
Ilustrasi anak yang merasa tidak sepenuhnya diterima atau dicintai apa adanya oleh orang tuanya. (Freepik)
JawaPos.com - Setiap orang tua tentu berharap bisa membesarkan anak-anak mereka dengan limpahan cinta dan dukungan penuh. Namun, terkadang ada pola pengasuhan tertentu yang tanpa disadari justru membuat anak merasa kasih sayang itu datang dengan banyak persyaratan.
Dalam situasi seperti ini, anak mungkin tumbuh dengan perasaan bahwa ia hanya layak dicintai jika mampu memenuhi harapan tertentu atau mencapai sesuatu yang dianggap membanggakan. Akibatnya, mereka bisa merasa bahwa nilai diri mereka sepenuhnya bergantung pada pengakuan atau validasi dari orang lain, bukan dari rasa percaya diri yang sehat.
Dilansir dari Geediting.com pada Selasa (22/4), berikut ini adalah delapan perilaku orang tua yang bisa menjadi sinyal bahwa cinta yang diberikan pada anak mungkin belum sepenuhnya tanpa syarat.
1. Memuji Anak Secara Bersyarat
Orang tua sering kali hanya memberikan pujian atau kasih sayang saat anak mencapai sesuatu atau berperilaku sesuai keinginan mereka. Hal ini membuat anak berpikir bahwa nilai diri mereka terikat erat dengan hasil yang mereka peroleh atau ekspektasi yang berhasil dipenuhi.
2. Menahan Kehangatan Emosional Saat Konflik
Saat terjadi perbedaan pendapat atau konflik kecil, orang tua menarik diri secara emosional dan menjadi dingin. Suasana ini bisa menanamkan rasa cemas pada anak setiap kali mereka menghadapi ketidaksetujuan atau mencoba menyampaikan perasaannya yang berbeda.
3. Terus Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Perilaku sering membandingkan anak dengan saudara kandung, teman, atau anak-anak lain sangat merusak kepercayaan diri mereka. Anak jadi merasa dirinya tidak pernah cukup baik apa adanya dan terus-menerus merasa kurang dibanding standar yang ditetapkan.
4. Mengontrol Berlebihan Atas Nama Perlindungan
Mengelola setiap aspek kehidupan anak dengan alasan melindungi ternyata bisa menghambat perkembangannya secara signifikan. Kontrol ketat seperti ini menumbuhkan keraguan diri dan membuat anak sulit mengembangkan kemandirian mengambil keputusan.
5. Mengabaikan Perasaan Anak yang Dianggap Drama
Orang tua kerap meremehkan atau menolak validasi emosi anak, menganggapnya berlebihan atau sekadar mencari perhatian negatif. Kebiasaan ini memaksa anak untuk menekan perasaannya sendiri karena merasa tidak aman atau tidak didengar saat menunjukkan kerentanan emosional mereka.
6. Menggunakan Rasa Bersalah sebagai Alat Pengajaran
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Monza vs Cagliari di Liga Italia: Tim Tamu Punya Catatan Impresif di Laga Tandang
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City: Menang Tipis, De Zerbi Akhiri Tren Buruk
Prediksi Skor Trabzonspor Vs Besiktas di Liga Turki: Salah Cs Punya Rekor Kandang Impresif
UU Ketenagakerjaan Batasi PKWT Maksimal 4 Tahun, Said Iqbal: Kalau Ciptaker Sembarangan
Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano: Emil Audero Bantu El Rayo Perpanjang Kutukan 10 Laga!
Persebaya Berangkat ke Makassar Besok! Tavares Siap Tantang Mantan Tim PSM
Prediksi Skor Al Fayha vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: Ivan Toney Siap Menggila di Al Majma’ah
Prediksi Skor Parma vs Torino: Kans Il Toro Tundukkan Tuan Rumah di Stadio Ennio Tardini!
Prediksi Tottenham vs Coventry: Spurs Belum Menang dalam Enam Laga, Coventry Percaya Diri
Prediksi Skor Monza vs Cagliari: Rossoblù Menang Tipis, Rekor Berusia 61 Tahun Terancam Pecah!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022