seseorang yang memiliki hubungan yang aman / foto: Magnific/pressfoto
Bukan berarti kalian selalu sepakat. Bukan juga berarti setiap hari dipenuhi kata-kata romantis, perhatian, atau pesan panjang yang membuat hati berbunga-bunga.
Hubungan yang aman justru terlihat dari sesuatu yang lebih sederhana: kamu merasa cukup nyaman untuk menjadi dirimu sendiri tanpa terus-menerus takut kehilangan pasangan.
Kamu bisa mengatakan, “Aku sedang tidak baik-baik saja,” tanpa takut dianggap merepotkan.
Kamu bisa menyampaikan ketidaksetujuan tanpa khawatir hubungan akan langsung berakhir.
Kamu bisa meminta perhatian tanpa merasa malu karena dianggap terlalu membutuhkan.
Dan ketika terjadi konflik, tujuan kalian bukan untuk mencari siapa yang menang, melainkan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dan bagaimana memperbaikinya.
Dalam psikologi hubungan, rasa aman berkaitan erat dengan bagaimana seseorang mengalami kedekatan, kepercayaan, komunikasi, dan respons emosional di dalam hubungan. Salah satu kerangka yang banyak digunakan untuk memahami hal ini adalah attachment atau keterikatan emosional.
Kabar baiknya, rasa aman dalam hubungan bukan sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh keberuntungan atau kepribadian sejak lahir. Ada banyak kebiasaan yang dapat dibangun bersama pasangan.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), jika kamu ingin hubunganmu terasa lebih aman, enam langkah berikut bisa menjadi awal yang baik.
1. Berhenti berharap pasangan selalu bisa membaca pikiranmu
Salah satu sumber masalah dalam hubungan adalah harapan bahwa pasangan seharusnya tahu apa yang kita butuhkan tanpa kita katakan.
“Kok dia nggak peka?”
“Kalau dia benar-benar sayang, harusnya dia tahu.”
“Seharusnya dia mengerti aku sedang kecewa.”
Perasaan seperti ini sangat manusiawi. Namun, hubungan yang aman tidak dibangun dari kemampuan membaca pikiran.
Hubungan yang aman dibangun dari komunikasi yang jelas.
Pasanganmu mungkin mencintaimu, tetapi dia tetap bukan pembaca pikiran. Dia memiliki pengalaman hidup, cara berpikir, kebutuhan, dan cara menafsirkan situasi yang berbeda darimu.
Karena itu, daripada mengatakan:
“Kamu memang nggak pernah perhatian.”
Cobalah mengubahnya menjadi:
“Aku sebenarnya sedang membutuhkan perhatian darimu. Aku akan merasa lebih tenang kalau malam ini kita bisa ngobrol sebentar.”
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa besar.
Kalimat pertama menyerang karakter pasangan.
Kalimat kedua menjelaskan kebutuhan.
Dalam hubungan, membicarakan kebutuhan secara langsung memberikan pasangan kesempatan untuk merespons sesuatu yang konkret.
Begitu pula ketika kamu merasa tidak aman.
Daripada menguji pasangan dengan sengaja menghilang, membuatnya cemburu, atau menunggu apakah dia akan mengejarmu, cobalah mengatakan:
“Akhir-akhir ini aku merasa agak jauh darimu dan itu membuatku sedikit cemas. Aku ingin tahu apakah kita baik-baik saja.”
Kejujuran seperti ini mungkin terasa lebih rentan.
Namun justru kerentanan yang dikomunikasikan dengan sehat dapat membantu menciptakan kedekatan.
Jangan meminta pasangan menebak kebutuhanmu. Ajari dia bagaimana cara memahami dirimu.
Dan sebaliknya, berikan ruang baginya untuk mengajarkanmu bagaimana cara memahami dirinya.
2. Belajar menenangkan diri sebelum menyelesaikan konflik
Banyak pasangan mengira komunikasi yang sehat berarti setiap masalah harus segera dibicarakan sampai selesai.
Padahal, ada kalanya seseorang terlalu emosional untuk melakukan percakapan yang produktif.
Ketika tubuh berada dalam kondisi sangat tertekan, seseorang bisa menjadi lebih defensif, menyerang, menarik diri, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.
Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam hubungan yang aman adalah self-regulation, yaitu kemampuan mengatur respons emosional diri sendiri.
Misalnya, ketika pertengkaran mulai memanas, kamu bisa mengatakan:
“Aku ingin menyelesaikan masalah ini. Tapi sekarang aku terlalu emosi. Aku butuh waktu sekitar 30 menit untuk menenangkan diri. Setelah itu kita lanjut bicara.”
Perhatikan perbedaannya dengan pergi begitu saja.
Pergi tanpa penjelasan dapat membuat pasangan merasa ditinggalkan.
Sebaliknya, memberikan batas waktu dan menegaskan bahwa percakapan akan dilanjutkan dapat memberikan rasa aman.
Kuncinya adalah:
jeda bukan berarti meninggalkan.
Jeda berarti memberi sistem emosionalmu kesempatan untuk kembali tenang sehingga kamu dapat berbicara dengan lebih baik.
Saat mengambil jeda, lakukan sesuatu yang benar-benar membantu menurunkan ketegangan: berjalan sebentar, menarik napas perlahan, minum air, menulis pikiran, atau berada di tempat yang tenang.
Jangan menggunakan jeda untuk menyusun daftar kesalahan pasangan.
Jangan sengaja membuat pasangan cemas.
Dan jangan menjadikan diam sebagai hukuman.
Tujuan jeda adalah kembali ke percakapan dengan keadaan yang lebih stabil.
3. Bedakan antara kebutuhan akan kepastian dan kebutuhan untuk mengontrol
Ketika seseorang merasa takut kehilangan pasangan, dia mungkin mulai mencari kepastian secara terus-menerus.
“Dia di mana?”
“Kenapa lama membalas?”
“Dengan siapa?”
“Kenapa online tapi nggak membalas?”
“Dia masih sayang aku, kan?”
Sesekali mencari reassurance atau kepastian adalah hal yang manusiawi.
Masalah muncul ketika ketenangan kita sepenuhnya bergantung pada kemampuan pasangan untuk terus meyakinkan kita.
Akhirnya, hubungan berubah menjadi siklus:
cemas → meminta kepastian → merasa tenang sebentar → cemas lagi → meminta kepastian lagi.
Dalam jangka panjang, pola seperti ini bisa melelahkan kedua pihak.
Karena itu, hubungan yang lebih aman membutuhkan dua hal sekaligus:
kemampuan pasangan memberikan reassurance dan kemampuan diri sendiri menoleransi ketidakpastian.
Kamu boleh berkata:
“Aku sedang merasa insecure. Bisa nggak kamu meyakinkan aku bahwa kita baik-baik saja?”
Tetapi setelah mendapatkan jawaban, cobalah juga belajar berkata kepada dirimu sendiri:
“Aku sudah menyampaikan kebutuhanku. Sekarang aku tidak harus terus mencari bukti bahwa semuanya baik-baik saja.”
Ini bukan berarti mengabaikan tanda-tanda masalah.
Jika memang ada perilaku pasangan yang tidak konsisten, berbohong, menghilang tanpa penjelasan, atau melanggar kesepakatan hubungan, tentu masalah tersebut perlu dibicarakan.
Namun, penting untuk membedakan antara mencari informasi karena ada alasan yang nyata dan mencari kepastian tanpa akhir karena kecemasan pribadi.
Hubungan yang aman tidak berarti kamu mendapatkan kepastian 100 persen setiap saat.
Hubungan yang aman berarti kamu memiliki cukup kepercayaan untuk menghadapi ketidakpastian tanpa langsung menganggap hubunganmu sedang berada dalam bahaya.
4. Bangun kebiasaan memperbaiki hubungan setelah konflik
Tidak ada pasangan yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Kamu akan mengatakan sesuatu yang salah.
Pasanganmu juga mungkin melakukan hal yang membuatmu kecewa.
Karena itu, ukuran hubungan yang sehat bukan hanya seberapa sering kalian bertengkar.
Salah satu hal yang lebih penting adalah:
Apa yang kalian lakukan setelah konflik?
Dalam hubungan jangka panjang, kemampuan melakukan repair atau perbaikan setelah konflik sangat penting.
Perbaikan bisa sesederhana:
“Tadi cara bicaraku terlalu keras. Aku minta maaf.”
Atau:
“Aku sebenarnya masih tidak setuju dengan pendapatmu, tetapi aku tidak seharusnya merendahkanmu.”
Atau:
“Aku tahu kamu terluka dengan apa yang aku katakan. Aku ingin memahami bagian mana yang paling menyakitkan buatmu.”
Perhatikan bahwa meminta maaf tidak selalu berarti mengakui bahwa seluruh posisi kita salah.
Kamu bisa tetap memiliki pendapat berbeda sambil mengakui bahwa cara menyampaikannya keliru.
Ini penting karena konflik sering kali membuat pasangan terjebak dalam pertanyaan:
“Siapa yang benar?”
Padahal pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Apa yang perlu kita lakukan supaya hubungan ini kembali terasa aman?”
Perbaikan juga tidak harus selalu berupa percakapan panjang.
Kadang sebuah pelukan, sentuhan, secangkir kopi, atau pesan sederhana seperti “Aku masih sayang kamu, kita selesaikan ini pelan-pelan” dapat menjadi jembatan setelah konflik.
Yang terpenting adalah pesan yang disampaikan:
“Kita sedang menghadapi masalah, tetapi masalah ini tidak otomatis berarti hubungan kita berakhir.”
5. Ciptakan konsistensi, bukan hanya intensitas
Banyak orang mengira hubungan yang kuat adalah hubungan yang sangat intens.
Pesan sepanjang hari.
Telepon berjam-jam.
Pertemuan setiap saat.
Perasaan yang sangat menggebu-gebu.
Namun, intensitas tidak selalu sama dengan keamanan.
Seseorang bisa sangat romantis hari ini dan sangat dingin besok.
Bisa memberikan perhatian luar biasa selama beberapa hari, kemudian menghilang tanpa penjelasan.
Pola seperti itu dapat membuat pasangan terus bertanya-tanya tentang posisi mereka dalam hubungan.
Sebaliknya, rasa aman sering kali tumbuh dari konsistensi.
Bukan dari gestur besar sesekali, tetapi dari tindakan kecil yang dapat diprediksi.
Menepati janji.
Memberi kabar ketika rencana berubah.
Menghormati batasan.
Mendengarkan ketika pasangan berbicara.
Tidak menggunakan ancaman putus setiap kali bertengkar.
Menunjukkan kasih sayang secara konsisten.
Dan ketika melakukan kesalahan, berusaha memperbaikinya.
Bayangkan perbedaannya.
Seseorang mungkin berkata:
“Aku mencintaimu lebih dari apa pun.”
Tetapi jika perilakunya terus berubah-ubah dan membuatmu tidak tahu apakah besok dia masih akan memperlakukanmu dengan baik, kata-kata tersebut mungkin tidak memberikan banyak rasa aman.
Sebaliknya, seseorang yang mungkin tidak selalu romantis tetapi secara konsisten hadir, menghargai batasan, dan dapat diandalkan dapat menciptakan rasa aman yang lebih stabil.
Dalam hubungan, hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali sering kali lebih bermakna daripada satu gestur besar yang dilakukan sesekali.
6. Bangun kehidupan yang tetap memiliki ruang untuk dirimu sendiri
Ini mungkin salah satu langkah yang sering dilupakan.
Hubungan yang aman bukan berarti dua orang harus menjadi satu dalam segala hal.
Kamu tetap membutuhkan kehidupanmu sendiri.
Teman.
Keluarga.
Pekerjaan atau pendidikan.
Hobi.
Waktu sendirian.
Tujuan pribadi.
Identitas pribadi.
Mengapa ini penting?
Karena ketika seluruh sumber kebahagiaan, validasi, dan identitas seseorang hanya berasal dari hubungan romantis, setiap perubahan kecil dalam hubungan dapat terasa seperti ancaman besar.
Pasangan terlambat membalas pesan sedikit saja, dunia terasa runtuh.
Pasangan ingin menghabiskan waktu sendiri, langsung muncul ketakutan bahwa cinta sudah berkurang.
Pasangan memiliki kehidupan sosial sendiri, langsung muncul rasa tersisih.
Sebaliknya, ketika kamu memiliki kehidupan yang tetap bermakna di luar hubungan, kamu dapat mencintai pasangan tanpa kehilangan dirimu sendiri.
Kamu tidak harus menjauh dari pasangan.
Kamu hanya perlu memastikan bahwa hubungan bukan satu-satunya tempat di mana kamu merasa berharga.
Ada perbedaan besar antara:
“Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.”
dan
“Aku membutuhkanmu untuk membuatku merasa bahwa aku berharga.”
Yang pertama dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat.
Yang kedua dapat membuat hubungan membawa beban yang sangat besar.
Memiliki kehidupan sendiri bukan berarti kurang mencintai pasangan.
Justru, dua orang yang memiliki identitas dan kehidupan pribadi yang cukup kuat dapat bertemu dalam hubungan sebagai dua individu yang memilih untuk saling berbagi kehidupan—bukan dua orang yang merasa harus saling menyelamatkan.
Pada akhirnya, hubungan yang aman dibangun oleh dua orang
Mungkin kamu sudah melakukan semua hal di atas.
Kamu sudah belajar berkomunikasi.
Kamu sudah berusaha mengendalikan emosi.
Kamu sudah belajar meminta kepastian dengan sehat.
Kamu sudah berusaha memperbaiki konflik.
Kamu sudah menjaga kehidupanmu sendiri.
Tetapi ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan:
rasa aman dalam hubungan bukan tanggung jawab satu orang saja.
Kamu tidak bisa sendirian menciptakan hubungan yang aman jika pasangan terus-menerus berbohong, merendahkan, mengintimidasi, mengontrol, atau mengabaikan batasan yang sudah disepakati.
Hubungan membutuhkan kontribusi dari kedua pihak.
Karena itu, jangan sampai konsep “attachment”, komunikasi, atau regulasi emosi digunakan untuk menyalahkan diri sendiri atas semua masalah hubungan.
Kadang masalahnya bukan karena kamu “terlalu sensitif”.
Kadang memang ada perilaku pasangan yang perlu dibicarakan.
Kadang bukan kamu yang harus belajar menjadi lebih tidak membutuhkan.
Kadang pasanganmu memang perlu belajar menjadi lebih konsisten dan responsif.
Hubungan yang aman bukan hubungan tanpa masalah.
Hubungan yang aman adalah hubungan di mana kedua orang memiliki ruang untuk mengatakan:
“Aku terluka.”
Dan yang lainnya tidak langsung menyerang.
“Aku membutuhkanmu.”
Dan yang lainnya tidak mempermalukan.
“Aku tidak setuju.”
Dan yang lainnya tidak langsung mengancam pergi.
“Aku melakukan kesalahan.”
Dan yang lainnya memberi ruang untuk memperbaiki.
Pada akhirnya, rasa aman bukan dibangun dalam satu percakapan besar.
Ia dibangun dari ratusan hal kecil yang dilakukan berulang kali:
cara kalian berbicara,
cara kalian mendengarkan,
cara kalian menghadapi konflik,
cara kalian meminta maaf,
cara kalian menghormati batasan,
dan cara kalian menunjukkan satu sama lain:
“Kamu boleh menjadi dirimu sendiri di sini.”
Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta yang paling menenangkan.
Bukan cinta yang membuatmu terus bertanya,
“Apakah dia akan tetap memilihku?”
Tetapi hubungan di mana, melalui perilaku yang konsisten dan komunikasi yang sehat, kalian perlahan memiliki keyakinan:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022