Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 Desember 2024 | 03.28 WIB

Kenali 6 Penyebab Seseorang Mengalami Quarter Life Crisis supaya Bisa Menghadapinya dengan Tenang

ilustrasi orang yang mengalami Quarter Life Crisis. ( Freepik) - Image

ilustrasi orang yang mengalami Quarter Life Crisis. ( Freepik)

JawaPos.com - Quarter life crisis biasanya terjadi pada usia 20-an hingga awal 30-an, ditandai dengan kecemasan dan keraguan tentang arah hidup. Periode ini melibatkan penilaian ulang tujuan pribadi, profesional, dan hubungan. Orang sering merasa tertekan dalam mencapai kesuksesan atau memenuhi harapan sosial yang menimbulkan kebingungan mengenai masa depan mereka.

Quarter life crisis seringkali dipicu oleh perubahan besar dalam hidup, seperti lulus dari perguruan tinggi atau memulai karier baru. Pada fase ini, banyak orang yang merasa terdorong melakukan refleksi mendalam, mempertanyakan nilai-nilai yang mereka yakini serta memikirkan kembali apa yang menjadi prioritas dalam hidup mereka.

Walaupun penuh tantangan, periode ini juga membuka peluang untuk tumbuh dan menemukan jati diri, dengan memahami tujuan hidup dan membuat keputusan yang lebih tepat. Dikutip dari charliehealth.com, berikut ini beberapa penyebab seseorang mengalami quarter life crisis supaya bisa menghadapinya dengan tenang.

1. Transisi kehidupan

Peristiwa-peristiwa besar dalam hidup, seperti lulus dari perguruan tinggi, memulai karier atau pindah untuk tinggal mandiri, umumnya membawa perasaan ketidakpastian dan stres. Perubahan besar ini tidak hanya menguji kemampuan seseorang beradaptasi, tetapi juga memicu refleksi diri yang mendalam.

Banyak orang mulai mempertanyakan kembali tujuan hidup mereka, memikirkan nilai-nilai yang mereka pegang, dan mengevaluasi arah yang ingin dituju dalam kehidupan pribadi maupun profesional mereka. Transisi ini dapat membuat seseorang merasa kebingungan, tetapi juga menjadi titik awal guna pertumbuhan dan pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.

2. Tekanan karir

Tekanan membangun karier yang sukses dan mencapai berbagai pencapaian profesional umumnya dapat mengakibatkan kecemasan yang mendalam, terutama saat seseorang merasa bahwa kemajuan yang dicapai terlalu lambat atau ketika harapan yang telah ditetapkan tidak tercapai sesuai dengan waktu yang diinginkan.

Perasaan frustrasi bisa meningkat saat seseorang merasa terhambat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau merasa tidak memenuhi ekspektasi diri sendiri maupun orang lain. Hal ini dapat menimbulkan keraguan terhadap kemampuan diri dan menyebabkan ketegangan emosional yang berdampak pada kesejahteraan secara keseluruhan.

3. Khawatir dengan financial

Mengelola keuangan pribadi, terutama saat harus menangani pinjaman mahasiswa atau berjuang mencapai kemandirian finansial, dapat menjadi sumber stres yang signifikan. Tekanan guna memastikan agar semua tagihan dibayar tepat waktu, serta ketidakpastian mengenai bagaimana mengelola pendapatan dan pengeluaran, adakalanya memicu rasa cemas yang mendalam.

Bagi banyak orang, tantangan ini tidak hanya terkait dengan angka-angka di rekening bank, namun juga dapat menimbulkan perasaan tidak aman tentang masa depan. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan finansial atau merencanakan keuangan jangka panjang dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan memberi rasa takut akan ketidakpastian ekonomi yang terus membayangi.

4. Masalah hubungan

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore