Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Agustus 2025 | 03.59 WIB

Cara Media Sosial Meningkatkan Risiko Gangguan Makan pada Anak dan Remaja melalui Konten Visual dan Algoritma

Ilustrasi mengalami gangguan makan (Freepik)


JawaPos.com – Media sosial telah membentuk persepsi tubuh anak dan remaja secara tidak realistis yang berdampak pada pola makan dan kondisi psikologis.

Gangguan makan adalah kondisi serius yang mempengaruhi kebiasaan makan serta pandangan terhadap tubuh secara ekstrim.

Menurut Glenn S. Draper, pengacara dari Seattle, media sosial berkontribusi besar terhadap gangguan makan melalui idealisasi tubuh.

Pemahaman terhadap dampak media sosial penting agar upaya pencegahan gangguan makan pada anak dan remaja dapat dilakukan sejak dini.

Baca Juga: Cara Mengurangi Risiko Depresi Akibat Media Sosial pada Remaja Berdasarkan Fakta dan Temuan Ilmiah

Berikut cara media sosial meningkatkan risiko gangguan makan pada anak dan remaja melalui konten visual dan algoritma dilansir dari laman Social Media Victims, Kamis (31/7):

1. Pengaruh Algoritma Personalisasi

Algoritma media sosial bekerja dengan menampilkan konten berdasarkan interaksi sebelumnya, termasuk konten bertema diet dan tubuh ideal. Remaja yang mengikuti akun kebugaran dapat terpapar secara terus-menerus pada konten ekstrem seperti pembatasan kalori atau olahraga berlebihan.

Pola konsumsi konten ini menciptakan tekanan tidak sehat untuk mengikuti standar kecantikan tertentu. Risiko terbesar muncul ketika algoritma mengarahkan remaja ke konten pro-gangguan makan secara berulang.

Baca Juga: Cara Menghindari Kecemasan Akibat Media Sosial pada Remaja Berdasarkan Studi dan Pendapat Para Ahli

2. Efek Filter dan Pengeditan Foto

Foto yang beredar di media sosial sering kali telah melalui proses penyuntingan dan filter untuk menyesuaikan dengan standar kecantikan tertentu. Remaja yang melihat foto sempurna tanpa mengetahui manipulasi di baliknya rentan mengalami krisis kepercayaan diri.

Persepsi tubuh sendiri menjadi terdistorsi karena terus-menerus membandingkan dengan gambar ideal yang tidak nyata. Hal ini menjadi salah satu faktor pencetus gangguan makan sejak usia dini.

3. Perbandingan Sosial Berkelanjutan

Remaja cenderung membandingkan penampilan mereka dengan unggahan teman sebaya atau tokoh publik yang tampil dengan visual sempurna. Tekanan untuk terlihat serupa menyebabkan rasa tidak puas terhadap tubuh sendiri.

Perasaan rendah diri dan citra tubuh negatif pun berkembang seiring intensitas penggunaan media sosial. Kondisi ini memicu keinginan menurunkan berat badan dengan cara tidak sehat.

4. Dampak Khusus Platform Visual

Platform seperti TikTok, Instagram, Snapchat, dan YouTube memiliki konten visual tinggi yang berdampak signifikan terhadap persepsi tubuh remaja. Setiap platform memiliki algoritma dan fitur berbeda yang secara tidak langsung mendorong konten gangguan makan.

Konten diet ekstrem, transformasi tubuh, dan tantangan olahraga mudah ditemukan oleh pengguna muda. Minimnya moderasi konten memperbesar risiko gangguan makan akibat penggunaan berlebihan.

5. Konten Pro-Gangguan Makan

Sebagian pengguna media sosial membagikan konten yang mendorong pola makan tidak sehat, bahkan secara ekstrem. Video atau forum yang menyarankan cara menahan lapar atau muntah disengaja kerap dikonsumsi oleh remaja tanpa pemahaman medis.

Paparan terhadap konten ini mempercepat timbulnya gejala gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia. Kondisi ini diperparah dengan minimnya edukasi tentang bahaya yang ditimbulkan.

6. Jenis Gangguan Makan Utama

Tiga jenis gangguan makan umum pada remaja adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan berlebihan. Anoreksia ditandai dengan pembatasan makan ekstrim dan ketakutan terhadap kenaikan berat badan.

Bulimia melibatkan siklus makan berlebihan yang diikuti dengan usaha kompensasi seperti muntah paksa. Gangguan makan berlebihan melibatkan konsumsi makanan dalam jumlah sangat besar tanpa kontrol, disertai rasa bersalah setelahnya.

7. Tanda-Tanda Gangguan Makan

Beberapa gejala gangguan makan yang sering muncul antara lain pembatasan makan drastis, obsesi terhadap berat badan, dan citra tubuh negatif. Ciri lain seperti penurunan berat badan ekstrim, kerusakan gigi, atau sembunyinya kebiasaan makan bisa mengindikasikan kondisi serius.

Reaksi emosional seperti malu, tertekan, atau cemas setelah makan juga menjadi indikator utama. Pemantauan perilaku makan sejak dini dapat membantu deteksi dan intervensi cepat.

Pengaruh media sosial terhadap gangguan makan pada anak dan remaja memerlukan perhatian serius karena berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan mental.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore