Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 02.07 WIB

7 Perilaku Umum Orang Tua yang Dapat Merusak Kepercayaan Diri Anak Menurut Psikologi

seseorang yang merusak kepercayaan diri anaknya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Kepercayaan diri anak tidak muncul begitu saja. Ia berkembang sedikit demi sedikit melalui pengalaman sehari-hari: bagaimana orang tua berbicara kepada anak, bagaimana kesalahan diperlakukan, bagaimana keberhasilan dihargai, dan apakah anak merasa dirinya diterima meskipun belum sempurna.


Rumah seharusnya menjadi tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar bahwa dirinya berharga. Namun, tanpa disadari, beberapa pola pengasuhan yang dianggap "biasa" justru dapat membuat anak meragukan kemampuan, nilai, dan dirinya sendiri.

Yang menarik, perilaku tersebut tidak selalu dilakukan oleh orang tua yang berniat menyakiti anak. Ada orang tua yang melakukannya karena ingin anak disiplin. Ada yang takut anak menjadi manja. Ada pula yang mengira kritik keras akan membuat anak lebih kuat dan sukses.

Masalahnya, cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dapat memberikan pesan psikologis yang berbeda kepada anak.

Anak mungkin tidak mendengar, "Ayah dan Ibu ingin kamu berkembang."

Sebaliknya, yang tertanam dalam pikirannya bisa menjadi:

"Aku tidak cukup baik."

"Aku selalu salah."

"Aku harus sempurna agar disukai."

"Pendapatku tidak penting."

"Aku tidak bisa melakukan apa pun dengan benar."

Jika pola tersebut berlangsung bertahun-tahun, ia dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri bahkan ketika sudah dewasa.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (8/10), terdapat tujuh perilaku umum orang tua yang dapat merusak kepercayaan diri anak.

1. Terlalu Sering Membandingkan Anak dengan Orang Lain

"Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?"

"Lihat anak tetangga, nilainya bagus."

"Temanmu saja bisa, masa kamu tidak?"

"Adikmu lebih rajin daripada kamu."

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Bahkan sebagian orang tua menggunakannya dengan harapan anak menjadi termotivasi.

Namun, bagi anak, perbandingan yang terus-menerus dapat menyampaikan pesan bahwa dirinya tidak cukup baik sebagai dirinya sendiri.

Dalam psikologi, cara seseorang menilai dirinya sangat dipengaruhi oleh pengalaman sosial dan umpan balik dari orang-orang yang dianggap penting. Pada masa kanak-kanak, orang tua adalah salah satu sumber umpan balik yang paling kuat.

Jika seorang anak berulang kali mendengar bahwa orang lain lebih pintar, lebih rajin, lebih cantik, lebih sukses, atau lebih berbakat, ia dapat mulai membangun kesimpulan internal:

"Nilai diriku tergantung pada apakah aku lebih baik daripada orang lain."

Akibatnya, anak tidak hanya belajar berusaha. Ia juga dapat belajar bahwa hidup adalah kompetisi yang menentukan apakah dirinya layak dihargai.

Dampaknya bisa muncul dalam dua bentuk

Sebagian anak menjadi sangat kompetitif. Mereka merasa harus selalu menang agar merasa berharga.

Sebagian lainnya justru menyerah.

Mereka berpikir:

"Percuma mencoba. Aku memang tidak sebagus mereka."

Anak yang sering dibandingkan juga dapat mengalami kesulitan menikmati keberhasilan. Bahkan ketika mendapatkan nilai bagus, ia mungkin langsung bertanya:

"Tapi apakah aku lebih bagus daripada dia?"

Artinya, standar keberhasilan tidak lagi berasal dari perkembangan dirinya sendiri, melainkan dari posisi dirinya dibandingkan orang lain.

Apa yang lebih sehat?

Alih-alih mengatakan:

"Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?"

orang tua dapat mengatakan:

"Kemarin kamu masih kesulitan mengerjakan ini. Sekarang sudah ada kemajuan. Bagian mana yang menurutmu paling sulit?"

Fokusnya berpindah dari perbandingan sosial menuju perkembangan pribadi.

Anak belajar bahwa tujuan utama bukan menjadi lebih baik daripada orang lain, melainkan menjadi lebih berkembang dibandingkan dirinya sendiri sebelumnya.

2. Memberikan Kritik yang Menyerang Pribadi, Bukan Perilaku

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

"Kamu lupa mengerjakan tugas."

dan:

"Kamu memang pemalas."

Yang pertama mengkritik perilaku tertentu.

Yang kedua memberikan label kepada identitas anak.

Perbedaan ini sangat penting.

Anak masih berada dalam proses membangun konsep tentang siapa dirinya. Ketika orang tua berulang kali menggunakan label seperti "malas", "bodoh", "ceroboh", "nakal", "lemah", atau "tidak berguna", anak dapat mulai menginternalisasi label tersebut.

Lambat laun, perilaku berubah menjadi identitas.

Bukan lagi:

"Aku melakukan kesalahan."

Tetapi:

"Aku memang anak yang selalu melakukan kesalahan."

Inilah salah satu alasan mengapa kritik yang terus-menerus dapat menjadi sangat merusak.

Kesalahan sebenarnya merupakan bagian normal dari proses belajar. Anak perlu mengetahui bahwa dirinya dapat melakukan sesuatu yang salah tanpa berarti dirinya adalah orang yang buruk.

Kritik yang sehat tetap tegas

Bukan berarti orang tua tidak boleh mengoreksi anak.

Justru anak membutuhkan batasan.

Namun, koreksi sebaiknya diarahkan pada tindakan:

"Kamu memukul adik. Memukul tidak boleh. Kalau kamu marah, katakan bahwa kamu sedang marah."

Bukan:

"Kamu memang anak nakal."

Pesan psikologisnya sangat berbeda.

Pada kalimat pertama, anak memahami:

"Perilakuku perlu diperbaiki."

Pada kalimat kedua, anak dapat menangkap:

"Diriku adalah masalah."

Anak perlu memahami bahwa kesalahan bisa diperbaiki

Salah satu fondasi kepercayaan diri yang sehat adalah keyakinan bahwa seseorang mampu belajar.

Karena itu, orang tua dapat membantu anak memisahkan tiga hal:

Aku melakukan kesalahan.

Kesalahan itu punya konsekuensi.

Tetapi aku masih bisa memperbaikinya.

Pesan seperti ini membuat anak lebih mampu menghadapi kegagalan tanpa langsung menganggap dirinya tidak berharga.

3. Menuntut Kesempurnaan dan Membuat Cinta Terasa Bersyarat

"Kalau nilaimu bagus, baru Ayah bangga."

"Jangan bikin malu."

"Kamu harus jadi yang terbaik."

"Kamu sudah belajar selama itu, kok hasilnya cuma segini?"

Bagi sebagian anak, rumah perlahan menjadi tempat di mana mereka merasa harus "berprestasi" agar mendapatkan penerimaan.

Mereka belajar bahwa kasih sayang dan kebanggaan orang tua terasa sangat kuat ketika mereka berhasil, tetapi menjadi dingin ketika mereka gagal.

Dalam jangka panjang, anak dapat mengembangkan keyakinan:

"Aku berharga kalau aku berhasil."

Ini dapat menjadi dasar dari perfeksionisme yang tidak sehat.

Anak mungkin tumbuh menjadi pribadi yang rajin dan berprestasi. Dari luar, ia bahkan terlihat sangat percaya diri.

Namun, di dalam dirinya terdapat ketakutan besar terhadap kegagalan.

Ia takut salah.

Takut mengecewakan orang lain.

Takut terlihat bodoh.

Takut mencoba sesuatu yang belum dikuasai.

Karena kegagalan bukan lagi sekadar kegagalan. Kegagalan terasa seperti ancaman terhadap harga dirinya.

Perfeksionisme tidak selalu terlihat seperti ambisi

Anak yang takut gagal kadang justru menghindari tugas.

Mengapa?

Karena jika tidak mencoba, ia tidak perlu menghadapi kemungkinan bahwa dirinya tidak sempurna.

Misalnya, seorang anak sebenarnya ingin mengikuti lomba menggambar. Namun, ia berkata:

"Aku tidak mau ikut. Gambaranku jelek."

Sekilas tampak seperti kurang percaya diri.

Padahal mungkin ada ketakutan yang lebih dalam:

"Kalau aku ikut dan kalah, berarti aku memang tidak cukup bagus."

Orang tua dapat mengubah pesan tersebut

Daripada hanya memuji hasil:

"Wah, kamu juara satu!"

orang tua dapat juga menghargai proses:

"Kamu benar-benar berlatih untuk lomba ini. Bagian mana yang paling sulit?"

Dengan begitu, anak belajar bahwa usaha, ketekunan, pembelajaran, dan keberanian mencoba juga memiliki nilai.

Anak tidak harus menjadi nomor satu untuk merasa berharga.

4. Terlalu Mengontrol dan Tidak Memberi Kesempatan Anak Mengambil Keputusan

"Jangan begitu, lakukan seperti ini."

"Biar Ibu saja."

"Kamu pasti salah kalau memilih sendiri."

"Sudah, Ayah yang urus."

"Jangan coba-coba, nanti gagal."

Niatnya mungkin melindungi.

Orang tua tentu memiliki lebih banyak pengalaman daripada anak. Mereka ingin mencegah kesalahan, kekecewaan, atau bahaya.

Namun, jika semua keputusan selalu diambilkan untuk anak, anak kehilangan kesempatan penting untuk membangun keyakinan:

"Aku mampu."

Kepercayaan diri tidak hanya dibangun melalui pujian.

Ia juga dibangun melalui pengalaman menguasai sesuatu.

Anak perlu mengalami proses:

mencoba → menghadapi kesulitan → mencari cara → berhasil atau gagal → belajar → mencoba lagi.

Jika orang tua selalu mengambil alih sebelum anak sempat mencoba, proses tersebut terputus.

Anak akhirnya bisa meragukan kemampuannya

Misalnya seorang anak ingin mengikat tali sepatunya sendiri.

Orang tua melihat ia kesulitan.

Karena terburu-buru, orang tua langsung berkata:

"Sini, biar Ibu saja."

Sekali atau dua kali tentu bukan masalah.

Tetapi jika pola ini terjadi terus-menerus, anak dapat belajar:

"Aku tidak bisa melakukan sesuatu sendiri."

Ketika semakin besar, pola tersebut dapat terlihat dalam bentuk ketergantungan, takut mengambil keputusan, atau terlalu sering mencari kepastian dari orang lain.

Memberikan pilihan kecil adalah latihan kepercayaan diri

Orang tua tidak perlu langsung memberikan kebebasan besar.

Pilihan sederhana sudah cukup:

"Kamu mau mengerjakan PR sebelum makan atau setelah makan?"

"Kamu mau memakai baju biru atau putih?"

"Menurutmu, bagaimana cara menyelesaikan masalah ini?"

Dengan memberikan ruang untuk mengambil keputusan yang sesuai usia, orang tua menyampaikan pesan:

"Pendapatmu penting."

"Kamu boleh mencoba."

"Kamu mampu belajar mengambil keputusan."

5. Mengabaikan atau Meremehkan Perasaan Anak

"Ah, begitu saja menangis."

"Jangan cengeng."

"Kamu terlalu sensitif."

"Itu bukan masalah besar."

"Sudahlah, jangan dipikirkan."

Orang tua mungkin mengatakan hal tersebut dengan tujuan membuat anak cepat tenang.

Namun, ada perbedaan antara membantu anak mengelola emosi dan membuat anak merasa emosinya tidak valid.

Anak belum memiliki kemampuan emosional seperti orang dewasa. Sesuatu yang tampak kecil bagi orang tua dapat terasa sangat besar bagi anak.

Ketika anak menangis karena kehilangan mainan kesayangannya, misalnya, orang tua mungkin berpikir:

"Itu cuma mainan."

Tetapi bagi anak, mainan tersebut mungkin memiliki nilai emosional yang besar.

Jika perasaannya terus-menerus diremehkan, anak dapat mulai belajar untuk tidak mempercayai emosinya sendiri.

Ia merasa:

"Mungkin aku memang berlebihan."

"Mungkin perasaanku salah."

"Lebih baik aku diam."

Dampaknya terhadap kepercayaan diri

Kepercayaan diri bukan hanya kemampuan berbicara di depan umum atau berani tampil.

Kepercayaan diri juga mencakup kemampuan mengatakan:

"Aku merasa tidak nyaman."

"Aku tidak setuju."

"Aku membutuhkan bantuan."

"Aku kecewa."

"Aku tidak suka diperlakukan seperti itu."

Anak yang sejak kecil belajar bahwa emosinya selalu dianggap berlebihan dapat kesulitan mengungkapkan kebutuhan ketika dewasa.

Validasi bukan berarti selalu membenarkan

Ini poin yang sangat penting.

Memvalidasi perasaan anak tidak berarti orang tua harus menyetujui semua perilakunya.

Misalnya:

"Ibu tahu kamu marah karena harus berhenti bermain. Kamu boleh marah. Tapi kamu tidak boleh memukul."

Di sini orang tua mengakui emosi, sekaligus tetap memberikan batasan terhadap perilaku.

Anak belajar:

Perasaanku boleh ada.

Tetapi aku tetap bertanggung jawab atas tindakanku.

Itulah dasar regulasi emosi yang sehat.

6. Sering Mempermalukan Anak, Terutama di Depan Orang Lain

"Anak saya memang bodoh kalau soal matematika."

"Dia dari dulu memang susah diatur."

"Jangan tanya dia, dia tidak pernah tahu."

"Kamu ini bikin malu saja."

Sebagian orang tua menganggap mempermalukan anak dapat membuat anak jera.

Namun, rasa malu yang terus-menerus dapat menjadi pengalaman yang sangat kuat.

Ada perbedaan antara rasa bersalah dan rasa malu.

Rasa bersalah berkaitan dengan:

"Aku melakukan sesuatu yang salah."

Sedangkan rasa malu lebih dekat dengan:

"Ada yang salah dengan diriku."

Rasa bersalah masih dapat mendorong perbaikan perilaku.

Tetapi rasa malu yang kronis dapat menyerang identitas.

Ketika orang tua mempermalukan anak di depan saudara, teman, guru, atau keluarga besar, anak tidak hanya menghadapi masalah yang sedang terjadi.

Ia juga menghadapi ancaman terhadap harga dirinya di hadapan orang lain.

Anak dapat menjadi sangat takut terhadap penilaian sosial

Anak mungkin mulai menghindari:

berbicara di depan orang,
menjawab pertanyaan,
mencoba hal baru,
mengemukakan pendapat,
bertemu orang tertentu,
atau menunjukkan hasil karyanya.

Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan.

Melainkan karena ia takut dipermalukan lagi.

Ironisnya, orang tua mungkin berpikir:

"Saya mempermalukan dia supaya dia belajar."

Namun yang dipelajari anak bisa jadi:

"Lebih aman kalau aku tidak terlihat."

Teguran sebaiknya menjaga martabat anak

Jika anak melakukan kesalahan, koreksi secara pribadi bila memungkinkan.

Alih-alih:

"Lihat semua orang! Anak ini memang tidak pernah mendengarkan."

lebih baik:

"Kita bicarakan ini nanti. Sekarang bantu Ibu membereskan akibat dari tindakanmu."

Anak tetap belajar bertanggung jawab tanpa harus kehilangan harga diri.

7. Tidak Konsisten: Kadang Sangat Keras, Kadang Sangat Permisif

Ini adalah pola yang sering tidak disadari.

Hari ini orang tua melarang sesuatu dengan sangat keras.

Besok, karena sedang lelah atau sibuk, aturan tersebut dibiarkan.

Suatu hari kesalahan kecil mendapat hukuman besar.

Di hari lain, kesalahan yang sama bahkan tidak dibahas.

Anak akhirnya tidak tahu apa yang sebenarnya diharapkan dari dirinya.

Ketidakkonsistenan seperti ini dapat membuat anak terlalu fokus membaca suasana hati orang tua.

"Ayah sedang marah atau tidak?"

"Sekarang boleh atau tidak?"

"Kalau aku mengatakan ini, Ibu akan marah?"

Dalam jangka panjang, anak dapat menjadi terlalu berhati-hati dalam berperilaku karena merasa lingkungan emosionalnya sulit diprediksi.

Kepercayaan diri membutuhkan rasa aman

Anak lebih mudah mengembangkan kepercayaan diri ketika ia memiliki gambaran yang cukup jelas tentang batasan dan konsekuensi.

Bukan berarti orang tua harus sempurna.

Orang tua juga bisa lelah, salah, atau berubah pikiran.

Yang penting adalah adanya pola yang relatif konsisten dan dapat dipahami.

Misalnya:

"Aturan di rumah adalah setelah bermain, mainan harus dirapikan. Kalau belum dirapikan, besok waktu bermain akan berkurang."

Konsekuensi seperti ini lebih mudah dipahami dibandingkan hukuman yang berubah-ubah sesuai emosi orang tua.

Orang tua juga boleh meminta maaf

Ini justru bisa menjadi pelajaran penting.

Misalnya orang tua menyadari bahwa dirinya tadi berteriak terlalu keras:

"Tadi Ayah marah dan berteriak. Ayah seharusnya bicara lebih tenang. Kesalahanmu tetap perlu diperbaiki, tetapi cara Ayah menyampaikannya tadi tidak tepat."

Permintaan maaf tidak membuat orang tua kehilangan wibawa.

Sebaliknya, anak belajar bahwa orang dewasa pun dapat melakukan kesalahan dan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Membentuk Kepercayaan Diri Anak?

Kepercayaan diri bukan sekadar mengatakan kepada anak:

"Kamu hebat!"

Pujian memang bisa membantu, tetapi fondasinya jauh lebih dalam.

Anak membutuhkan pengalaman berulang bahwa:

"Aku dicintai bahkan ketika aku gagal."

"Aku boleh melakukan kesalahan dan belajar darinya."

"Pendapatku didengar."

"Perasaanku tidak harus disembunyikan."

"Aku diberi kesempatan mencoba."

"Aku tidak harus sempurna untuk tetap berharga."

"Orang tuaku dapat memberikan batasan tanpa merendahkan diriku."

Inilah yang membantu anak membangun rasa aman dan keyakinan terhadap dirinya sendiri.

Bukan Tentang Menjadi Orang Tua yang Sempurna

Ada satu hal penting yang sering dilupakan ketika membahas pola pengasuhan.

Tidak ada orang tua yang selalu melakukan semuanya dengan benar.

Orang tua bisa kehilangan kesabaran.

Bisa mengatakan sesuatu yang disesali.

Bisa terlalu mengontrol.

Bisa membandingkan anak.

Bisa salah memahami perasaan anak.

Satu kejadian tidak otomatis menentukan masa depan psikologis seorang anak.

Yang lebih penting adalah pola yang berulang dan bagaimana orang tua memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahan.

Dalam psikologi perkembangan, hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana konflik dapat diperbaiki.

Jika orang tua menyadari bahwa dirinya terlalu keras, perubahan masih sangat mungkin dilakukan.

Orang tua dapat mulai dengan langkah sederhana:

Dengarkan lebih banyak.

Kurangi label.

Berhenti membandingkan.

Berikan kesempatan anak mencoba.

Validasi perasaan tanpa membenarkan perilaku yang salah.

Puji proses, bukan hanya hasil.

Akui kesalahan ketika memang salah.

Dan yang paling penting, berikan anak pengalaman bahwa rumah bukan tempat di mana ia harus membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.

Rumah adalah tempat di mana ia dapat belajar, gagal, mencoba lagi, dan tetap merasa dirinya berharga.

Penutup

Anak tidak dilahirkan dengan keyakinan bahwa dirinya pintar atau bodoh, berharga atau tidak berharga, mampu atau tidak mampu.

Sebagian dari keyakinan tersebut dibentuk melalui interaksi yang terjadi setiap hari.

Kalimat yang bagi orang tua terasa sepele bisa menjadi suara yang terus hidup di kepala anak selama bertahun-tahun.

"Kenapa kamu tidak seperti dia?"

"Kamu memang malas."

"Jangan bikin malu."

"Kamu terlalu sensitif."

"Biar Ibu saja."

Kalimat-kalimat tersebut mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan.

Namun, jika terus berulang, anak dapat menggunakannya untuk membangun cerita tentang dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang tua juga memiliki kesempatan untuk membangun cerita yang berbeda:

"Aku boleh belajar."

"Aku boleh gagal."

"Aku boleh berbeda."

"Aku bisa memperbaiki kesalahan."

"Pendapatku penting."

"Aku tidak harus sempurna untuk dicintai."

Pada akhirnya, membangun kepercayaan diri anak bukan berarti membuat anak percaya bahwa dirinya selalu benar atau selalu hebat.

Kepercayaan diri yang sehat adalah ketika seorang anak mampu berkata:

"Aku tahu aku punya kekurangan. Aku tahu aku bisa gagal. Tetapi aku tetap percaya bahwa aku mampu belajar, bertumbuh, dan menghadapi tantangan."

Dan salah satu tempat pertama anak belajar keyakinan tersebut adalah dari cara orang tuanya memperlakukan dirinya setiap hari.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore