Ilustrasi mengalami gangguan makan (Freepik)
JawaPos.com – Media sosial telah membentuk persepsi tubuh anak dan remaja secara tidak realistis yang berdampak pada pola makan dan kondisi psikologis.
Gangguan makan adalah kondisi serius yang mempengaruhi kebiasaan makan serta pandangan terhadap tubuh secara ekstrim.
Menurut Glenn S. Draper, pengacara dari Seattle, media sosial berkontribusi besar terhadap gangguan makan melalui idealisasi tubuh.
Pemahaman terhadap dampak media sosial penting agar upaya pencegahan gangguan makan pada anak dan remaja dapat dilakukan sejak dini.
Baca Juga: Cara Mengurangi Risiko Depresi Akibat Media Sosial pada Remaja Berdasarkan Fakta dan Temuan Ilmiah
Berikut cara media sosial meningkatkan risiko gangguan makan pada anak dan remaja melalui konten visual dan algoritma dilansir dari laman Social Media Victims, Kamis (31/7):
1. Pengaruh Algoritma Personalisasi
Algoritma media sosial bekerja dengan menampilkan konten berdasarkan interaksi sebelumnya, termasuk konten bertema diet dan tubuh ideal. Remaja yang mengikuti akun kebugaran dapat terpapar secara terus-menerus pada konten ekstrem seperti pembatasan kalori atau olahraga berlebihan.
Pola konsumsi konten ini menciptakan tekanan tidak sehat untuk mengikuti standar kecantikan tertentu. Risiko terbesar muncul ketika algoritma mengarahkan remaja ke konten pro-gangguan makan secara berulang.
Baca Juga: Cara Menghindari Kecemasan Akibat Media Sosial pada Remaja Berdasarkan Studi dan Pendapat Para Ahli
2. Efek Filter dan Pengeditan Foto
Foto yang beredar di media sosial sering kali telah melalui proses penyuntingan dan filter untuk menyesuaikan dengan standar kecantikan tertentu. Remaja yang melihat foto sempurna tanpa mengetahui manipulasi di baliknya rentan mengalami krisis kepercayaan diri.
Persepsi tubuh sendiri menjadi terdistorsi karena terus-menerus membandingkan dengan gambar ideal yang tidak nyata. Hal ini menjadi salah satu faktor pencetus gangguan makan sejak usia dini.
3. Perbandingan Sosial Berkelanjutan
Remaja cenderung membandingkan penampilan mereka dengan unggahan teman sebaya atau tokoh publik yang tampil dengan visual sempurna. Tekanan untuk terlihat serupa menyebabkan rasa tidak puas terhadap tubuh sendiri.
Perasaan rendah diri dan citra tubuh negatif pun berkembang seiring intensitas penggunaan media sosial. Kondisi ini memicu keinginan menurunkan berat badan dengan cara tidak sehat.
4. Dampak Khusus Platform Visual

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
