seseorang yang terlalu perfeksionis kepada anaknya. (Magnific)
Keinginan tersebut pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Masalah dapat muncul ketika keinginan agar anak "melakukan yang terbaik" berubah menjadi tuntutan agar anak selalu sempurna.
Orang tua yang perfeksionis mungkin tidak selalu menyadari bahwa dirinya sedang menekan anak. Kadang tekanan tersebut muncul dalam bentuk yang terlihat sederhana: memperbaiki gambar anak, mengkritik hasil tugas, membandingkan nilai, meminta tulisan lebih rapi, mempertanyakan mengapa hasilnya tidak seperti contoh, atau menunjukkan kekecewaan ketika anak melakukan kesalahan.
Dalam jangka pendek, perilaku seperti ini mungkin tampak seperti bentuk perhatian dan pendidikan. Namun, jika terjadi terus-menerus, anak dapat belajar bahwa kesalahan adalah sesuatu yang memalukan dan bahwa hasil yang "cukup baik" tidak pernah cukup.
Padahal, kreativitas membutuhkan sesuatu yang justru berlawanan dengan ketakutan tersebut: kebebasan untuk mencoba, membuat kesalahan, mengeksplorasi kemungkinan, dan menghasilkan sesuatu yang belum tentu sempurna.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua tidak secara otomatis buruk bagi kreativitas. Meta-analisis terhadap 30 studi dengan lebih dari 20.000 peserta menemukan bahwa keterlibatan orang tua secara umum berkorelasi positif meskipun kecil dengan kreativitas. Namun, bentuk keterlibatan sangat penting: dukungan terhadap otonomi anak berkaitan positif dengan kreativitas, sementara kontrol psikologis berkaitan negatif dengan kreativitas.
Lalu, mengapa perfeksionisme orang tua dapat menjadi masalah?
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (17/10), terdapat tujuh alasannya.
1. Anak Menjadi Takut Melakukan Kesalahan
Kreativitas hampir selalu melibatkan kesalahan.
Anak yang sedang menggambar mungkin membuat garis yang menurut orang dewasa "salah". Anak yang sedang menulis cerita mungkin menghasilkan alur yang tidak masuk akal. Anak yang sedang bermain balok mungkin membangun sesuatu yang kemudian roboh.
Namun, dari proses tersebut justru terjadi pembelajaran.
Anak belajar:
"Kalau cara ini tidak berhasil, saya bisa mencoba cara lain."
Inilah salah satu fondasi kreativitas.
Masalah muncul ketika orang tua terlalu cepat mengoreksi atau menunjukkan ketidakpuasan.
"Kenapa warnanya begitu?"
"Harusnya seperti ini."
"Kok tidak bisa mengikuti contoh?"
"Sudah dibilang, jangan salah."
Lama-kelamaan anak dapat mengembangkan keyakinan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari.
Akibatnya, sebelum mencoba sesuatu yang baru, anak mulai berpikir:
"Bagaimana kalau salah?"
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi dapat menghambat eksplorasi.
Kreativitas membutuhkan kemampuan untuk menghasilkan banyak kemungkinan. Jika anak hanya berani memilih jawaban yang menurutnya paling aman, ruang kreativitas menjadi semakin sempit.
Bahkan dalam konteks perfeksionisme, penelitian menunjukkan bahwa dimensi perfeksionisme orang tua yang berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kesalahan dan evaluasi negatif berhubungan dengan distress pada anak. Sebuah meta-analisis terhadap 14 studi menemukan hubungan positif antara perfectionistic concerns orang tua dan distress anak.
Artinya, masalahnya bukan sekadar "orang tua memiliki standar tinggi".
Masalahnya adalah ketika standar tersebut membuat anak merasa:
"Saya tidak boleh gagal."
Padahal, kreativitas sering kali lahir dari keberanian untuk gagal berkali-kali.
2. Anak Lebih Memilih Jawaban yang Aman daripada Ide yang Unik
Anak yang sering dikoreksi dapat belajar membaca reaksi orang tua.
Misalnya, seorang anak menunjukkan gambar rumah kepada ibunya.
Anak berkata:
"Bu, aku gambar rumah yang bisa terbang."
Jika orang tua menjawab:
"Rumah kok terbang? Rumah ya harus di tanah."
Anak mendapatkan sebuah pesan tidak langsung:
Ide yang berbeda belum tentu diterima.
Jika pengalaman tersebut terjadi berulang kali, anak dapat mulai memilih ide yang lebih konvensional.
Ketika diminta menggambar rumah, ia menggambar rumah seperti yang biasa dilihat.
Ketika diminta membuat cerita, ia mengikuti contoh.
Ketika ditanya pendapatnya, ia memberikan jawaban yang menurutnya paling disukai orang dewasa.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan meningkatnya orientasi pada evaluasi eksternal.
Anak tidak lagi terutama bertanya:
"Menurut saya, apa yang menarik?"
Melainkan:
"Jawaban apa yang akan membuat orang tua saya puas?"
Padahal, kreativitas membutuhkan divergent thinking, yaitu kemampuan melihat sebuah persoalan dari berbagai kemungkinan dan menghasilkan lebih dari satu ide.
Penelitian mengenai pola asuh menunjukkan bahwa dukungan terhadap otonomi dapat membantu kreativitas, sementara kontrol psikologis cenderung menghambatnya. Dalam sebuah studi longitudinal terhadap remaja, dukungan otonomi orang tua berhubungan dengan kreativitas melalui peningkatan motivasi otonom.
Dengan kata lain, anak membutuhkan ruang untuk memiliki ide sendiri.
Bukan berarti orang tua harus menerima semua perilaku anak tanpa batas.
Orang tua tetap dapat memberikan aturan dan batasan.
Tetapi dalam wilayah seperti menggambar, bermain, menulis cerita, membuat proyek, memecahkan masalah, atau mencari cara baru, anak perlu memiliki ruang untuk mengatakan:
"Saya ingin mencoba dengan cara saya."
3. Perfeksionisme Dapat Mengubah Motivasi dari "Ingin Mencoba" Menjadi "Harus Membuktikan Diri"
Anak yang kreatif biasanya memiliki rasa ingin tahu.
Ia melakukan sesuatu karena ingin mengetahui hasilnya.
"Kalau saya mencampur warna ini, jadi apa?"
"Kalau baloknya disusun seperti ini, apakah bisa berdiri?"
"Kalau ceritanya dibuat berbeda, bagaimana?"
Motivasi semacam ini disebut motivasi intrinsik.
Namun, tuntutan perfeksionistik dapat menggeser orientasi anak.
Anak mulai melakukan sesuatu bukan karena tertarik, tetapi karena ingin mendapatkan persetujuan.
"Saya harus mendapat nilai tinggi."
"Saya harus menjadi yang terbaik."
"Saya tidak boleh kalah."
"Saya harus membuat orang tua bangga."
Sekilas, anak seperti ini terlihat sangat ambisius.
Namun, ada perbedaan penting antara berusaha mencapai sesuatu dan merasa bahwa harga diri bergantung pada pencapaian tersebut.
Ketika pencapaian menjadi ukuran utama nilai diri, kreativitas dapat terganggu.
Sebab, anak cenderung memilih aktivitas yang memberikan peluang keberhasilan paling besar.
Ia mungkin tidak mau mencoba teknik baru karena teknik tersebut berisiko menghasilkan karya yang buruk.
Ia mungkin tidak mau menjawab pertanyaan dengan cara berbeda karena takut salah.
Ia mungkin berhenti menulis cerita karena merasa ceritanya tidak cukup bagus.
Dengan demikian, semakin besar kebutuhan anak untuk membuktikan bahwa dirinya "sempurna", semakin besar kemungkinan ia menghindari eksperimen yang penuh ketidakpastian.
4. Anak Dapat Mengembangkan "Suara Kritik" di Dalam Kepalanya
Tidak semua kontrol orang tua harus dilakukan melalui bentakan.
Kadang-kadang suara orang tua akhirnya menjadi suara di dalam kepala anak.
Awalnya orang tua berkata:
"Jangan salah."
"Harus lebih bagus."
"Kurang rapi."
"Temanmu bisa, kenapa kamu tidak?"
Lama-kelamaan anak dapat mengucapkan kalimat tersebut kepada dirinya sendiri.
Ketika menggambar:
"Ini jelek."
Ketika menulis:
"Ini tidak cukup bagus."
Ketika mendapat nilai 85:
"Seharusnya 100."
Ketika melakukan kesalahan kecil:
"Aku bodoh."
Inilah salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perfeksionisme: standar tinggi dapat berubah menjadi self-criticism yang berlebihan.
Penelitian mengenai hubungan orang tua dan perfeksionisme menunjukkan bahwa ekspektasi orang tua memiliki hubungan dengan berbagai bentuk perfeksionisme anak, sementara kritik orang tua secara khusus berkaitan dengan socially prescribed perfectionism—perasaan bahwa seseorang harus memenuhi standar yang ditetapkan orang lain.
Jika anak merasa bahwa dirinya terus-menerus dinilai, kreativitas menjadi aktivitas yang berisiko.
Sebab setiap ide harus melewati sensor internal:
"Bagus tidak?"
"Benar tidak?"
"Akan dikritik tidak?"
"Orang tua akan suka tidak?"
Sensor semacam itu dapat membuat proses berpikir menjadi terlalu kaku.
Anak bukan lagi bebas menghasilkan ide.
Ia terus-menerus menjadi "juri" bagi dirinya sendiri.
5. Anak Kehilangan Keberanian untuk Mengambil Risiko Kreatif
Kreativitas membutuhkan keberanian mengambil risiko.
Bukan risiko yang berbahaya, tetapi risiko intelektual dan emosional.
Berani mencoba sesuatu yang belum pernah dicoba.
Berani membuat karya yang berbeda.
Berani memberikan jawaban yang tidak biasa.
Berani mengubah cara menyelesaikan masalah.
Berani mengatakan:
"Menurut saya, ada cara lain."
Anak yang takut dinilai mungkin memilih jalan paling aman.
Misalnya, guru memberikan tugas:
"Gunakan imajinasi kalian dan buat sebuah cerita."
Anak yang memiliki ruang psikologis yang aman mungkin membuat cerita tentang robot yang tinggal di bulan.
Sementara anak yang terbiasa mengejar kesempurnaan mungkin berpikir:
"Cerita seperti apa yang paling bagus?"
"Apa yang biasanya disukai guru?"
"Bagaimana supaya tidak salah?"
Pada titik tertentu, kreativitas berubah menjadi pencarian jawaban yang "benar".
Padahal, kreativitas sering kali justru muncul ketika belum ada jawaban yang jelas.
Sebuah artikel psikologi tentang perfeksionisme dan kreativitas anak juga menyoroti bahwa ketakutan terhadap kegagalan dapat membuat anak menahan diri dari risiko yang sebenarnya diperlukan untuk menghasilkan karya kreatif.
Jadi, anak kreatif tidak membutuhkan orang tua yang terus-menerus berkata:
"Pastikan hasilnya bagus."
Mereka lebih membutuhkan pesan:
"Coba dulu. Kita lihat apa yang terjadi."
6. Anak Bisa Menganggap Cinta dan Penerimaan Bergantung pada Prestasi
Ini merupakan salah satu risiko yang lebih serius.
Seorang anak seharusnya memiliki pengalaman emosional bahwa:
"Saya dicintai karena saya adalah saya, bukan karena nilai saya."
Namun, jika pujian, perhatian, dan kebanggaan orang tua hampir selalu diberikan ketika anak berhasil, sementara kesalahan mendapatkan kritik atau kekecewaan, anak dapat menyimpulkan bahwa penerimaan orang tua bergantung pada pencapaian.
Misalnya:
Ketika mendapat nilai 100:
"Hebat! Mama bangga."
Ketika mendapat nilai 75:
"Kok cuma 75? Kamu kurang belajar, ya?"
Pesannya mungkin tidak pernah diucapkan secara eksplisit.
Tetapi anak bisa menerjemahkannya menjadi:
"Kalau saya berprestasi, saya berharga."
"Kalau saya gagal, saya mengecewakan."
Pola seperti ini dapat membuat pencapaian menjadi sumber validasi diri.
Dalam penelitian tentang perfeksionisme, dimensi yang berkaitan dengan kekhawatiran terhadap evaluasi dan kegagalan memiliki konsekuensi psikologis yang berbeda dari sekadar memiliki standar tinggi. Meta-analisis mengenai perfeksionisme orang tua menunjukkan bahwa perfectionistic concerns lebih konsisten berkaitan dengan distress anak dibandingkan sekadar perfectionistic strivings.
Perbedaan ini penting.
Tidak semua ambisi adalah masalah.
Orang tua boleh mengajarkan anak untuk bekerja keras.
Boleh mengajarkan disiplin.
Boleh mendorong anak memperbaiki kesalahan.
Yang perlu dihindari adalah membuat anak merasa bahwa kasih sayang, penghargaan, atau harga dirinya bergantung pada keberhasilan.
Kreativitas berkembang lebih baik ketika anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
7. Anak Bisa Mewarisi Perfeksionisme Orang Tua
Anak tidak hanya belajar dari nasihat.
Anak juga belajar dari pengamatan.
Orang tua mungkin berkata:
"Jangan terlalu memikirkan kesalahan."
Namun, di sisi lain, anak melihat orang tuanya sangat keras terhadap dirinya sendiri.
Ketika melakukan kesalahan kecil, orang tua berkata:
"Aduh, saya memang tidak becus."
Ketika pekerjaan tidak sempurna:
"Saya harus mengulang semuanya."
Ketika hasilnya tidak sesuai harapan:
"Ini gagal."
Anak belajar bahwa kesalahan adalah sesuatu yang harus dipermalukan.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara perfeksionisme orang tua dan perfeksionisme anak. Sebuah studi pada orang tua dan anak menemukan hubungan pada berbagai dimensi perfeksionisme, yang mendukung kemungkinan adanya transmisi melalui pembelajaran sosial.
Dengan kata lain, anak mungkin tidak perlu diberi ceramah tentang kesempurnaan.
Mereka cukup melihat bagaimana orang tua memperlakukan dirinya sendiri.
Jika orang tua terus menunjukkan:
"Harus sempurna."
"Jangan salah."
"Kesalahan tidak bisa ditoleransi."
anak dapat belajar pola tersebut dan menerapkannya pada dirinya sendiri.
Sebaliknya, ketika orang tua dapat mengatakan:
"Ini belum berhasil, tapi tidak apa-apa. Kita coba lagi."
anak mendapatkan model psikologis yang berbeda.
Ia belajar bahwa kegagalan bukan identitas.
Kegagalan adalah informasi.
Dan informasi dapat digunakan untuk mencoba strategi baru.
Jadi, Apakah Orang Tua Tidak Boleh Memiliki Standar Tinggi?
Tentu saja boleh.
Ini bagian yang sangat penting.
Artikel ini bukan berarti orang tua harus membiarkan anak melakukan apa saja atau tidak boleh memiliki ekspektasi.
Psikologi justru membedakan antara standar tinggi yang sehat dan perfeksionisme yang maladaptif.
Orang tua dapat mengatakan:
"Kamu sudah berusaha. Menurutmu, bagian mana yang masih bisa diperbaiki?"
daripada:
"Ini masih jelek."
Orang tua dapat mengatakan:
"Kalau kamu mau, kita cari cara lain."
daripada:
"Kok kamu selalu salah?"
Orang tua dapat mengatakan:
"Apa alasan kamu memilih cara itu?"
daripada:
"Ikuti saja cara yang benar."
Perbedaannya terlihat kecil.
Namun secara psikologis, pesan yang diterima anak sangat berbeda.
Yang pertama memberikan dukungan terhadap proses, otonomi, dan pembelajaran.
Yang kedua lebih mudah menciptakan ketakutan terhadap evaluasi.
Scoping review terbaru mengenai pola asuh dan kreativitas juga menemukan bahwa pola asuh yang mendukung otonomi, kepercayaan, dan dukungan sosial secara konsisten dikaitkan dengan kreativitas yang lebih baik, sedangkan pola asuh yang mengontrol cenderung berkaitan dengan kreativitas yang lebih rendah.
Bagaimana Cara Mengubah Perfeksionisme Menjadi Dukungan yang Lebih Sehat?
Orang tua tidak perlu berhenti memiliki harapan.
Yang perlu diubah adalah cara menyampaikan harapan tersebut.
1. Puji proses, bukan hanya hasil
Alih-alih:
"Hebat, nilaimu 100."
Coba:
"Kamu kelihatan benar-benar berusaha memahami materi ini."
Anak belajar bahwa usaha dan proses juga bernilai.
2. Normalisasi kesalahan
Katakan:
"Bagian ini belum berhasil. Menurutmu, apa yang bisa kita coba berikutnya?"
Anak belajar melihat kesalahan sebagai informasi.
3. Berikan pilihan
Misalnya:
"Kamu mau mengerjakan tugas ini sekarang atau setelah makan?"
Atau:
"Kamu mau menggambar dengan pensil warna atau cat?"
Pilihan sederhana memberikan pengalaman bahwa anak memiliki kendali.
4. Jangan langsung memperbaiki karya anak
Jika anak menunjukkan gambar yang tidak sesuai ekspektasi, tahan keinginan untuk memperbaikinya.
Tanyakan:
"Ceritakan tentang gambarmu."
Pertanyaan tersebut jauh lebih membuka ruang kreativitas daripada:
"Kenapa rumahnya tidak kamu buat seperti ini?"
5. Jangan menjadikan anak sebagai proyek pembuktian orang tua
Anak bukan trofi.
Nilai, piala, ranking, dan prestasi memang boleh dirayakan.
Tetapi semuanya bukan ukuran nilai seorang anak.
6. Tunjukkan bahwa orang tua juga boleh salah
Ketika orang tua melakukan kesalahan, tidak perlu selalu menyembunyikannya.
Katakan:
"Tadi Mama salah. Mama coba lagi, ya."
Anak belajar bahwa menjadi manusia berarti tidak selalu sempurna.
7. Berikan ruang untuk bermain tanpa tujuan
Tidak semua aktivitas anak harus produktif.
Tidak semua gambar harus bagus.
Tidak semua permainan harus menghasilkan keterampilan.
Terkadang anak perlu bermain hanya karena menyenangkan.
Justru dalam ruang seperti inilah imajinasi dapat berkembang.
Kesimpulan
Perfeksionisme orang tua tidak selalu terlihat seperti tekanan.
Kadang ia hadir sebagai perhatian.
Kadang sebagai nasihat.
Kadang sebagai keinginan agar anak memiliki masa depan yang lebih baik.
Namun, ketika standar tinggi berubah menjadi kritik terus-menerus, ketakutan terhadap kesalahan, perbandingan, kontrol psikologis, atau keyakinan bahwa anak harus selalu unggul, dampaknya dapat berbeda.
Kreativitas membutuhkan ruang.
Ruang untuk bertanya.
Ruang untuk salah.
Ruang untuk mencoba.
Ruang untuk menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada.
Ruang untuk mengatakan, "Saya punya cara sendiri."
Penelitian mengenai hubungan orang tua dan kreativitas menunjukkan bahwa bukan sekadar seberapa besar orang tua terlibat, melainkan bagaimana orang tua terlibat yang penting. Dukungan otonomi cenderung berkaitan dengan kreativitas yang lebih baik, sementara kontrol psikologis memiliki hubungan negatif dengan kreativitas.
Karena itu, tujuan pengasuhan bukan menciptakan anak yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Tujuannya adalah membantu anak menjadi seseorang yang berani mencoba meskipun mungkin salah.
Bukan anak yang selalu menghasilkan sesuatu dengan sempurna.
Tetapi anak yang berani bertanya:
"Bagaimana kalau saya mencoba cara yang berbeda?"
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022