminkan keyakinan Page dan Brin terhadap visi jangka panjang mereka. Keduanya bahkan tidak melakukan uji pasar terhadap nama Alphabet sebelum meluncurkannya. Page menjelaskan, “Saya ingin memiliki nama yang membuat orang bangga bekerja untuknya.” Dia menambahkan bahwa nama itu sengaja tidak dibuat terlalu mudah diingat karena Alphabet bukan dimaksudkan sebagai merek konsumen seperti Google, melainkan sebagai identitas bagi perusahaan-perusahaan di dalamnya.

Page kemudian menjelaskan pembagian peran di balik nama tersebut secara sederhana. “Saya memilih Google, jadi [Sergey] memilih Alphabet,” katanya. Kini, Page tetap menjadi anggota dewan dan pemegang saham Alphabet serta secara efektif masih mengendalikan perusahaan bersama Brin. Kekayaan Page diperkirakan mencapai USD 295 miliar, sedangkan Brin sekitar USD 274 miliar menurut Bloomberg Billionaires Index.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore