Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Oktober 2026 | 06.23 WIB

Komisi Lancet Peringatkan Perang Nuklir dan Penyalahgunaan AI Bisa Memusnahkan Manusia pada 2100

Aksi demonstrasi aktivis lingkungan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB (The Guardian) - Image

Aksi demonstrasi aktivis lingkungan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB (The Guardian)

JawaPos.com - Perang nuklir dan penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) berpotensi memusnahkan umat manusia sebelum akhir abad ini. Peringatan tersebut tercantum dalam penilaian terbaru Komisi Lancet tentang Ancaman Global terhadap Kesehatan Abad ke-21, yang mengidentifikasi 17 ancaman besar bagi kesehatan manusia selama 75 tahun mendatang. 

Melansir The Guardian, Senin (12/10/2026), penyalahgunaan AI, termasuk untuk mengembangkan senjata biologis, serta konflik nuklir yang memicu kelaparan global menjadi dua ancaman paling ekstrem. Perang nuklir dapat menyebarkan partikel ke atmosfer atas sehingga menghalangi sinar matahari dan merusak produksi pangan. 

Sementara itu, AI yang disalahgunakan dapat membantu menciptakan senjata biologis dengan konsekuensi mematikan. Editorial The Lancet memperingatkan bahwa jika ancaman tersebut menjadi kenyataan, "skala kerusakan yang ditimbulkan akan membawa umat manusia menuju kiamat."

Selain kedua risiko tersebut, komisi mengidentifikasi 15 ancaman lain yang berpotensi menyebabkan hilangnya lebih dari satu miliar tahun kehidupan sehat secara kumulatif. Ancaman itu mencakup polusi udara, resistansi antimikroba atau kemampuan mikroorganisme bertahan terhadap obat, malnutrisi anak, krisis iklim, konflik bersenjata konvensional, serta penurunan bantuan luar negeri. 

Untuk mengukur dampaknya, para ahli menggunakan disability-adjusted life years (DALYs), yakni ukuran tahun kehidupan sehat yang hilang akibat penyakit, disabilitas, atau kematian dini. Pemodelan tersebut membandingkan kemungkinan dampak berdasarkan tren saat ini dan skenario terbaik maupun terburuk. Komisi juga menegaskan bahwa ancaman harus memiliki potensi dampak besar sekaligus peluang penanganan agar masuk dalam daftar prioritas.

"Keputusan yang dibuat para pemimpin hari ini akan membentuk kesehatan dan kesejahteraan generasi berikutnya," kata Christopher Murray, salah satu ketua komisi sekaligus direktur Institute for Health Metrics and Evaluation di Universitas Washington. Dia menegaskan bahwa seluruh ancaman saling berinteraksi sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan secara terpisah.

Dampak krisis iklim menjadi salah satu contoh besarnya ruang intervensi kebijakan. Menurut laporan tersebut, pembatasan pemanasan global hingga sekitar 1,8 derajat Celsius, dibandingkan skenario kenaikan 4,4 derajat Celsius, berpotensi mencegah hilangnya 1,89 miliar tahun kehidupan sehat.

Sementara itu, pola ancaman berbeda menurut wilayah: penyakit tidak menular, seperti obesitas dan gangguan kesehatan mental, lebih dominan di kawasan berpendapatan tinggi, sedangkan rendahnya pendidikan menjadi salah satu pendorong utama hilangnya kesehatan di kawasan berpendapatan rendah.

Pemotongan bantuan internasional turut memperbesar risiko. Sejumlah negara donor utama, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, mengumumkan pengurangan anggaran bantuan selama setahun terakhir.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore