Ilustrasi, Generasi Baby Boomer hingga Gen Z berbincang bersama di kantor. Magnific/ magnific.
JawaPos.com - Sebagian orang beranggapan bahwa mengobrol tentang keluarga akan membangun kedekatan dengan rekan kerja.
Tapi, bagi sebagian yang lain, hal itu justru terdengar mengganggu dan tidak pantas diperbincangkan di tempat kerja.
Jadi, mereka memilih tidak terlalu banyak berbagi tentang kehidupan pribadinya dan tetap mempertahankan sikap profesional mereka.
Oleh sebab itu, supaya tidak salah topik percakapan, dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Jumat (16/10), berikut ini hal-hal yang dianggap pantas dan tidak pantas diperbincangkan di tempat kerja menurut Generasi Baby Boomer sampai Gen Z.
Generasi Baby Boomer
Generasi yang lahir tahun 1946 – 1964 menganggap perbincangan santai tentang kehidupan pribadi dengan rekan kerja sebagai hal yang biasa.
Bagi mereka, obrolan ringan yang bersahabat seperti itu dianggap sebagai cara ideal untuk mengenal rekan kerja lebih jauh.
Mereka merasa nyaman membahas kehidupan sehari-hari dan minat pribadi, tapi membatasi diri jika topik tersebut sudah terlalu kontroversial.
Mungkin karena Generasi Baby Boomer tumbuh dalam lingkungan kerja dimana profesionalisme sama dengan menyimpan opini pribadi atau topik-topik sensitif untuk diri sendiri.
Tidak heran bila mereka berpendapat bahwa topik terkait politik dan agama sebaiknya tidak dibawa ke lingkungan kantor, terutama jika ada seseorang memiliki keyakinan yang kuat atau fanatik.
Mereka menganggap topik-topik tersebut sebagai sumber ketegangan yang membuat kerja sama tim menjadi jauh lebih sulit.
Selain itu, mereka juga lebih berhati-hati dalam mendiskusikan gaji atau keuangan pribadi dengan rekan kerja, karena hal-hal tersebut bersifat privat.
Mereka tidak membagikannya kepada siapa pun, kecuali kepada teman dekat atau anggota keluarga.
Mereka belum merasa senyaman generasi yang lebih muda untuk hal semacam itu.
Generasi X (Gen X)
Generasi ini memiliki pendekatan yang lebih lugas dalam percakapan di tempat kerja daripada generasi sebelumnya.
Meski Gen X mungkin senang bercanda dengan rekan kerja atau berbincang santai sambil minum kopi, tapi mereka paham betul kapan harus bersikap profesional.
Bagi mereka yang lahir tahun 1965 – 1980, menjalin hubungan kerja yang baik tidak selalu mengharuskan seseorang menjadi teman dekat dengan semua orang di kantor.
Terutama untuk topik-topik yang lebih sensitif, Generasi X lebih bersedia untuk berbincang dengan kenalan terpercaya daripada dalam kelompok.
Bagi mereka, memahami siapa lawan bicara dan mampu membaca suasana sangatlah menentukan.
Mereka biasanya berupaya mencari keseimbangan antara bersikap sopan dan santun dengan tetap memastikan tugas terselesaikan.
Generasi Milenial
Generasi ini sering memanfaatkan percakapan di tempat kerja untuk membangun hubungan.
Mereka merasa bahwa mengenal rekan kerja secara mendalam membuat hari-hari di kantor terasa lebih menyenangkan dan menciptakan rasa memiliki yang lebih kuat.
Mereka tidak keberatan berbagi berbagai hal terbaru dalam hidup selama itu relevan dengan topik pembicaraan, termasuk tantangan sehari-hari maupun kondisi kesehatan mental mereka.
Kaum Milenial meyakini bahwa sikap jujur dan terbuka memungkinkan setiap orang saling memahami dengan lebih baik.
Tapi, disisi lain, Milenial menetapkan batasan tegas terhadap diskusi yang dirasa tidak sopan atau terlalu mencampuri urusan pribadi, seperti lelucon mengenai penampilan seseorang atau komentar yang membuat orang lain merasa dihakimi atas pilihan-pilihannya.
Bersikap ramah di tempat kerja memang baik, namun orang yang lahir tahun 1981 – 1996 juga menginginkan interaksi yang didasari oleh rasa saling menghormati satu sama lain.
Generasi Z (Gen Z)
Mereka tidak segan membahas hal-hal yang bersifat pribadi dalam percakapan di tempat kerja.
Gen Z cenderung mempertanyakan norma-norma kantor yang membuat topik tertentu dianggap tabu untuk dibicarakan.
Dengan mengangkat topik-topik sensitif, mereka justru dapat mendorong keadilan dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif alih-alih langsung berasumsi bahwa hal tersebut akan memicu konflik.
Bagi mereka kelahiran 1997 – 2012, bisa menampilkan diri apa adanya adalah hal yang penting.
Mereka tidak melihat alasan untuk berpura-pura bahwa kehidupan pribadi tidak ada selama jam kerja.
Selama mereka bisa menentukan apa yang boleh mereka bagikan, mereka justru senang bisa mengenal orang-orang yang bekerja bersama mereka.***