Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 12.33 WIB

7 Cara Menjelaskan Perceraian kepada Anak agar Lebih Mudah Dipahami Menurut Psikologi

seseorang yang memberi tahu anaknya bahwa dirinya akan bercerai. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Memberi tahu anak bahwa ayah dan ibunya akan bercerai mungkin menjadi salah satu percakapan paling berat yang pernah dilakukan orang tua.


Bukan hanya karena ada rasa sedih, takut, bersalah, atau kecewa, tetapi juga karena orang tua sering kali tidak tahu harus mulai dari mana. Kalimat seperti "Ayah dan Ibu sudah tidak cocok" terasa terlalu sederhana. Sementara menjelaskan masalah rumah tangga secara detail justru bisa membuat anak semakin bingung atau bahkan merasa harus memilih pihak.

Di sisi lain, anak biasanya membutuhkan jawaban yang jelas.

Apakah mereka masih akan tinggal bersama orang tua yang sama? Apakah mereka masih bisa bertemu ayah atau ibu? Apakah mereka harus pindah sekolah? Apakah perceraian terjadi karena mereka nakal? Apakah ayah dan ibu masih menyayangi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung keluar dari mulut anak. Namun, bukan berarti pertanyaan itu tidak ada di dalam pikirannya.

Dalam psikologi perkembangan, perceraian bukan sekadar perubahan status pernikahan orang tua. Bagi anak, perceraian dapat berarti perubahan rutinitas, rumah, hubungan dengan orang tua, dan rasa aman yang selama ini mereka kenal.

Karena itu, cara orang tua menyampaikan kabar perceraian menjadi sangat penting.

American Academy of Pediatrics menekankan bahwa anak perlu mendapatkan penjelasan yang sesuai dengan usia dan tingkat pemahamannya. Anak juga perlu diyakinkan bahwa perceraian bukan kesalahan mereka dan bukan sesuatu yang bisa mereka perbaiki.

Lalu, bagaimana cara menyampaikannya?

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), terdapat tujuh cara yang dapat membantu.

1. Sampaikan Bersama Jika Situasinya Memungkinkan

Jika hubungan antara kedua orang tua masih cukup aman dan terkendali, salah satu pilihan yang baik adalah menyampaikan kabar tersebut bersama-sama.

Bukan berarti orang tua harus berpura-pura bahagia atau seolah-olah tidak terjadi masalah. Maksudnya adalah memberikan pesan yang konsisten kepada anak.

Misalnya:

"Ayah dan Ibu ingin membicarakan sesuatu yang penting. Kami sudah memutuskan bahwa kami tidak akan tinggal bersama sebagai pasangan lagi. Ini adalah keputusan orang dewasa, dan ini bukan karena kamu."

Kemudian dilanjutkan dengan:

"Walaupun Ayah dan Ibu tidak lagi menjadi suami istri, kami tetap menjadi orang tuamu. Kami berdua tetap menyayangimu dan akan tetap menjadi bagian dari hidupmu."

Pendekatan seperti ini dapat membantu anak mendapatkan informasi langsung tanpa harus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

APA juga mencatat bahwa, ketika memungkinkan, orang tua yang bercerai dapat menyampaikan rencana kepada anak bersama-sama. Komunikasi yang terbuka dan informasi yang jujur mengenai perubahan keluarga dapat membantu anak menghadapi transisi tersebut.

Namun, ada satu pengecualian penting.

Jika terdapat kekerasan, ancaman, intimidasi, atau konflik yang sangat tinggi, berbicara bersama bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan. Keselamatan anak dan orang tua harus menjadi prioritas.

Dalam kondisi seperti itu, bantuan profesional dapat sangat diperlukan.

Mengapa ini penting?

Anak membutuhkan rasa bahwa meskipun struktur keluarganya berubah, mereka masih memiliki orang tua yang dapat menjadi tempat berlindung.

Mereka tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka membutuhkan orang tua yang mampu memberikan rasa aman.

2. Jelaskan dengan Bahasa yang Sesuai dengan Usia Anak

Kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah memberikan terlalu banyak informasi.

Karena merasa anak berhak mengetahui semuanya, orang tua kemudian menceritakan pertengkaran, masalah keuangan, perselingkuhan, konflik keluarga, atau berbagai kesalahan pasangan.

Padahal, jujur tidak selalu berarti menceritakan seluruh detail.

Anak membutuhkan kebenaran yang bisa mereka pahami, bukan seluruh sejarah konflik pernikahan orang tua.

Untuk anak kecil, penjelasannya bisa sederhana:

"Ayah dan Ibu punya masalah sebagai orang dewasa yang tidak bisa kami selesaikan bersama. Karena itu, kami memutuskan untuk tinggal terpisah. Tapi kamu tetap akan disayangi dan dirawat oleh kami berdua."

Untuk anak yang lebih besar, penjelasan dapat sedikit lebih detail:

"Hubungan Ayah dan Ibu sudah mengalami masalah dalam waktu yang cukup lama. Kami sudah mencoba menyelesaikannya, tetapi akhirnya memutuskan bahwa berpisah adalah pilihan yang paling baik untuk keluarga kita."

Sedangkan remaja mungkin membutuhkan lebih banyak ruang untuk bertanya.

Mereka mungkin sudah memahami bahwa hubungan orang dewasa bisa mengalami konflik. Mereka mungkin juga ingin mengetahui alasan perceraian secara lebih mendalam.

Namun tetap ada batas.

Anak bukan terapis, hakim, atau teman curhat orang tua.

Masalah pasangan sebaiknya tetap menjadi urusan orang dewasa.

AAP juga merekomendasikan agar orang tua menjawab pertanyaan anak secara jujur sesuai tingkat pemahaman mereka.

Jadi, sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah informasi ini membantu anak memahami situasi, atau hanya membuat anak semakin terbebani?"

Jika jawabannya yang kedua, mungkin informasi tersebut belum perlu disampaikan.

3. Katakan dengan Tegas: "Ini Bukan Salahmu"

Ini adalah salah satu pesan paling penting yang perlu didengar anak.

Anak-anak, terutama yang masih kecil, memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang dewasa.

Mereka bisa saja menghubungkan perceraian dengan sesuatu yang mereka lakukan.

"Apakah Ayah dan Ibu bertengkar karena aku mendapat nilai jelek?"

"Apakah mereka berpisah karena aku sering nakal?"

"Kalau aku lebih baik, apakah mereka akan tetap bersama?"

Bahkan anak yang tidak mengucapkan pertanyaan tersebut bisa menyimpan rasa bersalah secara diam-diam.

Karena itu, jangan menunggu sampai anak bertanya.

Katakan secara langsung:

"Ini bukan salahmu."

Kemudian ulangi:

"Tidak ada yang kamu lakukan yang menyebabkan Ayah dan Ibu bercerai."

Dan yang juga sangat penting:

"Kamu juga tidak bisa memperbaiki masalah ini. Ini adalah keputusan dan tanggung jawab orang dewasa."

AAP secara khusus menekankan bahwa anak perlu memahami bahwa mereka bukan penyebab perceraian dan tidak memiliki tanggung jawab untuk menyatukan kembali orang tua mereka.

Pesan tersebut mungkin perlu disampaikan berkali-kali.

Bukan karena anak tidak mendengar, tetapi karena rasa aman tidak selalu terbentuk hanya dari satu percakapan.

4. Jangan Menjelekkan Orang Tua yang Lain di Depan Anak

Ini mungkin menjadi salah satu hal yang paling sulit dilakukan, terutama ketika perceraian terjadi setelah konflik panjang.

Ada kemungkinan salah satu orang tua merasa sangat terluka.

Ada kemarahan.

Ada kekecewaan.

Ada rasa dikhianati.

Dan mungkin ada banyak hal yang sebenarnya ingin diceritakan.

Tetapi anak tidak seharusnya dijadikan tempat untuk menyimpan seluruh kemarahan tersebut.

Hindari kalimat seperti:

"Ayahmu memang tidak pernah bertanggung jawab."

"Ibumu yang menghancurkan keluarga ini."

"Kalau bukan karena ayahmu, kita tidak akan seperti ini."

Bahkan jika orang tua merasa pernyataan tersebut benar, anak tetap dapat mengalami konflik batin.

Sebab bagi seorang anak, orang tua bukan sekadar pasangan yang sedang bercerai.

Mereka adalah bagian dari identitas dan dunianya.

Ketika seorang anak mendengar bahwa salah satu orang tuanya buruk, anak bisa merasa seolah-olah dirinya juga harus membenci bagian dari dirinya sendiri yang berasal dari orang tersebut.

AAP memperingatkan bahwa anak sebaiknya tidak ditempatkan di tengah konflik orang tua atau diminta menjadi pembawa informasi antara satu orang tua dengan yang lain. Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa bersalah, tidak loyal, dan merasa harus memilih salah satu orang tua.

Karena itu, jika kamu memiliki kemarahan yang besar terhadap mantan pasangan, carilah tempat lain untuk memprosesnya.

Bicaralah dengan psikolog.

Bicaralah dengan orang dewasa yang dipercaya.

Tuliskan perasaanmu.

Tetapi jangan menjadikan anak sebagai tempat pelampiasan.

Anak membutuhkan orang tua. Mereka tidak membutuhkan satu orang tua yang menang dan satu orang tua yang kalah.

5. Jangan Hanya Menjelaskan Perceraian, Jelaskan Apa yang Akan Terjadi Setelahnya

Salah satu hal yang paling menakutkan bagi anak bukan hanya kata "bercerai".

Yang lebih menakutkan adalah ketidakpastian setelahnya.

"Aku akan tinggal di mana?"

"Masih bisa bertemu Ayah?"

"Bagaimana dengan sekolahku?"

"Siapa yang akan menjemputku?"

"Apakah aku masih bisa tidur di rumah ini?"

"Apakah ulang tahunku nanti masih dirayakan?"

Karena itu, setelah menyampaikan kabar perceraian, berikan informasi praktis sebanyak yang memang sudah diketahui.

Misalnya:

"Untuk sementara, kamu tetap sekolah di tempat yang sama."

"Kamu tetap bisa bertemu Ayah pada akhir pekan."

"Ibu tetap mengantarmu sekolah seperti biasanya."

"Kalau ada perubahan, kami akan memberi tahu kamu."

Tidak semua hal harus sudah memiliki jawaban.

Jika memang belum tahu, katakan saja:

"Ayah dan Ibu belum tahu persis bagaimana jadwalnya nanti. Tapi begitu kami sudah tahu, kami akan memberitahumu."

Itu lebih baik daripada memberikan janji yang belum tentu bisa dipenuhi.

APA merekomendasikan agar perubahan dalam kehidupan anak diminimalkan sebisa mungkin dan rutinitas mereka tetap dijaga. Anak juga cenderung terbantu ketika hubungan yang sehat dengan kedua orang tua tetap dipertahankan.

Rutinitas sederhana bisa menjadi sangat berarti.

Jam tidur yang konsisten.

Sekolah yang tetap sama jika memungkinkan.

Kegiatan olahraga.

Teman-teman.

Hobi.

Tradisi keluarga.

Hal-hal kecil tersebut memberikan pesan:

"Tidak semuanya berubah."

6. Berikan Ruang untuk Anak Marah, Sedih, atau Bahkan Tidak Bereaksi

Setelah mengatakan bahwa mereka akan bercerai, jangan berharap anak langsung memberikan respons yang tepat.

Ada anak yang menangis.

Ada yang marah.

Ada yang diam.

Ada yang bertanya banyak sekali.

Ada pula yang justru kembali bermain seolah tidak terjadi apa-apa.

Semua respons tersebut bisa terjadi.

Anak-anak mungkin tidak langsung memahami atau memproses informasi secara penuh.

Bahkan mereka mungkin membutuhkan waktu sebelum benar-benar menunjukkan emosinya.

Karena itu, jangan mengatakan:

"Jangan sedih."

"Kamu harus kuat."

"Tidak usah menangis."

"Kamu harus mengerti kondisi Ayah dan Ibu."

Lebih baik katakan:

"Kamu boleh sedih."

"Kalau kamu marah, kamu boleh cerita kepada kami."

"Tidak apa-apa kalau kamu bingung."

"Kamu tidak harus langsung mengerti semuanya hari ini."

APA menjelaskan bahwa anak dapat mengalami kesedihan, ketakutan, kemarahan, dan kebingungan ketika menghadapi perceraian. Anak-anak juga tidak selalu mudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Jadi, percakapan tentang perceraian sebaiknya tidak dianggap sebagai satu percakapan besar yang selesai dalam satu malam.

Lebih tepat jika dianggap sebagai rangkaian percakapan.

Hari ini anak mungkin bertanya:

"Kenapa kalian bercerai?"

Besok:

"Ayah masih sayang aku?"

Seminggu kemudian:

"Kalau aku tinggal sama Ibu, kapan bisa bertemu Ayah?"

Sebulan kemudian:

"Apakah kalian bisa menikah lagi?"

Pertanyaan dapat berubah seiring dengan perkembangan pemahaman anak.

Tugas orang tua bukan memberikan satu jawaban sempurna.

Tugas orang tua adalah tetap hadir.

7. Yakinkan Anak Bahwa Perceraian Mengubah Hubungan Orang Tua, Bukan Hubungan Orang Tua dengan Anak

Ini mungkin menjadi pesan paling menenangkan yang bisa diberikan.

Anak perlu memahami perbedaan antara:

"Ayah dan Ibu tidak lagi menjadi pasangan."

dan

"Ayah dan Ibu tidak lagi menjadi orang tuamu."

Keduanya adalah hal yang berbeda.

Katakan:

"Ayah dan Ibu mungkin tidak lagi hidup sebagai pasangan, tetapi kami tetap menjadi orang tuamu."

"Perceraian tidak membuat kamu kehilangan cinta kami."

"Kamu tetap boleh mencintai Ayah."

"Kamu juga tetap boleh mencintai Ibu."

"Kamu tidak harus memilih salah satu dari kami."

Kalimat-kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa mereka tidak harus menjadi pihak dalam konflik orang dewasa.

APA juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan hubungan orang tua-anak selama proses perceraian. Hubungan yang tetap dekat dengan orang tua dapat membantu anak melewati perubahan keluarga.

Contoh Kalimat untuk Memulai Percakapan

Jika kamu benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana, jangan mencari kalimat yang terlalu sempurna.

Gunakan bahasa yang sederhana dan jujur.

Misalnya:

"Ayah dan Ibu ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan kamu. Kami sudah mencoba menyelesaikan beberapa masalah dalam hubungan kami, tetapi kami akhirnya memutuskan bahwa kami tidak akan tinggal bersama sebagai pasangan lagi."

"Ini adalah keputusan orang dewasa. Ini bukan salah kamu dan tidak ada yang kamu lakukan yang menyebabkan hal ini."

"Kami tahu ini mungkin membuat kamu sedih, marah, takut, atau bingung. Apa pun yang kamu rasakan, kamu boleh membicarakannya dengan kami."

"Ada beberapa hal yang akan berubah, tetapi ada banyak hal yang tetap sama. Kami tetap menjadi orang tuamu dan kami berdua tetap menyayangimu."

"Kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, kamu boleh bertanya sekarang atau kapan saja nanti."

Kalimat terakhir sangat penting.

Sebab anak mungkin belum siap bertanya saat itu.

Memberikan izin untuk bertanya di kemudian hari membuat pintu komunikasi tetap terbuka.

Hal-Hal yang Sebaiknya Tidak Dikatakan

Ada beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari karena dapat menambah beban emosional anak.

"Kamu harus memilih ikut Ayah atau Ibu."

Anak tidak seharusnya dipaksa memilih orang tua kecuali terdapat kebutuhan hukum atau keselamatan yang memang mengharuskannya.

"Kalau kamu tidak nakal, mungkin kami tidak akan bercerai."

Kalimat ini dapat menanamkan rasa bersalah yang sangat besar.

"Kamu sekarang harus menjadi anak yang kuat."

Anak tetap boleh menjadi anak. Mereka tidak perlu mengambil peran sebagai penenang orang tua.

"Jangan bilang siapa-siapa."

Anak boleh memiliki privasi, tetapi jangan membuat mereka merasa harus menyembunyikan sesuatu yang membuat mereka tertekan.

"Ayahmu/Ibumu yang menyebabkan semuanya."

Anak tidak perlu dijadikan hakim dalam konflik pernikahan.

"Kami masih sangat mencintai satu sama lain, mungkin suatu hari kami kembali."

Jika keputusan perceraian sudah jelas, harapan palsu dapat membuat anak semakin sulit beradaptasi.

"Semuanya akan baik-baik saja."

Maksudnya mungkin baik, tetapi anak bisa merasa emosinya diabaikan.

Lebih baik:

"Kami tahu ini berat. Kami akan melewati perubahan ini bersama-sama."

Bagaimana Jika Anak Tidak Menangis Sama Sekali?

Jangan langsung menganggap bahwa anak tidak peduli.

Setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan.

Ada anak yang langsung menangis.

Ada yang bertanya.

Ada yang diam.

Ada yang terlihat biasa saja.

Ada yang menjadi lebih mudah marah.

Ada yang justru tampak sangat tenang.

Reaksi anak juga dapat dipengaruhi oleh usia, temperamen, hubungan dengan orang tua, kondisi keluarga, serta tingkat konflik sebelum dan sesudah perceraian. AAP mencatat bahwa respons anak terhadap perceraian dipengaruhi oleh banyak faktor perkembangan dan kondisi psikososial keluarga.

Jadi, jangan memaksa anak untuk menunjukkan emosi tertentu.

Tetap perhatikan mereka dalam beberapa minggu dan bulan berikutnya.

Perubahan yang menetap dalam tidur, makan, sekolah, perilaku, hubungan sosial, atau suasana hati dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Ingat: Anak Tidak Membutuhkan Penjelasan yang Sempurna

Pada akhirnya, mungkin tidak ada cara yang benar-benar "sempurna" untuk memberi tahu anak bahwa orang tuanya akan bercerai.

Perceraian memang dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan.

Namun, yang sangat menentukan bukan hanya fakta bahwa perceraian terjadi.

Cara orang tua menghadapi proses tersebut juga sangat penting.

Penelitian dan panduan profesional menunjukkan bahwa konflik orang tua yang terus-menerus dapat menjadi sumber masalah bagi anak, sementara hubungan pengasuhan yang stabil, komunikasi yang terbuka, dan perhatian terhadap kebutuhan anak dapat membantu mereka beradaptasi.

Karena itu, jangan terlalu sibuk mencari kalimat yang sempurna.

Carilah cara untuk menjadi orang tua yang hadir secara konsisten.

Dengarkan anak.

Jawab pertanyaannya.

Jangan menjadikan mereka bagian dari konflik.

Pertahankan rutinitas sebisa mungkin.

Berikan kepastian mengenai hal-hal yang memang sudah diketahui.

Dan yang paling penting, ulangi pesan yang mungkin paling mereka butuhkan:

"Ini bukan salahmu."

"Kamu tidak harus memilih antara Ayah dan Ibu."

"Kamu tetap boleh mencintai kami berdua."

"Perceraian ini bukan berarti kamu kehilangan kami sebagai orang tua."

Perceraian mungkin mengubah bentuk sebuah keluarga.

Tetapi dengan komunikasi yang sehat dan pengasuhan yang konsisten, orang tua masih dapat membantu anak menemukan kembali rasa aman di tengah perubahan tersebut.

Dan jika percakapan ini terasa terlalu berat untuk dilakukan sendiri, meminta bantuan psikolog keluarga atau profesional kesehatan mental bukanlah tanda bahwa kamu gagal sebagai orang tua.

Justru sebaliknya.

Kadang-kadang, bentuk keberanian terbesar seorang ayah atau ibu adalah mengakui bahwa anak mereka membutuhkan dukungan lebih banyak daripada yang bisa diberikan sendirian.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore