
FAHRUL MUZAQQI
KEGADUHAN ruang publik virtual sekembalinya Rizieq Syihab di tanah air belakangan ini harus diakui turut mewarnai corak demokrasi kita. Menguatnya fenomena populisme Islam baru (new Islamic populism) di satu sisi berseiring dengan lemahnya oposisi di tataran formal (parlemen), di sisi lain memunculkan satu pertanyaan reflektif. Adakah dua kutub yang berjarak secara politis ini menandakan potensi pelemahan kualitas berdemokrasi kita?
Meminjam pandangan Vedi R. Hadiz dalam Islamic Populism in Indonesia and the Middle East (2016: 27), kaum populisme Islam baru ini menggunakan konsepsi ’’umat’’ sebagai respons terhadap situasi sosial tertentu yang muncul dari marginalisasi atau pengucilan sosial. Mereka menggalang aliansi populis yang lazim dari kalangan kelas menengah perkotaan, kaum borjuasi, dan kaum miskin kota.
Sementara itu, agenda legislasi di parlemen dalam beberapa bulan terakhir seperti revisi UU KPK dan omnibus law yang menuai banyak protes dari elemen masyarakat sipil tak bisa dimungkiri telah memurungkan suasana psikologis rakyat. Khususnya menyangkut iktikad dan inisiatif politik dari para elite.
Manipulasi Dengungan
Fenomena demokrasi di era digital ternyata memiliki efek samping berupa maraknya pemburu keuntungan. Yakni, para pembawa pengaruh (influencer) maupun pendengung (buzzer). Dalam praktiknya, mereka ini menjadi penabuh gendang bagi para tokoh besar untuk menciptakan dengungan yang lebih keras. Tokoh besar itu pun tak jarang merupakan influencer.
Kepentingannya adalah monetisasi, yakni konversi kuantitas klik pada akun tertentu menjadi uang maupun viralisasi percapakan berdasar pesanan isu tertentu. Sebagian tokoh memanfaatkan secara sadar kolaborasi tersebut. Namun, sebagian yang lain terkadang tidak sadar bahwa ia sedang ditabuhi.
Lantas, apa masalahnya dengan monetisasi dan isu pesanan? Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Namun, akan menjadi problem serius bagi demokrasi manakala kuantitas penonton (viewers) dan pelanggan (subscribers) yang besar justru berbanding terbalik dengan kualitas etika dan estetika berdemokrasi. Apabila demikian yang terjadi, prinsip kebebasan berdemokrasi, sebagaimana sering dijadikan sebagai alasan bagi seseorang untuk menciptakan kebisingan, agaknya kurang bisa diharapkan dalam rangka mengupayakan keadilan dan kesejahteraan.
Kebebasan, bagi sebagian yang hanya memanfaatkan tanpa beriktikad untuk mempertanggungjawabkannya, cenderung hanya mengarah pada kesewenang-wenangan. Apalagi di era ketika slogan-slogan bercorak primordial (agama dan ras) diteriakkan dengan ekspresi kemarahan berbalut klaim atas nama Tuhan, agama, rakyat, atau bahkan kebebasan itu sendiri. Dalam konteks demikian, para demagog atau penghasut mendapatkan angin segar.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
