Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 04.47 WIB

Krisis Identitas Digital Membuat Banyak Orang Sulit Menemukan Diri Asli Mereka, Begini Cara Menghadapinya!

Krisis identitas bisa membuat seseorang kehilangan jati diri. (dok. Freepik)

JawaPos.com - Di era di mana smartphone dan media sosial selalu melekat, identitas digital sering kali berbenturan dengan diri nyata. Banyak orang, khususnya generasi muda mulai mempertanyakan: “Siapa aku sebenarnya?”

Menurut Psychology Today, dalam artikel “The Existential Crisis of Digital Identity”, banyak orang percaya identitas digital mereka akan bertahan selamanya. Namun kenyataannya, data online bisa hilang, akun diblokir, posting dihapus, atau foto hilang karena sistem. Saat itu terjadi, orang bisa merasakan seolah “kehilangan bagian dari dirinya sendiri,” memicu kecemasan eksistensial.

Temuan dari McKinsey Health Institute dalam survei global terhadap Gen Z menyoroti bahwa, walau media sosial terkadang memberi manfaat seperti koneksi sosial, efek negatifnya seperti kebingungan identitas justru lebih tinggi pada generasi ini dibanding generasi lain. Survei ini melibatkan lebih dari 42.000 responden di 26 negara dan menemukan Gen Z paling rentan terhadap dampak negatif penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan mentalnya.

Ketika profil media sosial secara konsisten menyajikan versi yang terkurasi dan ideal, tetapi jauh berbeda dari kenyataan, hal ini bisa menimbulkan stres batin.

Individu bekerja dua kali lebih keras untuk mempertahankan citra online yang tidak autentik. Akibatnya, muncul perasaan lelah emosional dan membingungkan antara “aku di layar” dan “aku yang nyata”.

Tekanan sosial media membuat orang merasa perlu tampil sempurna demi likes dan pengakuan. Namun identitas online itu rentan: bisa diubah, dihapus, atau hilang kapan saja dengan mudah. Saat hal itu terjadi, yang terjadi bukan hanya masalah teknis, melainkan krisis eksistensial. Ketergantungan pada validasi digital menciptakan konflik antara citra maya dan jati diri sejati.

Cara Menghadapinya:

  • Batasi ketergantungan pada validasi online

Matikan notifikasi, tetapkan waktu khusus untuk membuka sosial media.

  • Waktu refleksi pribadi di dunia nyata

Misalnya menulis jurnal atau ngobrol langsung dengan orang terdekat untuk mengingat siapa diri kita tanpa filter.

  • Tampilkan cerita pribadi secara autentik

Hindari terlalu mempercantik konten; bagikan pengalaman nyata yang mungkin lebih mendukung keautentikan.

  • Sadari bahwa identitas digital tidak permanen

Hilangnya posting atau akun bukan penghapusan diri; itu hanya bagian dari riwayat digital.

  • Bangun harga diri melalui hal nyata

Fokus pada pencapaian di dunia offline, hubungan sosial langsung, dan aktivitas bermakna di luar layar.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore