
Jika Anda Lelah Dikuras oleh Orang Lain, Cobalah Aturan
JawaPos.com - Dulu saya hidup seperti spons menyerap emosi siapa pun yang ada di sekitar saya. Marah, kecewa, frustrasi, sedih apa pun emosi orang lain, saya merasakannya seolah-olah itu milik saya.
Jika ada yang kesal, saya merasa bertanggung jawab. Jika ada yang berbeda pendapat, saya merasa perlu membela diri.
Dan jika seseorang kecewa karena pilihan hidup mereka sendiri, saya merasa bersalah karena tidak bisa “menyelamatkan” mereka.
Tanpa sadar, saya menjadikan kebahagiaan dan kestabilan emosional orang lain sebagai tugas pribadi saya.
Saya kira itulah bentuk kepedulian yang sejati. Namun ternyata, saya salah.
Hingga suatu hari saya menemukan kutipan dari Mel Robbins yang singkat namun mengguncang dunia saya:
“Biarkan mereka.”
Tiga kata yang begitu sederhana, namun memiliki kekuatan untuk mengubah cara saya menjalani hidup. Biarkan mereka kecewa. Biarkan mereka marah. Biarkan mereka tidak setuju. Biarkan mereka membuat pilihan buruk. Dan yang paling penting: Biarkan mereka bertanggung jawab atas emosi mereka sendiri.
Kata-kata ini bukan undangan untuk bersikap dingin atau tak peduli. Ini adalah panggilan untuk merebut kembali kedaulatan emosi kita sendiri. Untuk berhenti menjadi korban dari gelombang perasaan orang lain. Ini adalah tentang kebebasan—bukan apatis.
Bagi banyak dari kita—terutama yang dibesarkan dalam budaya yang menjunjung tinggi kerukunan dan menghindari konflik—keinginan untuk menyenangkan orang lain begitu dalam tertanam. Kita merasa “bersalah” jika seseorang tidak menyukai kita. Kita merasa “gagal” jika tidak bisa memperbaiki suasana hati orang yang kita cintai.
Tapi mari kita renungkan: berapa banyak energi yang kita habiskan hanya untuk membuat semua orang senang? Dan apakah itu benar-benar berhasil?
Nyatanya, tidak semua orang akan senang. Tidak semua orang akan setuju. Dan tidak semua orang akan puas—tidak peduli seberapa keras kita mencoba. Maka mengapa tidak mulai melepaskan dan mulai menjaga diri sendiri?
Saya sendiri mengalami perubahan ini secara bertahap. Bekerja bertahun-tahun sebagai pendidik, pelatih, hingga pemimpin membuat saya terbiasa berada dalam posisi membantu. Saya terlatih untuk memperbaiki. Namun akhirnya saya menyadari: saya tidak hanya membantu—saya terbakar.
Saya terlalu sering menampung keluh kesah tanpa batas. Terlalu sering menyesuaikan diri agar orang lain merasa nyaman, bahkan saat kenyamanan itu menghancurkan ketenangan saya sendiri. Pada akhirnya, saya kelelahan. Bukan hanya secara fisik, tapi secara batin.
Dan dari sanalah saya mulai menyusun ulang hidup saya, satu batas demi satu batas, dengan satu prinsip utama: Biarkan mereka.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
