Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Mei 2025 | 05.40 WIB

Jangan Salah Kaprah! Ini 9 Mitos soal Lemak dan Kolesterol yang Bikin Banyak Orang Gagal Jaga Kesehatan

Makanan yang sehat (Dok. Pexels)

JawaPos.com - Selama ini, banyak orang langsung panik begitu mendengar kata "lemak" atau "kolesterol." Keduanya sering dicap sebagai biang penyakit dan dianggap wajib dihindari, apalagi jika sedang diet atau punya riwayat jantung.

Padahal, tidak semua yang berlemak itu buruk, dan tidak semua makanan tinggi kolesterol harus dicoret dari menu harian. Ada banyak banget informasi simpang siur yang akhirnya malah bikin kita salah langkah soal pilihan makanan.

Dilansir dari Healthline pada Sabtu (24/05), ada beberapa mitos tentang lemak makanan dan kolesterol yang sebenarnya sudah dibantah oleh penelitian ilmiah. Tapi sayangnya, mitos-mitos ini masih dipercaya banyak orang sampai sekarang. Yuk, kenali mitos mana yang perlu diluruskan agar kamu bisa makan lebih bijak dan tetap sehat!
 
 
1. Mitos: Semua Lemak Itu Jahat
 
Faktanya: Tidak semua lemak berbahaya bagi tubuh. Lemak tak jenuh seperti yang ditemukan dalam alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun justru bisa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).

Menurut laporan Healthline, lemak sehat ini juga penting untuk penyerapan vitamin dan menjaga fungsi otak. Jadi, bukan lemaknya yang salah, tapi jenisnya yang perlu diperhatikan.

2. Mitos: Makanan Berkolesterol Tinggi Harus Dihindari Total
 
Faktanya: Kolesterol dari makanan tidak selalu berdampak besar pada kadar kolesterol darah. Tubuh sebenarnya memproduksi kolesterol secara alami, dan konsumsi kolesterol dari makanan seperti telur tidak otomatis membuat kolesterol darah melonjak.

Penelitian menunjukkan bahwa pada sebagian besar orang, hati akan menyesuaikan produksi kolesterol berdasarkan asupan makanan. Jadi, makanan seperti telur dan udang masih aman dikonsumsi dalam jumlah wajar.

3. Mitos: Lemak Bikin Gemuk
 
Faktanya: Kegemukan terjadi karena kelebihan kalori, bukan semata-mata karena makan lemak. Lemak memang memiliki kalori lebih tinggi (9 kalori per gram) dibanding protein dan karbohidrat, tapi bukan berarti langsung menyebabkan penambahan berat badan.

Justru lemak sehat bisa bikin kenyang lebih lama dan membantu mengontrol nafsu makan. Kuncinya tetap pada porsi dan jenis lemak yang dikonsumsi.

4. Mitos: Semua Lemak Trans Dihindari, Tapi Lemak Jenuh Masih Aman
 
Faktanya: Lemak trans memang harus dihindari total karena bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Tapi lemak jenuh juga perlu dibatasi.
 
Lemak jenuh yang banyak ditemukan dalam daging merah, mentega, dan produk susu tinggi lemak bisa meningkatkan kadar kolesterol LDL jika dikonsumsi berlebihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan untuk membatasi konsumsi lemak jenuh tidak lebih dari 10% dari total kalori harian.

5. Mitos: Minyak Nabati Selalu Lebih Sehat
 
Faktanya: Tidak semua minyak nabati diciptakan sama. Beberapa minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit dan minyak kelapa, mengandung lemak jenuh tinggi.

Sementara minyak zaitun extra virgin dan minyak kanola mengandung lemak tak jenuh tunggal yang lebih baik untuk jantung. Jadi, penting banget untuk cek jenis minyak yang digunakan, bukan cuma asal dari tumbuhan.

6. Mitos: Kolesterol Hanya Ada di Makanan Hewani
 
Faktanya: Memang benar bahwa kolesterol hanya ditemukan dalam produk hewani, seperti daging, telur, dan produk susu. Tapi yang sering keliru adalah menyamakan lemak jenuh dan lemak trans sebagai sumber kolesterol juga.
 
Padahal, makanan nabati seperti gorengan dengan minyak terhidrogenasi pun bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, meski tidak mengandung kolesterol itu sendiri.

7. Mitos: Produk Rendah Lemak Pasti Lebih Sehat
 
Faktanya: Banyak produk low-fat justru ditambahkan gula atau zat aditif untuk meningkatkan rasa. Akibatnya, kandungan kalorinya tidak jauh berbeda atau bahkan lebih tinggi dari versi original.

Selain itu, lemak juga penting untuk membuat kita kenyang dan puas. Menghindari lemak bisa membuat kita makan lebih banyak karena tidak merasa puas. Solusinya? Pilih makanan utuh dan perhatikan label nutrisi.

8. Mitos: Kolesterol Tinggi Selalu Berarti Gaya Hidup Buruk
 
Faktanya: Kolesterol tinggi bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik. Ada kondisi yang disebut hiperkolesterolemia familial yang membuat seseorang punya kolesterol tinggi meski sudah makan sehat dan rutin olahraga.

Jadi, kalau hasil lab menunjukkan kadar kolesterol tinggi, jangan langsung menyalahkan pola makan. Konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.

9. Mitos: Suplemen Penurun Kolesterol Bisa Gantikan Pola Makan Sehat
 
Faktanya: Suplemen hanya pelengkap, bukan pengganti gaya hidup sehat. Meski beberapa suplemen seperti niacin atau minyak ikan bisa membantu menurunkan kolesterol, efeknya tidak akan maksimal tanpa dukungan dari pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur. Kesehatan jantung tetap butuh pendekatan menyeluruh, bukan jalan pintas.
 
Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore