Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 November 2024 | 06.08 WIB

8 Perilaku Ini Biasanya Muncul pada Orang yang Mudah Terhasut Berita Palsu, Menurut Psikologi

Ilustrasi seorang perempuan melihat berita di media sosial. (Pexels) - Image

Ilustrasi seorang perempuan melihat berita di media sosial. (Pexels)

JawaPos.com – Di zaman yang semakin serba digital ini, media sosial telah menjadi platform yang mudah untuk siapa pun mendapatkan berita dengan cepat. Namun, sayangnya, tidak semua berita yang disebarkan tersebut merupakan kebenaran.

Maraknya berita palsu atau hoax, semakin banyak pula masyarakat yang terhasut dalam mempercayai berita palsu secara mentah-mentah tanpa mau melakukan pengecekan fakta.

Di sisi lain, psikologi mengungkapkan bahwa terdapat beberapa perilaku tertentu yang membuat orang lebih cenderung mempercayai informasi yang salah. Lalu, apa saja perilaku-perilaku tersebut?

Melansir dari laman Small Business Bonfire, Senin (11/11), berikut adalah daftarnya.

1. Ketergantungan pada media sosial untuk mendapatkan berita

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi sumber berita utama bagi banyak orang, karena lebih mudah dan cepat. Namun, ini juga merupakan tempat berkembang biaknya misinformasi dan berita palsu.

Orang-orang yang sangat bergantung pada media sosial untuk mendapatkan berita cenderung lebih mudah tertipu oleh berita palsu.

Ini bukan tentang menjelek-jelekkan media sosial. Namun, mengenali keterbatasannya dan memastikan sumber berita Anda sangat penting untuk memisahkan yang baik dari yang buruk.

2. Abai melakukan pengecekan sumber berita

Mengabaikan sumber informasi atau tidak melakukan pengecekan fakta berita merupakan perilaku umum yang sering dilakukan orang-orang yang mempercayai berita palsu.

Selalu periksa kredibilitas sumber berita atau melakukan cross-check sebelum menerima berita tersebut sebagai kebenaran.

Tidak semua situs atau akun media sosial memiliki integritas jurnalistik atau proses pengecekan fakta yang ketat. Hanya karena suatu cerita dibagikan oleh seorang teman, atau berasal dari suatu akun yang mempunyai ribuan pengikut, tidak serta merta menjadikannya benar.

3. Kurangnya berpikir kritis

Berpikir kritis adalah keterampilan menganalisis informasi secara objektif dan membentuk penilaian yang beralasan, yang melibatkan evaluasi data, fakta, dan penelitian yang cermat.

Sebuah penelitian pada tahun 2020 mengungkapkan bahwa siswa dengan keterampilan berpikir kritis yang kuat cenderung tidak mudah tertipu oleh berita palsu. Kemampuan untuk mempertanyakan, menganalisis, dan menilai kredibilitas berita berfungsi sebagai pertahanan terhadap misinformasi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore