
seseorang yang melindungi anak selama masa transisi perceraian (Magnific/kremen)
Masa transisi setelah keputusan untuk berpisah sering kali menjadi periode yang paling menantang. Orang tua mungkin sedang menghadapi kesedihan, kemarahan, rasa kecewa, persoalan ekonomi, perubahan tempat tinggal, bahkan proses hukum. Di tengah berbagai persoalan tersebut, anak tetap membutuhkan rasa aman dan kepastian.
Menurut perspektif psikologi perkembangan, yang paling penting bukan sekadar apakah orang tua bercerai atau tidak, melainkan bagaimana anak menghadapi proses perubahan tersebut. Konflik orang tua yang berkepanjangan, komunikasi yang buruk, ketidakpastian, serta membuat anak merasa harus memilih salah satu pihak dapat memberikan tekanan emosional yang lebih besar.
Karena itu, orang tua perlu berusaha menjadikan masa transisi perceraian sebagai periode yang tetap memberikan perlindungan emosional bagi anak.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat enam cara yang dapat dilakukan.
1. Yakinkan Anak bahwa Perceraian Bukan Kesalahannya
Salah satu hal pertama yang perlu dipahami orang tua adalah bahwa anak sering kali mencari penjelasan atas perubahan yang terjadi dalam keluarganya.
Anak kecil mungkin berpikir, "Apakah Ayah dan Ibu bertengkar karena aku?" atau "Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?"
Sementara itu, anak yang lebih besar atau remaja mungkin tidak mengungkapkan pertanyaan tersebut secara langsung, tetapi tetap menyimpan rasa bersalah atau kekhawatiran dalam dirinya.
Karena itu, orang tua perlu memberikan penjelasan yang sederhana, jujur, dan sesuai dengan usia anak.
Orang tua dapat mengatakan:
"Ayah dan Ibu sedang memiliki masalah sebagai orang dewasa. Ini bukan karena kamu dan kamu tidak melakukan kesalahan apa pun."
Pesan tersebut perlu disampaikan berulang kali apabila diperlukan. Anak membutuhkan kepastian bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas keputusan orang dewasa.
Namun, memberikan penjelasan bukan berarti orang tua harus menceritakan seluruh masalah rumah tangga kepada anak. Detail mengenai perselingkuhan, konflik keuangan, masalah hukum, atau pertengkaran pasangan biasanya tidak perlu dibebankan kepada anak, terutama jika informasi tersebut justru membuat anak merasa harus membela salah satu orang tua.
Prinsip sederhananya adalah: anak membutuhkan kebenaran yang sesuai dengan usianya, bukan seluruh detail konflik orang dewasa.
2. Jangan Menjadikan Anak sebagai Penengah Konflik
Salah satu risiko terbesar selama masa transisi perceraian adalah ketika anak tanpa sadar ditempatkan di tengah konflik orang tua.
Misalnya, anak diminta menyampaikan pesan:
"Bilangkan ke ayahmu, uang sekolah belum dibayar."
Atau:
"Tanya ibumu kenapa dia tidak mau datang."
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika terjadi berulang kali, anak dapat merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan orang tuanya.
Dalam psikologi keluarga, anak sebaiknya tidak dibebani dengan peran sebagai mediator dalam konflik orang dewasa.
Komunikasi mengenai jadwal kunjungan, biaya kebutuhan anak, sekolah, kesehatan, dan berbagai keputusan pengasuhan sebaiknya dilakukan secara langsung antarorang tua.
Jika komunikasi langsung sulit dilakukan, orang tua dapat menggunakan media komunikasi tertulis yang lebih terstruktur, seperti pesan singkat atau email, khusus untuk urusan pengasuhan.
Yang juga penting adalah menghindari komentar negatif mengenai mantan pasangan di depan anak.
Kalimat seperti:
"Ayahmu memang tidak bertanggung jawab."
"Ibumu yang membuat keluarga kita hancur."
"Kalau bukan karena ibumu, kita masih bersama."
dapat membuat anak berada dalam konflik loyalitas.
Anak dapat merasa bahwa mencintai salah satu orang tua berarti mengkhianati orang tua lainnya.
Padahal, anak tetap membutuhkan izin emosional untuk menyayangi kedua orang tuanya.
Orang tua tidak harus menyukai mantan pasangannya. Namun, sebisa mungkin anak perlu dilindungi dari konflik pasangan tersebut.
3. Pertahankan Rutinitas Anak Sebisa Mungkin
Perceraian dapat membuat banyak hal berubah secara bersamaan. Anak mungkin harus berpindah rumah, berganti sekolah, menghadapi jadwal baru, atau melihat salah satu orang tua lebih jarang.
Dalam kondisi seperti ini, rutinitas dapat menjadi sumber rasa aman.
Rutinitas sederhana seperti jadwal tidur, sekolah, belajar, makan, bermain, olahraga, dan kegiatan bersama teman dapat membantu anak merasa bahwa kehidupannya masih memiliki struktur.
Misalnya, apabila sebelumnya anak terbiasa tidur pukul 21.00, orang tua dapat berusaha mempertahankan waktu tidur tersebut meskipun anak sekarang memiliki dua rumah.
Hal yang sama dapat diterapkan pada aktivitas sekolah dan kegiatan sehari-hari.
Bukan berarti semua rutinitas harus dibuat sama persis di rumah Ayah dan rumah Ibu. Setiap orang tua tentu dapat memiliki gaya pengasuhan masing-masing. Namun, aturan dasar mengenai hal-hal penting seperti sekolah, kesehatan, tidur, dan keselamatan sebaiknya memiliki konsistensi.
Anak membutuhkan pengalaman bahwa meskipun struktur keluarganya berubah, dunia mereka tidak sepenuhnya menjadi tidak dapat diprediksi.
Rutinitas juga membantu anak mengurangi beban untuk terus-menerus menebak apa yang akan terjadi berikutnya.
4. Beri Ruang untuk Anak Mengungkapkan Emosinya
Setiap anak dapat memberikan respons yang berbeda terhadap perceraian.
Ada anak yang menangis dan banyak bertanya. Ada yang menjadi lebih pendiam. Ada pula yang terlihat baik-baik saja, tetapi kemudian mengalami perubahan perilaku di sekolah atau di rumah.
Karena itu, orang tua tidak sebaiknya memaksakan satu bentuk respons emosional kepada anak.
Anak perlu mengetahui bahwa berbagai emosi diperbolehkan.
Orang tua dapat mengatakan:
"Kamu boleh sedih."
"Kalau kamu marah, kamu boleh cerita kepada Ayah atau Ibu."
"Kalau kamu masih bingung, tidak apa-apa. Kamu boleh bertanya kapan saja."
Validasi semacam ini membantu anak memahami bahwa emosinya dapat diterima tanpa harus merasa bersalah.
Namun, mendengarkan anak tidak berarti orang tua harus langsung memberikan solusi untuk setiap perasaan yang muncul.
Kadang-kadang anak hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar mendengarkan.
Misalnya, ketika anak berkata:
"Aku kangen rumah yang dulu."
Orang tua tidak perlu buru-buru menjawab:
"Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja."
Respons yang lebih membantu mungkin:
"Ya, Ayah tahu kamu kangen. Banyak hal yang berubah dan itu memang tidak mudah."
Dengan demikian, anak merasa emosinya dipahami, bukan disangkal.
5. Tetap Berikan Rasa Aman dan Kepastian tentang Masa Depan
Salah satu sumber kecemasan anak setelah perceraian adalah ketidakpastian.
Anak mungkin bertanya:
"Apakah Ayah masih sayang aku?"
"Apakah Ibu akan pergi juga?"
"Apakah aku masih bisa bertemu Ayah?"
"Apakah kita akan pindah rumah?"
"Apakah aku masih boleh menelepon Ibu?"
Pertanyaan tersebut sebenarnya bukan hanya permintaan informasi. Sering kali, di baliknya terdapat kebutuhan untuk mendapatkan kepastian bahwa hubungan mereka dengan orang tua tetap aman.
Karena itu, orang tua perlu memberikan informasi yang jelas mengenai hal-hal yang memang sudah pasti.
Misalnya:
"Kamu tetap akan sekolah di sini."
"Setiap akhir pekan kamu akan bersama Ayah."
"Kamu tetap bisa menelepon Ibu ketika kamu ingin berbicara."
Namun, orang tua juga harus berhati-hati membuat janji yang belum tentu dapat dipenuhi.
Daripada mengatakan:
"Pokoknya semuanya akan sama seperti dulu."
lebih baik mengatakan:
"Memang akan ada beberapa perubahan, tetapi Ayah dan Ibu akan tetap menjadi orang tuamu dan akan berusaha memastikan kamu tetap aman dan mendapatkan perhatian."
Kejujuran yang disertai kepastian dapat membantu anak membangun kembali rasa aman.
6. Jangan Ragu Mencari Bantuan Psikologis
Tidak semua anak membutuhkan terapi setelah orang tuanya bercerai. Namun, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku atau emosi yang berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan anak.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:
perubahan perilaku yang sangat mencolok;
anak menjadi sangat tertutup atau menarik diri;
kesulitan tidur yang berlangsung terus-menerus;
perubahan pola makan;
penurunan prestasi sekolah;
sering mengalami ledakan emosi;
ketakutan berlebihan;
kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai;
sering menyalahkan diri sendiri;
mengalami masalah dalam hubungan dengan teman;
atau menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional yang semakin berat.
Jika perubahan tersebut menetap atau mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasi dengan psikolog anak atau psikolog keluarga dapat menjadi pilihan.
Bantuan profesional tidak berarti orang tua gagal mendidik anak. Justru, mencari bantuan dapat menjadi bentuk tanggung jawab untuk memastikan anak mendapatkan dukungan yang sesuai.
Psikolog dapat membantu anak memahami emosinya, sekaligus membantu orang tua menemukan pola komunikasi dan pengasuhan yang lebih sehat selama masa transisi.
Perceraian Mengubah Struktur Keluarga, tetapi Tidak Harus Menghilangkan Rasa Aman Anak
Perceraian memang dapat mengubah bentuk sebuah keluarga. Anak mungkin tidak lagi melihat kedua orang tuanya tinggal dalam satu rumah. Jadwal keluarga mungkin berubah. Beberapa kebiasaan lama mungkin tidak dapat dipertahankan.
Namun, perubahan struktur keluarga tidak otomatis berarti anak harus kehilangan rasa aman, kasih sayang, dan dukungan.
Hal yang sangat penting selama masa transisi adalah memastikan anak tetap mendapatkan pesan yang konsisten:
"Kamu tidak bersalah."
"Kamu tetap dicintai."
"Kamu tidak harus memilih antara Ayah dan Ibu."
"Masalah orang dewasa bukan tanggung jawabmu."
"Kamu boleh menyampaikan perasaanmu."
"Ayah dan Ibu tetap menjadi orang tuamu."
Orang tua mungkin tidak selalu mampu bersikap tenang. Perceraian adalah proses yang berat secara emosional bagi orang dewasa juga. Karena itu, tidak realistis mengharapkan orang tua selalu sempurna.
Yang lebih penting adalah kemauan untuk memperbaiki keadaan ketika terjadi kesalahan.
Jika orang tua sempat bertengkar di depan anak, misalnya, orang tua dapat meminta maaf dan menjelaskan:
"Maaf tadi kamu mendengar Ayah dan Ibu bertengkar. Itu bukan tanggung jawabmu. Kami sedang menyelesaikan masalah orang dewasa dan kamu tidak perlu ikut menyelesaikannya."
Tindakan sederhana seperti ini dapat memberikan contoh kepada anak bahwa konflik dapat diperbaiki dan hubungan tetap dapat dijaga.
Masa transisi perceraian membutuhkan perhatian bukan hanya terhadap keputusan hukum atau pengaturan tempat tinggal, tetapi juga terhadap kondisi psikologis anak.
Enam langkah utama yang dapat dilakukan orang tua adalah meyakinkan anak bahwa perceraian bukan kesalahannya, tidak menjadikan anak sebagai penengah konflik, mempertahankan rutinitas, memberikan ruang bagi emosi anak, menciptakan rasa aman tentang masa depan, serta mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
Pada akhirnya, tujuan utama bukan membuat anak tidak pernah merasa sedih. Kesedihan, marah, bingung, atau kecewa dapat menjadi bagian dari proses adaptasi terhadap perubahan besar.
Yang perlu diupayakan adalah agar anak tidak menghadapi emosi tersebut sendirian.
Anak mungkin tidak dapat mengendalikan keputusan orang tuanya untuk berpisah. Tetapi orang tua masih dapat menentukan bagaimana proses perpisahan tersebut dijalani: apakah anak terus-menerus ditempatkan di tengah konflik, atau justru diberikan ruang yang aman untuk bertumbuh dan beradaptasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022