Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Desember 2025 | 21.35 WIB

Orang yang Merasa Hampa di Dalam tetapi Berpura-pura Semuanya Baik-Baik Saja Biasanya Menunjukkan 9 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang berpura-pura semuanya baik-baik


JawaPos.com - Tidak semua luka terlihat. Ada orang-orang yang setiap hari tersenyum, bercanda, dan tampak berfungsi dengan baik di mata dunia, namun di dalam dirinya terasa kosong, hampa, seolah ada ruang besar yang tak terisi apa pun. Dalam psikologi, kondisi ini sering kali tidak langsung terdeteksi karena penderitanya justru sangat pandai menyembunyikan apa yang mereka rasakan.


Mereka bukan tidak merasakan emosi—justru sebaliknya, mereka terlalu sering menekan emosi itu hingga akhirnya mati rasa. Psikologi menyebut ini sebagai emotional masking atau smiling depression, di mana seseorang menampilkan citra “baik-baik saja” demi bertahan, diterima, atau sekadar tidak merepotkan orang lain.

Dilansir dari expert Editor pada Minggu (28/12), orang yang merasa hampa di dalam tetapi berpura-pura kuat biasanya menunjukkan pola perilaku tertentu. Berikut sembilan di antaranya.
 

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi ketika diucapkan berulang kali—bahkan saat jelas-jelas sedang tidak baik—ia menjadi tameng emosional. Menurut psikologi, ini adalah bentuk penyangkalan halus terhadap perasaan sendiri.

Bukan karena mereka tidak ingin jujur, melainkan karena mereka takut jika kejujuran itu membuka pintu yang tidak tahu bagaimana cara menutupnya kembali.

2. Selalu Menjadi Pendengar, Jarang Bercerita

Orang yang hampa di dalam sering kali sangat pandai mendengarkan masalah orang lain. Mereka memberi nasihat bijak, empati yang dalam, dan dukungan tulus. Namun anehnya, mereka hampir tidak pernah berbagi tentang dirinya sendiri.

Psikologi melihat ini sebagai mekanisme pengalihan: dengan fokus pada masalah orang lain, mereka tidak perlu berhadapan dengan kehampaan di dalam dirinya.
 

Mereka mengisi jadwal dengan pekerjaan, proyek, atau aktivitas tanpa henti. Sekilas terlihat ambisius dan disiplin, tetapi di balik itu ada ketakutan pada satu hal: keheningan.
Saat tidak sibuk, perasaan kosong itu muncul. Maka, kesibukan menjadi obat sementara—bukan solusi, hanya penunda rasa.

4. Sulit Menikmati Hal yang Dulu Disukai

Dalam psikologi, ini disebut anhedonia: ketidakmampuan merasakan kesenangan. Orang yang hampa sering berkata, “Aku nggak tahu kenapa, tapi sekarang rasanya biasa saja.”
Bukan karena hidup mereka buruk, melainkan karena emosi positif tidak lagi terasa utuh. Tertawa tetap bisa, tapi tidak benar-benar sampai ke hati.

5. Humor sebagai Topeng Utama

Mereka sering menjadi orang paling lucu di ruangan. Humor digunakan sebagai perisai—cara aman untuk tetap diterima tanpa harus membuka luka.
Psikologi menunjukkan bahwa humor defensif sering muncul pada individu yang menyimpan kesedihan mendalam. Tawa menjadi cara mereka berkata, “Aku masih kuat,” meski sebenarnya lelah.

6. Merasa Tidak Pernah Cukup, Meski Sudah Banyak Berhasil

Pujian tidak pernah benar-benar masuk. Prestasi terasa kosong. Setiap pencapaian hanya memberi kepuasan sesaat, lalu kembali ke rasa hampa yang sama.
Ini berkaitan dengan konsep low self-worth: ketika nilai diri tidak berasal dari dalam, apa pun yang datang dari luar tidak akan pernah terasa cukup.

7. Menghindari Percakapan Emosional yang Mendalam

Saat obrolan mulai menyentuh perasaan, trauma, atau makna hidup, mereka cenderung mengalihkan topik atau menutup diri. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu peduli.
Psikologi menjelaskan bahwa membuka emosi bagi mereka seperti membuka kotak yang sudah lama dikunci—dan mereka takut tidak sanggup menanggung isinya.

8. Sering Merasa Lelah Tanpa Alasan Jelas

Kelelahan emosional tidak selalu datang dari aktivitas fisik. Menahan perasaan, berpura-pura kuat, dan terus tampil “normal” menguras energi mental luar biasa.
Itulah mengapa orang yang tampak baik-baik saja sering merasa capek, meski secara logika tidak melakukan hal berat.

9. Merasa Sendiri Meski Tidak Kesepian

Ini adalah ciri paling sunyi. Mereka dikelilingi orang, punya teman, bahkan keluarga yang peduli—namun tetap merasa sendirian.
Dalam psikologi, ini menunjukkan adanya jarak antara diri sejati dan diri yang ditampilkan ke dunia. Selama topeng itu terus dipakai, koneksi emosional sejati sulit terbentuk.

Kesimpulan

Merasa hampa di dalam bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada emosi yang terlalu lama diabaikan. Orang-orang yang berpura-pura baik-baik saja sering kali adalah mereka yang paling membutuhkan ruang aman untuk jujur—tanpa dihakimi, tanpa dituntut kuat.

Psikologi mengajarkan satu hal penting: tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Mengakui kehampaan bukan berarti menyerah, melainkan langkah awal untuk kembali terhubung dengan diri sendiri.
Jika kamu menemukan dirimu dalam beberapa perilaku di atas, mungkin ini saatnya berhenti bertanya “bagaimana caranya terlihat kuat?” dan mulai bertanya, “apa yang sebenarnya aku rasakan?”
Karena penyembuhan tidak selalu dimulai dari jawaban, tetapi dari keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore