Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 April 2026 | 02.10 WIB

Orang yang Pura-pura Kaya tetapi Sebenarnya Tidak Punya Uang Biasanya Menunjukkan 10 Perilaku Halus Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berpura-pura kaya / freepik - Image

seseorang yang berpura-pura kaya / freepik

JawaPos.com - Di era media sosial dan tekanan gaya hidup modern, citra sering kali terasa lebih penting daripada kenyataan. Banyak orang ingin terlihat sukses, mapan, dan “berkelas”, meskipun kondisi keuangan mereka sebenarnya jauh dari itu. Dalam psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan kebutuhan akan validasi sosial, harga diri yang rapuh, dan dorongan untuk diterima.

Menariknya, orang yang berpura-pura kaya jarang menunjukkannya secara terang-terangan. Justru, perilaku mereka sering kali halus dan terselubung.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (24/4), terdapat 10 tanda yang sering muncul menurut perspektif psikologi.

1. Terlalu Fokus pada Barang Bermerek

Mereka cenderung menonjolkan merek daripada fungsi. Tas, sepatu, jam tangan, atau gadget harus terlihat “mahal”, bahkan jika itu berarti membeli secara kredit atau memaksakan diri secara finansial.

Secara psikologis, ini disebut sebagai symbolic self-completion, yaitu usaha melengkapi identitas diri melalui simbol eksternal.

2. Sering Membicarakan Uang atau Status

Alih-alih diam, mereka justru sering menyelipkan pembicaraan tentang harga barang, gaji, atau koneksi sosial. Tujuannya adalah membangun persepsi bahwa mereka berada di level tertentu.

Orang yang benar-benar mapan biasanya tidak merasa perlu terus-menerus membuktikan statusnya.

3. Gaya Hidup “All Out” di Depan Orang, Hemat Ekstrem di Balik Layar

Mereka bisa terlihat royal saat nongkrong atau di acara sosial, tetapi sangat menekan pengeluaran di aspek lain—bahkan yang penting.

Ini mencerminkan konflik internal antara citra yang ingin ditampilkan dan realitas keuangan yang sebenarnya.

4. Terobsesi dengan Validasi Media Sosial

Setiap aktivitas harus terlihat “wah” di media sosial: makan di tempat mahal, staycation, atau pamer barang baru.

Psikologi menyebut ini sebagai external validation dependency—ketergantungan pada pengakuan orang lain untuk merasa berharga.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore