Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Juni 2023 | 06.12 WIB

Dibantu WhatsApp, Pelaku UMKM Bagikan Kisah Susahnya Merintis Usaha Kecil

Bu Rudy, sosok perempuan pegiat UMKM asal Madiun yang terkenal dengan sambalnya. (RianAlfianto/JawaPos.com).

JawaPos.com - Memeriahkan Hari UMKM Internasional yang biasa diperingati setiap tanggal 27 Juni, WhatsApp melalui layanan WhatsApp Business-nya kembali mengumumkan terobosan terbarunya. WhatsApp Business mengumumkan kemampuan baru yang memungkinkan lebih dari 200 juta pengguna aplikasi jntuk membuat iklan Facebook dan Instagram dengan sangat mudah.
 
Iklan tersebut kemudian akan mengarahkan pengguna atau pelanggan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ke WhatsApp tanpa memerlukan akun Facebook. WhatsApp juga mengumumkan cara baru untuk terhubung dengan pelanggan secara lebih efisien.
 
Mulai saat ini, berbagai bisnis kecil di seluruh dunia yang menjalankan seluruh operasinya di WhatsApp akan dapat membuat, membeli, dan menayangkan iklan Facebook atau Instagram secara langsung di dalam aplikasi WhatsApp Business. 
 
 
Artinya, Anda tidak perlu memiliki akun Facebook yang dibutuhkan bisnis untuk memulai hanyalah alamat email dan bentuk pembayaran. Ketika seseorang mengeklik iklan, iklan tersebut akan membuka chat di WhatsApp sehingga mereka dapat mengajukan pertanyaan, menelusuri produk, dan melakukan pembelian.
 
Iklan ini diklaim merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mendorong calon pelanggan mengirim pesan kepada mereka di WhatsApp dan cara ini akan membuka peluang baru bagi bisnis kecil yang hanya menggunakan WhatsApp dan membutuhkan cara yang lebih sederhana untuk mulai beriklan.
 
Kemudahan fitur baru yang dikenalkan WhatsApp turut diapresiasi oleh para pelaku UMKM yang hadir melalui acara WhatsApp MSME Summits di Jakarta, Selasa (27/6) di Jakarta. Salah satu yang hadir di acara tersebut yakni Lanny Siswadi, pemilik Sambal Bu Rudy yang terkenal sebagai sambal siap santap dari Surabaya.
 
 
"Di saat teknologi berkembang pesat, seorang pemilik bisnis harus bisa beradaptasi. Semua pelanggan kami ada di WhatsApp, jadi penting bagi kami sebagai bisnis untuk turut menggunakan WhatsApp agar terhubung dengan supplier dan pelanggan,” ujar pemilik Sambal Bu Rudy dan makanan ringan populer yang didirikan pada tahun 1995.
 
Dalam kesempatan tersebut, perempuan kelahiran Madiun 1953 tersebut mengawali bisnisnya dari sebuah mobil pikap di Surabaya. Lanny menjajakan nasi campur dan nasi pecel khas kota kelahirannya.
 
Sebelum terkenal dengan sambalnya, dia sesungguhnya merupakan pengusaha sepatu. Dia membuka usaha berjualan sepatu di Pasar Turi, Surabaya lantaran sebelumnya pernah bekerja di pabrik alas kaki. Usahanya ini kandas karena terkena dampak kebakaran di pasar tersebut pada 2007 dan akhirnya merintis usaha sambal Bu Rudy yang terkenal seperti sekarang ini.
 
 
"Waktu itu saya putar otak, gimana caranya supaya tetap bisa dapat duit. Saya ini nggak sekolah, nggak sepintar ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian. Usia saya sekarang sudah 70 tahun, tapi saya tetap harus belajar, gimana caranya supaya bisa pakai WhatsApp ini," lanjutnya dengan tutur Jawa yang medok.
 
Ketika hendak memasang iklan di media massa dan menyebar pamflet selebaran, dirinya dimarahi oleh anak-anaknya. "Mah, mamah iki kuno. Wis bukan zamane. Saiki wis serba digital. Dari sana saya diajari WhatsApp dan terus belajar sampai hari ini, termasuk karyawan-karyawan saya ya yang ngajarin saya," katanya disambut gelak tawa hadirin.
 
Kisah lainnya datang dari Fahmi Faisal, Co-Founder dan CMO, Hijack Sandals. Diketahui, merek tersebut merupakan produsen alas kaki asal Bandung, Jawa Barat. Sama seperti Sambal Bu Rudy, tanpa platform digital seperti WhatsApp, usaha kecilnya dikatakan tidak akan bisa berkembang seperti sekarang ini.
 
 
“Sejak awal kami online di tahun 2014, kami telah menggunakan WhatsApp sebagai platform utama. Kami percaya dengan komunikasi yang baik, konsumen akan selalu merasa dekat dengan kami," ungkap Faisal.
 
Dilanjutkannya, Hijack Sandals kemudian menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi, menjaga hubungan pelanggan dan menghasilkan pendapatan. "Sampai hari ini saya juga masih suka menjawab sendiri pertanyaan dan keluhan konsumen lewat WhatsApp," terang Faisal yang merintis usaha alas kaki yang populer sejak 2010 lalu ini.
 
Pihak Meta selaku pemilik WhatsApp sendiri di Indonesia juga memastikan bakal merilis fitur lainnya dalam waktu dekat. Manajer Kebijakan Publik Whatsapp Indonesia, Esther Samboh menyampaikan, ketika bisnis kecil menemukan pelanggan baru, mereka harus memiliki alat yang dapat membantunya terhubung dengan pelanggan secara cepat dan mudah dalam skala besar. 
 
 
"Mulai saat ini, kami akan mulai melakukan uji coba fitur baru dalam aplikasi WhatsApp Business, di mana bisnis kecil akan memiliki opsi untuk mengirim pesan yang dipersonalisasi kepada pelanggan mereka seperti pengingat janji temu, ucapan selamat ulang tahun, atau bahkan informasi tentang diskon musim liburan dengan cara yang lebih cepat dan efisien," beber Esther.
 
Dari pada harus mengirimkan pesan yang sama secara manual ke beberapa pelanggan, fitur baru ini akan memberikan kemampuan kepada bisnis untuk mengirimkan pesan pribadi berisi nama pelanggan dan tombol ajakan bertindak yang dapat disesuaikan ke daftar pelanggan tertentu.
 
"Seperti mereka yang memiliki label khusus (misalnya, "pelanggan VIP" atau "pelanggan baru"), menjadwalkan hari dan waktu pengiriman pesan, dan kemudian melihat efektivitasnya. Kami akan menawarkan jenis pesan opsional tingkat lanjut ini secara berbayar di aplikasi WhatsApp Business. Detail selengkapnya akan kami bagikan dalam waktu dekat," pungkas Esther.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore