
Alat berat mengevakuasi runtuhnya bangunan mushalla di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (6/10/2025). (Angger Bondan/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Santri ikut terlibat dalam proses pembangunan di pesantren, termasuk pengecoran bangunan bukan hal baru di lingkungan pondok pesantren di Indonesia. Namun belakangan, fenomena ini kembali mencuat.
Terutama pasca tragedi ambruknya bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo pada Senin (29/9). Insiden ini merenggut puluhan korban jiwa.
Dosen Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, M. Febriyanto Firman Wijaya menilai keterlibatan santri dalam pembangunan ibarat pisau bermata dua: memiliki nilai positif, tetapi berbahaya bila tanpa pengawasan.
“Santri merasa memiliki tanggung jawab terhadap fasilitas yang mereka gunakan. Keringat dan tenaga yang mereka curahkan menjadi bagian dari sejarah dan ruh pesantren,” tutur Firman di Surabaya, Jumat (10/10).
Firman memandang keterlibatan santri dalam pembangunan fasilitas pesantren merupakan wujud sense of belonging atau rasa kepemilikan.
Aktivitas fisik bersama ini diyakini menjadi metode dalam mendidik santri, mendidik nilai keikhlasan, kerja keras, solidaritas, dan gotong royong.
Bahkan di tradisi keagamaan, berpartisipasi dalam pembangunan tempat ibadah dipandang sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
"Namun, ketika santri yang masih di bawah umur dilibatkan tanpa pelatihan, perlengkapan K3, dan pengawasan profesional, itu bukan lagi pengabdian, melainkan pelanggaran etika dan hukum,” imbuhnya.
Sebab, pekerjaan konstruksi, seperti pengecoran beton tidak bisa dilakukan sembarangan. Pekerjaan ini memiliki risiko tinggi, seperti bekerja di ketinggian, mengangkat beban berat, hingga ancaman kegagalan struktur.
"Potensi pergeseran menjadi bentuk eksploitasi juga harus diwaspadai. Partisipasi santri seharusnya murni sukarela dan sesuai kapasitas, bukan malah sebuah hukuman yang mengganggu kegiatan belajar," terang Firman.
Menurut Firman, tragedi yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny harus menjadi pembelajaran dan refleksi bersama, agar seluruh ponpes di Indonesia tidak mengorbankan keselamatan para santrinya demi sebuah tradisi.
“Pesantren bisa tetap melestarikan nilai gotong royong dalam bentuk yang aman, misalnya keterlibatan santri pada tahap persiapan atau kegiatan non-teknis. Tetapi untuk konstruksi inti, biarkan itu menjadi ranah profesional,” tukasnya.
Kronologi Singkat
Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny, tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.
Insiden tragis ini terjadi saat para santri sedang melakukan Salat Asar berjamaah pada rakaat kedua. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan. Polisi menyebut dugaan awal karena kegagalan konstruksi.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
