seseorang yang menjauhi pria baik-baik / foto: Magnific/thanyakij-12
Pria yang merasa dirinya “baik-baik” mungkin pernah mengalami situasi seperti ini. Ia hadir ketika dibutuhkan, memperlakukan seseorang dengan hormat, tidak suka bermain-main, memiliki niat serius, dan berusaha memberikan rasa aman. Namun, perempuan yang ia sukai justru memilih orang lain yang menurutnya kurang perhatian, lebih sulit ditebak, atau bahkan memiliki reputasi buruk dalam hubungan.
Fenomena seperti ini memang bisa terjadi. Tetapi ada satu hal penting yang perlu diluruskan sejak awal:
Psikologi tidak membuktikan bahwa perempuan pada umumnya selalu menjadikan “pria baik” sebagai pilihan terakhir.
Ketertarikan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar “perempuan suka pria nakal, sedangkan pria baik selalu kalah”. Banyak faktor yang memengaruhi pilihan pasangan: ketertarikan fisik, kepribadian, pengalaman masa lalu, nilai hidup, timing, kematangan emosional, kebutuhan akan kedekatan, lingkungan sosial, hingga apakah kedua orang tersebut memang memiliki kecocokan.
Lalu, mengapa seorang pria yang merasa dirinya baik tetap bisa tidak dipilih?
Dilansir dari Psychology Today pada MInggu (27/9), terdapat tujuh kemungkinan penjelasan yang menarik jika dilihat melalui perspektif psikologi hubungan.
1. “Baik” Tidak Selalu Sama dengan “Menarik”
Ini mungkin bagian yang paling sulit diterima.
Menjadi orang baik adalah kualitas yang positif. Namun, kebaikan saja tidak otomatis menciptakan ketertarikan romantis.
Seseorang bisa menghargai kita tanpa ingin menjalin hubungan dengan kita.
Misalnya, seorang pria selalu membantu perempuan yang disukainya. Ia cepat membalas pesan, bersedia mengantar ketika dibutuhkan, mendengarkan semua keluh kesah, dan selalu mengatakan bahwa ia akan ada kapan pun diperlukan.
Perempuan tersebut mungkin benar-benar menganggapnya sebagai orang yang baik.
Namun, rasa terima kasih tidak selalu berubah menjadi ketertarikan romantis.
Dalam hubungan romantis, seseorang biasanya mempertimbangkan banyak dimensi sekaligus: apakah ia tertarik secara fisik, nyaman secara emosional, menikmati percakapan, memiliki nilai yang cocok, merasakan chemistry, dan dapat membayangkan masa depan bersama.
Jadi, persoalannya bukan bahwa “kebaikan tidak dihargai”.
Persoalannya adalah bahwa kebaikan merupakan salah satu kualitas yang dapat dihargai, bukan tiket otomatis menuju hubungan romantis.
Ini juga berlaku sebaliknya. Seorang perempuan bisa sangat baik, perhatian, dan tulus, tetapi seorang pria belum tentu tertarik kepadanya secara romantis.
Dengan kata lain:
Menjadi pasangan yang baik dan menjadi orang yang membuat seseorang tertarik adalah dua hal yang berbeda.
Keduanya bisa berjalan bersama, tetapi tidak selalu.
2. Terlalu Cepat Memberikan Segalanya Bisa Mengurangi Ruang untuk Saling Mengenal
Ada perbedaan antara perhatian dan memberikan seluruh energi kepada seseorang sejak awal.
Pria yang sangat menyukai seseorang terkadang ingin menunjukkan keseriusannya secepat mungkin.
Ia selalu tersedia.
Selalu membalas pesan.
Selalu menawarkan bantuan.
Selalu mengalah.
Selalu memulai percakapan.
Bahkan ketika hubungan belum terbentuk, ia sudah memberikan perhatian seperti seseorang yang telah menjalani hubungan selama bertahun-tahun.
Niatnya mungkin tulus.
Namun, dari perspektif dinamika hubungan, pola tersebut dapat menciptakan ketidakseimbangan.
Hubungan biasanya berkembang melalui proses saling menemukan. Kedua orang secara perlahan mengetahui karakter, nilai, kebiasaan, batasan, dan kehidupan masing-masing.
Jika hanya satu orang yang terus mengejar, sementara orang lain hanya menerima, hubungan tersebut tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang secara timbal balik.
Masalahnya bukan karena pria tersebut “terlalu baik”.
Masalahnya bisa jadi karena ia terlalu cepat berinvestasi sebelum mengetahui apakah investasi tersebut memang dibalas.
Ada perbedaan besar antara:
“Saya senang melakukan sesuatu untukmu.”
dan
“Saya akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu.”
Yang kedua berpotensi membuat hubungan terasa seperti transaksi: saya memberikan perhatian, maka saya berharap mendapatkan cinta sebagai balasannya.
Padahal ketertarikan tidak bekerja seperti sistem poin.
Anda tidak mengumpulkan 100 poin dengan mengirim pesan setiap pagi, mengantar seseorang pulang, lalu secara otomatis mendapatkan hubungan.
3. “Pria Baik” Kadang Keliru Mengartikan Kebaikan sebagai Tidak Boleh Memiliki Batasan
Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang cukup penting.
Ada pria yang berpikir bahwa menjadi pria baik berarti:
tidak boleh menolak,
tidak boleh marah,
harus selalu tersedia,
harus selalu mengalah,
tidak boleh mengutarakan keinginan sendiri,
harus selalu menyenangkan pasangan,
dan harus menerima perlakuan apa pun.
Padahal kebaikan tidak sama dengan ketidakmampuan mengatakan “tidak”.
Seseorang yang sehat secara emosional tetap memiliki batasan.
Ia bisa mengatakan:
“Saya tidak bisa malam ini.”
Ia bisa berkata:
“Saya kurang nyaman dengan cara kamu memperlakukan saya.”
Ia juga bisa mengatakan:
“Saya ingin hubungan yang serius. Kalau kamu tidak menginginkan hal yang sama, mungkin kita tidak cocok.”
Pernyataan seperti itu bukan tanda seseorang menjadi kasar.
Justru, kemampuan mengomunikasikan batasan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.
Ketika seseorang selalu takut kehilangan orang yang disukai, ia mungkin mulai mengorbankan dirinya sendiri.
Ironisnya, semakin takut kehilangan, semakin besar kemungkinan ia kehilangan identitasnya sendiri.
Ia mulai berpikir:
“Apa yang harus saya lakukan supaya dia tidak pergi?”
Padahal pertanyaan yang lebih sehat adalah:
“Apakah kami memang cocok satu sama lain?”
Perubahan pertanyaan tersebut sangat penting.
Hubungan bukan hanya tentang bagaimana membuat seseorang memilih kita.
Hubungan juga tentang menentukan apakah kita dan orang tersebut memang saling cocok untuk memilih satu sama lain.
4. Ketidakpastian Kadang Disalahartikan sebagai “Chemistry”
Ini adalah fenomena psikologis yang menarik.
Bayangkan dua orang.
Orang pertama selalu jelas. Ia mengatakan apa yang ia rasakan, konsisten berkomunikasi, dan tidak membuat pasangannya menebak-nebak.
Orang kedua kadang sangat perhatian, kemudian menghilang. Hari ini sangat hangat, besok dingin. Kadang memberikan harapan, kadang menjauh.
Dalam situasi tertentu, ketidakpastian seperti ini justru dapat membuat seseorang terus memikirkan orang tersebut.
Bukan berarti perilaku tersebut otomatis membuat seseorang lebih menarik.
Tetapi ketidakpastian dapat membuat perhatian seseorang menjadi lebih terfokus.
Manusia cenderung memperhatikan sesuatu yang belum selesai, belum jelas, atau belum mendapatkan kepastian.
Itulah mengapa seseorang bisa berkata:
“Saya tidak tahu kenapa saya terus memikirkannya.”
Padahal yang membuat pikirannya terus kembali mungkin bukan semata-mata kualitas orang tersebut, tetapi ketidakpastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, fenomena ini tidak boleh disederhanakan menjadi:
“Perempuan suka pria yang mempermainkan mereka.”
Itu terlalu jauh.
Orang dari berbagai jenis kelamin dapat terjebak dalam pola hubungan yang tidak konsisten.
Selain itu, seseorang yang pernah mengalami hubungan yang penuh ketidakpastian mungkin kemudian justru belajar menghargai konsistensi dan keamanan.
Jadi, yang perlu dibedakan adalah ketertarikan sementara dengan kualitas hubungan jangka panjang.
Seseorang bisa merasa sangat tertarik kepada orang tertentu tetapi tetap menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat atau tidak cocok untuk kehidupan jangka panjang.
5. Pria yang Terlalu Berusaha Menyenangkan Bisa Terlihat Tidak Autentik
Ada perbedaan antara menyesuaikan diri dan kehilangan diri sendiri.
Menyesuaikan diri adalah sesuatu yang normal dalam hubungan.
Kita mungkin mencoba makanan yang disukai pasangan, mengikuti aktivitas yang ia sukai, atau mencari jalan tengah ketika memiliki perbedaan.
Namun, jika seseorang terus-menerus mengubah dirinya agar disukai, situasinya menjadi berbeda.
Contohnya:
Perempuan:
“Aku suka pria yang suka traveling.”
Pria:
“Aku juga suka traveling.”
Padahal sebenarnya tidak.
Perempuan:
“Aku suka pria yang tidak terlalu banyak bermain media sosial.”
Pria:
“Aku juga sebenarnya tidak suka.”
Padahal setiap malam ia menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.
Jika pola tersebut terus berlangsung, seseorang akhirnya bukan sedang menunjukkan dirinya.
Ia sedang memainkan karakter yang menurutnya akan disukai orang lain.
Dalam psikologi hubungan, autentisitas memiliki peran penting. Hubungan yang sehat membutuhkan dua orang yang benar-benar hadir sebagai dirinya sendiri.
Karena itu, seorang pria tidak perlu menciptakan persona “pria sempurna”.
Lebih sehat untuk mengatakan:
“Saya memang berbeda denganmu dalam hal ini, tetapi saya ingin memahami sudut pandangmu.”
Daripada:
“Saya akan menjadi apa pun yang kamu mau.”
Ironisnya, usaha untuk terlihat sempurna terkadang justru membuat hubungan terasa kurang alami.
6. Kadang Masalahnya Bukan pada “Pria Baik”, tetapi pada Ketidakcocokan
Ini adalah penjelasan yang sering terlupakan.
Ketika seseorang ditolak, otak manusia cenderung mencari penyebab yang sederhana.
Misalnya:
“Saya sudah baik. Kenapa dia memilih orang lain?”
Lalu muncul kesimpulan:
“Berarti perempuan suka pria yang buruk.”
Padahal ada kemungkinan yang jauh lebih sederhana:
Mereka memang tidak cocok.
Bayangkan seorang pria yang sangat tenang dan menyukai rutinitas bertemu dengan seorang perempuan yang sangat spontan dan suka mengambil risiko.
Keduanya sama-sama orang baik.
Namun, gaya hidup mereka mungkin berbeda.
Atau seseorang sangat ingin menikah dalam beberapa tahun, sementara orang yang disukainya belum ingin menikah.
Atau seseorang sangat membutuhkan komunikasi intensif, sementara pasangannya lebih mandiri.
Atau mereka memiliki tujuan hidup yang berbeda.
Tidak ada pihak yang harus menjadi “penjahat”.
Tidak ada pihak yang harus menjadi “orang baik”.
Mereka hanya berbeda.
Dalam konteks ini, penolakan tidak selalu merupakan penilaian terhadap nilai diri seseorang.
Tidak dipilih oleh satu orang bukan berarti Anda memiliki nilai yang lebih rendah daripada orang yang dipilih.
Pasangan yang tepat bukanlah orang yang dapat dipaksa untuk melihat nilai kita.
Pasangan yang cocok adalah orang yang memang menghargai nilai tersebut dan memiliki kebutuhan yang kompatibel dengan kita.
7. Label “Pria Baik” Kadang Menyembunyikan Harapan yang Tidak Diucapkan
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Ada perbedaan antara:
“Saya melakukan sesuatu karena saya memang ingin melakukannya.”
dan:
“Saya melakukan semua ini karena saya berharap suatu hari kamu akan memilih saya.”
Masalah muncul ketika harapan kedua tidak pernah dikomunikasikan.
Seorang pria mungkin menjadi teman yang sangat perhatian selama berbulan-bulan.
Ia mendengarkan semua cerita.
Membantu ketika ada masalah.
Selalu hadir.
Memberikan dukungan.
Namun di dalam dirinya terdapat ekspektasi:
“Setelah semua yang saya lakukan, seharusnya dia sadar bahwa saya adalah pilihan yang lebih baik.”
Ketika ternyata perempuan tersebut memilih orang lain, rasa kecewa bisa menjadi sangat besar.
Bahkan muncul perasaan:
“Setelah semua yang saya lakukan untuk dia?”
Di sinilah kita perlu memahami bahwa kebaikan bukan kontrak romantis.
Jika kita melakukan sesuatu dengan sukarela, kita tidak dapat memaksa orang lain memberikan perasaan sebagai imbalannya.
Dan jika kita sebenarnya menginginkan hubungan romantis, komunikasi yang jujur jauh lebih sehat daripada berharap seseorang membaca semua pengorbanan kita.
Daripada berbulan-bulan menjadi “teman sempurna” sambil diam-diam berharap dipilih, seseorang dapat mengatakan secara dewasa:
“Saya menikmati kedekatan kita dan saya tertarik mengenalmu secara romantis. Kalau kamu tidak merasakan hal yang sama, saya akan menghargai kejujuranmu.”
Jawaban yang tidak sesuai harapan memang mungkin menyakitkan.
Tetapi kejelasan sering kali lebih sehat daripada hidup dalam harapan yang tidak pernah dibicarakan.
Jadi, Apakah “Perempuan Selalu Memilih Pria Nakal”?
Tidak.
Kesimpulan tersebut terlalu sederhana untuk menjelaskan perilaku manusia.
Seorang perempuan dapat tertarik kepada seseorang karena banyak alasan yang tidak ada hubungannya dengan apakah pria tersebut “baik” atau “nakal”.
Begitu pula seorang pria dapat tertarik kepada perempuan yang memiliki karakter berbeda dari apa yang secara teoritis dianggap “ideal”.
Ketertarikan manusia tidak bekerja seperti formula matematika.
Tidak ada persamaan:
Pria baik + perhatian + setia = pasti dipilih.
Begitu juga tidak ada persamaan:
Pria cuek + misterius + sulit didapat = pasti lebih menarik.
Yang lebih masuk akal adalah melihat hubungan sebagai kombinasi beberapa faktor:
ketertarikan + kompatibilitas + timing + komunikasi + nilai hidup + kedewasaan emosional + ketertarikan timbal balik.
Ketiadaan salah satu faktor dapat mengubah dinamika hubungan.
Lalu, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Pria yang Sering Merasa “Selalu Menjadi Pilihan Kedua”?
Mungkin jawabannya bukan berubah menjadi pria yang dingin, cuek, atau sengaja memainkan perasaan orang.
Justru, beberapa hal yang lebih sehat adalah:
1. Tetap baik, tetapi jangan kehilangan batasan
Anda tidak perlu menjadi kasar agar terlihat kuat.
Kebaikan dan ketegasan dapat berjalan bersamaan.
2. Jangan menggunakan kebaikan sebagai alat transaksi
Berikan perhatian karena Anda memang ingin memberikan perhatian, bukan karena Anda berharap mendapatkan hubungan sebagai pembayaran.
3. Berani menunjukkan ketertarikan
Jika Anda menginginkan hubungan romantis, jangan selalu bersembunyi di balik peran “teman baik”.
Komunikasikan niat Anda dengan hormat.
4. Perhatikan timbal balik
Hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa banyak Anda memberikan.
Perhatikan juga apakah orang tersebut menunjukkan ketertarikan, usaha, dan perhatian kepada Anda.
5. Jangan takut ditolak
Penolakan memang tidak nyaman.
Tetapi mengetahui bahwa seseorang tidak memiliki perasaan yang sama jauh lebih sehat daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba “membuktikan” bahwa Anda layak dicintai.
6. Bangun kehidupan yang tidak berpusat pada pasangan
Pekerjaan, persahabatan, keluarga, hobi, kesehatan, dan tujuan pribadi tetap penting.
Pasangan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan Anda, bukan satu-satunya sumber makna dalam kehidupan Anda.
7. Cari kecocokan, bukan validasi
Ini mungkin perubahan pola pikir yang paling besar.
Jangan hanya bertanya:
“Bagaimana supaya dia memilih saya?”
Tanyakan juga:
“Apakah saya benar-benar cocok dengannya?”
“Apakah dia memperlakukan saya dengan baik?”
“Apakah kami menginginkan jenis hubungan yang sama?”
“Apakah ketertarikan ini berjalan dua arah?”
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai muncul, hubungan tidak lagi terasa seperti kompetisi untuk mendapatkan seseorang.
Kesimpulan
Gagasan bahwa “pria baik selalu menjadi pilihan terakhir perempuan” terdengar menarik karena memberikan penjelasan sederhana terhadap pengalaman penolakan yang sebenarnya sangat kompleks.
Tetapi psikologi hubungan tidak sesederhana itu.
Pria yang baik bisa ditolak.
Pria yang baik juga bisa sangat dicintai.
Pria yang populer bisa gagal mempertahankan hubungan.
Pria yang biasa-biasa saja bisa menemukan pasangan yang sangat cocok dengannya.
Karena pada akhirnya, nilai seseorang sebagai manusia dan ketertarikan romantis seseorang terhadapnya adalah dua hal yang berbeda.
Anda tidak perlu menjadi “pria nakal” agar menarik.
Anda juga tidak perlu menjadi manusia sempurna.
Yang lebih penting adalah menjadi seseorang yang autentik, memiliki batasan, mampu berkomunikasi, memiliki kehidupan sendiri, memperlakukan orang lain dengan hormat, dan mencari hubungan yang memiliki ketertarikan serta usaha yang saling berbalasan.
Sebab tujuan hubungan yang sehat bukanlah membuat seseorang yang awalnya tidak memilih kita akhirnya menyerah dan memilih kita.
Tujuannya adalah menemukan seseorang yang sejak awal dapat berkata:
“Aku melihat siapa dirimu, aku menghargainya, dan aku juga ingin membangun sesuatu bersamamu.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022