Krisis identitas bisa membuat seseorang kehilangan jati diri. (dok. Freepik)
JawaPos.com - Di era di mana smartphone dan media sosial selalu melekat, identitas digital sering kali berbenturan dengan diri nyata. Banyak orang, khususnya generasi muda mulai mempertanyakan: “Siapa aku sebenarnya?”
Menurut Psychology Today, dalam artikel “The Existential Crisis of Digital Identity”, banyak orang percaya identitas digital mereka akan bertahan selamanya. Namun kenyataannya, data online bisa hilang, akun diblokir, posting dihapus, atau foto hilang karena sistem. Saat itu terjadi, orang bisa merasakan seolah “kehilangan bagian dari dirinya sendiri,” memicu kecemasan eksistensial.
Temuan dari McKinsey Health Institute dalam survei global terhadap Gen Z menyoroti bahwa, walau media sosial terkadang memberi manfaat seperti koneksi sosial, efek negatifnya seperti kebingungan identitas justru lebih tinggi pada generasi ini dibanding generasi lain. Survei ini melibatkan lebih dari 42.000 responden di 26 negara dan menemukan Gen Z paling rentan terhadap dampak negatif penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan mentalnya.
Baca Juga: Hati-Hati Tekanan Media Sosial Bisa Timbulkan Krisis Identitas: Kenali Dampak dan Cara Mengelolanya
Ketika profil media sosial secara konsisten menyajikan versi yang terkurasi dan ideal, tetapi jauh berbeda dari kenyataan, hal ini bisa menimbulkan stres batin.
Individu bekerja dua kali lebih keras untuk mempertahankan citra online yang tidak autentik. Akibatnya, muncul perasaan lelah emosional dan membingungkan antara “aku di layar” dan “aku yang nyata”.
Tekanan sosial media membuat orang merasa perlu tampil sempurna demi likes dan pengakuan. Namun identitas online itu rentan: bisa diubah, dihapus, atau hilang kapan saja dengan mudah. Saat hal itu terjadi, yang terjadi bukan hanya masalah teknis, melainkan krisis eksistensial. Ketergantungan pada validasi digital menciptakan konflik antara citra maya dan jati diri sejati.
Baca Juga: Efek Psikologis Kloning AI dan Deepfake: Ancaman Identitas Digital yang Semakin Sulit Dihindari
Cara Menghadapinya:
Matikan notifikasi, tetapkan waktu khusus untuk membuka sosial media.
Misalnya menulis jurnal atau ngobrol langsung dengan orang terdekat untuk mengingat siapa diri kita tanpa filter.
Hindari terlalu mempercantik konten; bagikan pengalaman nyata yang mungkin lebih mendukung keautentikan.
Hilangnya posting atau akun bukan penghapusan diri; itu hanya bagian dari riwayat digital.
Fokus pada pencapaian di dunia offline, hubungan sosial langsung, dan aktivitas bermakna di luar layar.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
