Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 September 2026 | 18.18 WIB

6 Perilaku yang Perlu Dilakukan agar Pasangan Tak Meninggalkanmu Menurut Psikologi

seseorang yang dekat dengan pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam hubungan romantis, salah satu ketakutan yang paling sering muncul adalah kehilangan pasangan. Ketika seseorang sudah merasa sangat sayang, membayangkan hubungan berakhir bisa terasa menakutkan. Akibatnya, tidak sedikit orang yang kemudian berusaha keras mempertahankan hubungan dengan berbagai cara: menjadi terlalu posesif, selalu mengalah, terus-menerus meminta kepastian, atau bahkan mengorbankan dirinya sendiri.


Padahal, hubungan yang sehat bukan dibangun dengan cara membuat seseorang merasa tidak bisa pergi. Hubungan yang sehat tumbuh ketika dua orang merasa dihargai, didengarkan, aman, dan memiliki alasan yang sehat untuk tetap bersama.

Karena itu, jika kamu ingin mengurangi kemungkinan hubunganmu rusak atau pasangan semakin menjauh, perhatian utamanya bukan pada bagaimana “mengikat” pasangan, melainkan pada bagaimana kamu hadir sebagai pasangan yang mampu menciptakan hubungan yang sehat.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kualitas interaksi sehari-hari memiliki peran penting dalam kepuasan dan keberlangsungan hubungan. Hal-hal yang terlihat sederhana—seperti cara berbicara ketika terjadi konflik, memberikan perhatian, menghargai pasangan, dan menjaga kepercayaan—dapat memberikan pengaruh besar terhadap suasana hubungan dalam jangka panjang.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (25/9), terdapat enam perilaku yang bisa mulai kamu lakukan.

1. Berhenti Menganggap Pasangan Akan Selalu Memahami Perasaanmu

Salah satu kesalahan yang cukup umum dalam hubungan adalah mengharapkan pasangan bisa memahami apa yang kita rasakan tanpa perlu menjelaskannya.

Kamu mungkin berpikir, “Kalau dia benar-benar mencintaiku, seharusnya dia tahu aku sedang kecewa.”

Masalahnya, pasangan bukan pembaca pikiran.

Dua orang yang menjalani hubungan tetap memiliki pengalaman, pola pikir, dan cara menafsirkan situasi yang berbeda. Sesuatu yang menurutmu sangat jelas bisa saja tidak terlihat penting bagi pasanganmu.

Daripada memberikan kode, mendiamkan pasangan, atau berharap dia menebak penyebab perubahan suasana hatimu, cobalah membicarakannya secara langsung.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Terserah kamu.”

Kamu bisa mengatakan:

“Aku sebenarnya merasa kecewa ketika kamu membatalkan rencana kita tanpa membicarakannya terlebih dahulu. Aku ingin kita bisa membicarakan perubahan rencana dengan lebih baik.”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.

Komunikasi seperti ini memberi pasangan informasi yang jelas mengenai apa yang terjadi tanpa memaksanya menebak-nebak.

Ketika kebutuhan emosional disampaikan secara jelas, konflik juga memiliki peluang lebih besar untuk berubah menjadi percakapan yang produktif.

Namun, komunikasi terbuka bukan berarti kamu harus menceritakan setiap emosi dengan cara yang meledak-ledak. Justru, semakin mampu seseorang mengenali emosinya sendiri, semakin mudah pula ia menjelaskan apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Jadi, mulai sekarang, sebelum menuntut pasangan memahami dirimu, tanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri:

“Apakah aku sudah menjelaskan apa yang sebenarnya kurasakan?”

Jika belum, mungkin masalahnya bukan pasanganmu tidak peduli. Bisa jadi pesan yang kamu sampaikan memang belum cukup jelas.

2. Belajar Menghargai Hal-Hal Kecil yang Dilakukan Pasangan

Hubungan jangka panjang sering kali menghadapi satu masalah yang tidak selalu disadari: seseorang mulai terbiasa dengan kebaikan pasangannya.

Pada awal hubungan, pesan sederhana seperti “sudah makan?” bisa terasa begitu manis.

Ketika hubungan sudah berlangsung bertahun-tahun, perhatian yang sama mungkin dianggap biasa.

Pasangan memasak untukmu.

Pasangan mengingat jadwal pentingmu.

Pasangan mengantarmu ketika kamu membutuhkan bantuan.

Pasangan tetap mendengarkan cerita yang sama.

Lama-kelamaan semua itu terasa seperti kewajiban.

Padahal, ketika usaha pasangan terus-menerus tidak mendapatkan penghargaan, hubungan dapat kehilangan salah satu sumber kehangatan emosionalnya.

Menghargai pasangan tidak harus selalu dilakukan dengan hadiah mahal atau kejutan besar.

Kadang-kadang cukup dengan mengatakan:

“Terima kasih sudah melakukan itu untukku.”

Atau:

“Aku menghargai kamu sudah meluangkan waktu hari ini.”

Kalimat sederhana tersebut menunjukkan bahwa kamu menyadari usaha pasangan.

Dalam hubungan, apresiasi juga bukan berarti memuji secara berlebihan. Yang penting adalah tulus dan spesifik.

Daripada hanya berkata:

“Kamu baik.”

Cobalah mengatakan:

“Aku suka caramu tetap mendengarkan ketika aku sedang banyak pikiran. Aku merasa dihargai ketika berbicara denganmu.”

Pujian yang spesifik membuat pasangan mengetahui perilaku apa yang sebenarnya kamu hargai.

Dan yang tidak kalah penting, jangan hanya menunjukkan apresiasi ketika kamu takut kehilangan pasangan.

Jadikan penghargaan sebagai kebiasaan sehari-hari.

Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang menyelesaikan masalah ketika sesuatu sudah rusak. Hubungan juga perlu dirawat ketika semuanya sedang baik-baik saja.

3. Jangan Menggunakan Diam, Ancaman, atau Kecemburuan untuk Mengendalikan Pasangan

Ketika seseorang takut ditinggalkan, ia mungkin melakukan sesuatu yang justru membuat pasangan semakin menjauh.

Misalnya, sengaja membuat pasangan cemburu.

Tidak membalas pesan agar pasangan merasa khawatir.

Mengancam putus ketika sedang bertengkar.

Mengatakan, “Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti melakukan ini.”

Atau menggunakan kalimat seperti:

“Kalau kamu pergi, berarti kamu tidak pernah mencintaiku.”

Perilaku seperti ini mungkin memberikan rasa aman sementara karena pasangan akhirnya memberikan perhatian atau kepastian.

Namun, jika terus dilakukan, pola tersebut dapat merusak kepercayaan.

Hubungan membutuhkan ruang bagi kedua orang untuk menyampaikan kebutuhan tanpa merasa dikendalikan.

Cemburu juga merupakan emosi yang manusiawi. Masalahnya bukan sekadar apakah seseorang pernah merasa cemburu, melainkan bagaimana ia merespons perasaan tersebut.

Ketika kamu merasa cemburu, daripada langsung menuduh, cobalah mengidentifikasi sumbernya.

Apakah kamu benar-benar melihat perilaku pasangan yang melanggar kesepakatan hubungan?

Atau sebenarnya kamu sedang merasa tidak aman terhadap dirimu sendiri?

Dua situasi tersebut membutuhkan respons yang berbeda.

Jika memang ada perilaku yang melanggar batas hubungan, bicarakan secara terbuka.

Namun jika kecemasan terutama berasal dari ketakutan kehilangan, kamu juga perlu belajar menenangkan diri tanpa menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber rasa aman.

Ironisnya, hubungan justru bisa menjadi lebih kuat ketika kedua orang di dalamnya merasa bebas untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus diawasi.

4. Belajar Bertengkar Tanpa Merendahkan Pasangan

Tidak ada hubungan yang bebas dari konflik.

Bahkan pasangan yang sangat mencintai satu sama lain tetap bisa berbeda pendapat.

Yang membedakan hubungan yang sehat dengan hubungan yang semakin rapuh bukan selalu ada atau tidaknya konflik, tetapi bagaimana konflik tersebut ditangani.

Ketika emosi meningkat, seseorang bisa mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak akan ia katakan dalam kondisi tenang.

“Dasar egois.”

“Kamu memang tidak pernah bisa dipercaya.”

“Bodoh sekali sih kamu.”

“Kamu selalu seperti ini.”

Kalimat seperti itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama.

Karena itu, ketika konflik terjadi, fokuslah pada masalahnya, bukan menyerang karakter pasangan.

Misalnya:

Kurang membantu:

“Kamu memang orang yang egois.”

Lebih konstruktif:

“Aku merasa kebutuhanku tidak dipertimbangkan ketika keputusan itu dibuat tanpa membicarakannya denganku.”

Perhatikan perbedaannya.

Kalimat pertama menyerang identitas seseorang.

Kalimat kedua menjelaskan perilaku dan dampaknya.

Selain itu, jika emosi sudah terlalu tinggi, mengambil jeda dapat menjadi pilihan yang lebih sehat daripada terus memaksakan percakapan.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakannya dengan baik. Aku ingin menenangkan diri dulu, lalu kita lanjutkan pembicaraan ini.”

Namun, jeda berbeda dengan silent treatment.

Jeda berarti kamu mengambil waktu untuk mengatur emosi dan memiliki niat untuk kembali membicarakan masalah.

Silent treatment digunakan untuk menghukum atau mengendalikan pasangan.

Keduanya terlihat mirip dari luar, tetapi tujuannya berbeda.

Jadi, jika kamu ingin mempertahankan hubungan, belajar bertengkar dengan cara yang tidak menghancurkan rasa hormat adalah keterampilan yang sangat penting.

5. Jangan Kehilangan Dirimu Sendiri Hanya Demi Mempertahankan Hubungan

Ada paradoks dalam hubungan romantis.

Semakin takut seseorang kehilangan pasangan, semakin besar kemungkinan ia melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan pasangan.

Ia mulai meninggalkan teman-temannya.

Mengabaikan hobinya.

Mengorbankan waktu pribadi.

Mengikuti semua keinginan pasangan.

Bahkan mengabaikan batas-batas yang sebenarnya penting bagi dirinya.

Pada awalnya, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti bentuk pengorbanan dan cinta.

Tetapi hubungan yang sehat tidak mengharuskan seseorang kehilangan identitasnya.

Kamu tetap membutuhkan kehidupan pribadi.

Tetap memiliki teman.

Tetap memiliki aktivitas yang kamu sukai.

Tetap memiliki tujuan.

Tetap mempunyai batasan.

Tetap mampu menikmati waktu sendirian.

Ini bukan berarti kamu tidak membutuhkan pasangan.

Sebaliknya, hubungan yang sehat biasanya terdiri dari dua individu yang mampu saling terhubung tanpa kehilangan seluruh kehidupan pribadinya.

Bayangkan dua lingkaran.

Bukan satu lingkaran yang sepenuhnya menelan lingkaran lainnya.

Ada bagian yang bertemu dan menjadi kehidupan bersama, tetapi masing-masing tetap memiliki ruang sebagai individu.

Karena itu, jika akhir-akhir ini seluruh kebahagiaanmu bergantung pada pasangan, mungkin sudah waktunya membangun kembali kehidupanmu sendiri.

Bukan supaya pasangan takut kehilanganmu.

Tetapi supaya kamu tidak kehilangan dirimu sendiri ketika mencintai seseorang.

6. Tunjukkan Kepada Pasangan Bahwa Kamu Aman untuk Diajak Bertumbuh

Salah satu hal yang membuat hubungan terasa nyaman adalah adanya rasa bahwa pasangan bisa menjadi tempat untuk berbicara tanpa selalu takut dihakimi.

Coba bayangkan kamu melakukan kesalahan.

Kamu kemudian memberitahukannya kepada pasangan.

Respons pertama pasangan bisa berupa:

“Aku sudah bilang dari dulu kamu seperti itu.”

Atau:

“Makanya jangan melakukan hal bodoh.”

Respons seperti ini mungkin membuat seseorang berpikir dua kali sebelum kembali bercerita.

Sebaliknya, respons seperti:

“Aku bisa mengerti kenapa kamu mengambil keputusan itu. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan supaya ke depannya tidak terjadi lagi?”

menciptakan suasana yang berbeda.

Tentu saja, menjadi pasangan yang aman bukan berarti membenarkan semua perilaku pasangan.

Jika pasangan melakukan sesuatu yang salah, kamu tetap boleh menyampaikan keberatan.

Namun, ada perbedaan antara mengkritik perilaku dan merendahkan seseorang.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku tidak setuju dengan keputusanmu.”

tanpa mengatakan:

“Kamu memang selalu membuat masalah.”

Ketika seseorang merasa aman untuk mengakui kesalahan, meminta bantuan, dan membicarakan kekhawatirannya, hubungan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang.

Hubungan yang sehat bukan tempat dua orang berpura-pura sempurna.

Justru, hubungan yang sehat memberi ruang bagi dua orang untuk mengakui kekurangan dan memperbaikinya bersama.

Pada Akhirnya, Kamu Tidak Bisa Memaksa Seseorang untuk Tetap Tinggal

Ada satu hal penting yang perlu diingat.

Tidak ada enam perilaku, tujuh perilaku, atau seratus perilaku yang dapat memberikan jaminan bahwa seseorang tidak akan pernah meninggalkanmu.

Manusia memiliki kehendak bebas.

Pasanganmu tetap memiliki pilihan, kebutuhan, nilai, dan keputusan hidupnya sendiri.

Karena itu, tujuan dari menerapkan perilaku-perilaku di atas seharusnya bukan:

“Bagaimana caranya supaya dia tidak pernah meninggalkanku?”

Melainkan:

“Bagaimana caranya agar hubungan ini menjadi tempat yang sehat bagi kami berdua?”

Perbedaannya sangat besar.

Ketika kamu berusaha mengendalikan pasangan agar tidak pergi, kamu mungkin menjadi semakin cemas, posesif, dan kehilangan diri sendiri.

Namun ketika kamu berusaha membangun komunikasi yang sehat, memberikan apresiasi, menghormati batasan, menyelesaikan konflik dengan dewasa, mempertahankan kehidupan pribadi, dan menciptakan rasa aman, kamu sedang memberikan fondasi yang lebih sehat bagi hubungan.

Jika pasanganmu juga melakukan hal yang sama, hubungan tersebut memiliki dua orang yang sama-sama berusaha merawatnya.

Dan jika suatu hari hubungan tetap berakhir, itu tidak otomatis berarti semua usahamu sia-sia.

Setidaknya kamu telah belajar mencintai tanpa harus mengendalikan, berkomunikasi tanpa merendahkan, dan mempertahankan hubungan tanpa kehilangan dirimu sendiri.

Sebab hubungan yang sehat bukan tentang memastikan seseorang tidak pernah pergi.

Hubungan yang sehat adalah tentang menciptakan alasan yang baik bagi dua orang untuk terus memilih satu sama lain, secara sadar, bebas, dan tanpa paksaan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore