Dilansir dari Healthline pada Sabtu (24/05), ada beberapa
mitos tentang
lemak makanan dan
kolesterol yang sebenarnya sudah dibantah oleh penelitian ilmiah. Tapi sayangnya,
mitos-mitos ini masih dipercaya banyak orang sampai sekarang. Yuk, kenali mitos mana yang perlu diluruskan agar kamu bisa makan lebih bijak dan tetap sehat!
1. Mitos: Semua Lemak Itu Jahat
Faktanya: Tidak semua
lemak berbahaya bagi tubuh. Lemak tak jenuh seperti yang ditemukan dalam alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun justru bisa membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).
Menurut laporan Healthline, lemak sehat ini juga penting untuk penyerapan vitamin dan menjaga fungsi otak. Jadi, bukan lemaknya yang salah, tapi jenisnya yang perlu diperhatikan.
2. Mitos: Makanan Berkolesterol Tinggi Harus Dihindari Total
Faktanya: Kolesterol dari makanan tidak selalu berdampak besar pada kadar kolesterol darah. Tubuh sebenarnya memproduksi kolesterol secara alami, dan konsumsi kolesterol dari makanan seperti telur tidak otomatis membuat kolesterol darah melonjak.
Penelitian menunjukkan bahwa pada sebagian besar orang, hati akan menyesuaikan produksi kolesterol berdasarkan asupan makanan. Jadi, makanan seperti telur dan udang masih aman dikonsumsi dalam jumlah wajar.
3. Mitos: Lemak Bikin Gemuk
Faktanya: Kegemukan terjadi karena kelebihan kalori, bukan semata-mata karena makan lemak. Lemak memang memiliki kalori lebih tinggi (9 kalori per gram) dibanding protein dan karbohidrat, tapi bukan berarti langsung menyebabkan penambahan berat badan.
Justru lemak sehat bisa bikin kenyang lebih lama dan membantu mengontrol nafsu makan. Kuncinya tetap pada porsi dan jenis lemak yang dikonsumsi.
4. Mitos: Semua Lemak Trans Dihindari, Tapi Lemak Jenuh Masih Aman
Faktanya: Lemak trans memang harus dihindari total karena bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Tapi lemak jenuh juga perlu dibatasi.
Lemak jenuh yang banyak ditemukan dalam daging merah, mentega, dan produk susu tinggi lemak bisa meningkatkan kadar kolesterol LDL jika dikonsumsi berlebihan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan untuk membatasi konsumsi lemak jenuh tidak lebih dari 10% dari total kalori harian.
5. Mitos: Minyak Nabati Selalu Lebih Sehat
Faktanya: Tidak semua minyak nabati diciptakan sama. Beberapa minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit dan minyak kelapa, mengandung lemak jenuh tinggi.
Sementara minyak zaitun extra virgin dan minyak kanola mengandung lemak tak jenuh tunggal yang lebih baik untuk jantung. Jadi, penting banget untuk cek jenis minyak yang digunakan, bukan cuma asal dari tumbuhan.
6. Mitos: Kolesterol Hanya Ada di Makanan Hewani
Faktanya: Memang benar bahwa kolesterol hanya ditemukan dalam produk hewani, seperti daging, telur, dan produk susu. Tapi yang sering keliru adalah menyamakan lemak jenuh dan lemak trans sebagai sumber kolesterol juga.
Padahal, makanan nabati seperti gorengan dengan minyak terhidrogenasi pun bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, meski tidak mengandung kolesterol itu sendiri.
7. Mitos: Produk Rendah Lemak Pasti Lebih Sehat
Faktanya: Banyak produk low-fat justru ditambahkan gula atau zat aditif untuk meningkatkan rasa. Akibatnya, kandungan kalorinya tidak jauh berbeda atau bahkan lebih tinggi dari versi original.
Selain itu, lemak juga penting untuk membuat kita kenyang dan puas. Menghindari lemak bisa membuat kita makan lebih banyak karena tidak merasa puas. Solusinya? Pilih makanan utuh dan perhatikan label nutrisi.
8. Mitos: Kolesterol Tinggi Selalu Berarti Gaya Hidup Buruk
Faktanya: Kolesterol tinggi bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik. Ada kondisi yang disebut hiperkolesterolemia familial yang membuat seseorang punya kolesterol tinggi meski sudah makan sehat dan rutin olahraga.
Jadi, kalau hasil lab menunjukkan kadar kolesterol tinggi, jangan langsung menyalahkan pola makan. Konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.
9. Mitos: Suplemen Penurun Kolesterol Bisa Gantikan Pola Makan Sehat
Faktanya: Suplemen hanya pelengkap, bukan pengganti gaya hidup sehat. Meski beberapa suplemen seperti niacin atau minyak ikan bisa membantu menurunkan kolesterol, efeknya tidak akan maksimal tanpa dukungan dari pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur. Kesehatan jantung tetap butuh pendekatan menyeluruh, bukan jalan pintas.