
Photo
TIDAK ada sesuatu yang tetap di dunia ini, yang tetap adalah perubahannya. Kalimat filosofis itu sepertinya sangat cocok diterapkan pada teknologi informasi (TI). Perkembangan pesat di bidang TI benar-benar telah membawa perubahan besar pada hampir semua sendi kehidupan. Internet of things begitu menggejala. Transformasi menuju kehidupan digital agaknya tak terelakkan lagi. Digitalisasi sudah menjadi sebuah keharusan, alih-alih sebatas opsi.
Sektor keuangan pun tidak luput dari dahsyatnya tsunami teknologi. Industri keuangan, terlebih lagi sektor perbankan, mau tidak mau harus bermetamorfosis dari pola kerja tradisional menuju neobank. Istilah ”neobank” muncul pada diskusi virtual The Chief Economist Forum pertengahan November lalu. Neobank merupakan pengejawantahan bisnis bank yang beroperasi digital secara penuh tanpa kantor cabang dengan berbasis aplikasi dan teknologi.
Lewat platform digital, neobank menjalankan bisnis perbankan seperti menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan kredit kepada pihak ketiga. Neobank bahkan mampu menjalankan fungsi intermediasi keuangan tanpa perlu membuat nasabah hadir fisik di daerah operasinya.
Popularitas neobank kian meningkat seiring meluasnya pagebluk Covid-19. Kekhawatiran penularan Covid-19 lewat kontak fisik langsung dari tangan ke tangan di kantor cabang bank tradisional memaksa masyarakat untuk beralih ke penggunaan transaksi perbankan lewat fasilitas yang dipasok neobank.
Fasilitas neobank secara parsial sejatinya sudah ditawarkan oleh teknologi finansial (financial technology/fintech). Saat ini baru ada dua jenis bisnis yang digarap teknologi finansial, yakni pembiayaan peer-to-peer dan bisnis transaksi pembayaran nontunai. Meski sama-sama beroperasi berbasis digital, bisnis neobank dalam arti yang sesungguhnya belum dikerjakan teknologi finansial.
Demikian pula, beberapa bank tradisional sudah mulai mampu mengeluarkan produk neobank. Mereka bahkan khusus membuat sebuah anak usaha bank digital. Hanya, operasinya, lagi-lagi, masih sangat terbatas sehingga belum menjangkau visi besar yang termaktub pada neobank yang menyediakan semua jenis layanan di bidang keuangan.
Adopsi model bisnis neobank bagi bank tradisional, fintech, dan bank digital niscaya dapat menekan biaya operasional. Metode neobank yang memanfaatkan aplikasi digital jauh lebih efisien, mengurangi human error dan risiko-risiko teknis lain pada umumnya. Dengan demikian, platform neobank lebih menguntungkan investor dan manajemen.
Alhasil, prospek tumbuhnya neobank di Indonesia cukup menjanjikan. Namun, probabilitas menjadi neobank tampaknya lebih besar dimiliki perbankan tradisional daripada teknologi finansial untuk tidak menyebut tertutup sama sekali. Perbankan tradisional lebih unggul untuk bisa menjadi neobank dalam format yang seutuhnya.
Pertama, bank tradisional sudah memiliki nama baik (goodwill) yang kukuh. Bagaimanapun, bank adalah bisnis kepercayaan dan kepercayaan menuntut adanya jaminan. Nama baik adalah kekayaan tak kelihatan (intangible asset) yang menjadi jaminan berharga dalam membangun neobank.
Kedua, bank tradisional telah memiliki bangunan ekosistem digital yang sudah dirintis sebelumnya. Bank-bank besar dalam beberapa tahun terakhir ini sudah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk belanja teknologi. Dengan demikian, manuver untuk menuju neobank tampaknya hanya tinggal menunggu waktu.
Ketiga, potensi neobank tumbuh subur di tanah air masih sangat besar. Hal tersebut bisa dilihat dari inklusi keuangan yang belum optimal, yakni 76 persen, literasi keuangan digital 35,5 persen, dan pengguna internet yang mencapai 196 juta orang. Perilaku masyarakat dalam menggunakan produk digital juga makin tinggi setiap tahunnya.
Dengan peta semacam ini, pemunculan neobank niscaya menjadi tantangan tersendiri bagi OJK. Fungsi regulasi, pengawasan, dan perlindungan yang diemban OJK harus memperhatikan kesamaan playing field bagi semua pelaku pasar finansial di Indonesia.
Dalam spektrum yang lebih panjang, perkembangan teknologi keuangan menjadi sebuah keniscayaan. Tren ini berpotensi memunculkan aneka versi neobank di masa mendatang dengan berbagai variasinya. Lagi-lagi, playing field terasa akan makin sempit jika tidak ada rambu-rambu regulasi yang mengendalikan kerumunannya.
Sikap proaktif dan antisipatif OJK akan menjamin regulasi yang dikeluarkannya, pun senantiasa relevan dengan perkembangan teknologi. Karena itu, premis klise bahwa regulasi selalu ketinggalan dengan dinamika perkembangan zaman akan terpatahkan oleh komprehensivitas regulasi terkait dengan neobank.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
