Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 September 2025 | 00.27 WIB

Sulit Melepaskan Masa Lalu? Ini Alasan Psikologis yang Membuat Orang Terjebak dan Cara Move On

Ilustrasi patah hati

JawaPos.com – Tidak sedikit orang yang merasa sulit melupakan masa lalu, entah karena pengalaman buruk yang membekas atau kenangan indah yang membuat hati enggan beranjak. Fenomena ini ternyata bukan sekadar masalah pribadi, melainkan juga memiliki penjelasan psikologis yang cukup kompleks.

Menurut Psychology Today, salah satu alasan utama seseorang sulit melepaskan masa lalu adalah karena otak manusia cenderung merekam pengalaman emosional dengan sangat kuat.

Emosi negatif seperti penyesalan, kemarahan, atau rasa sakit biasanya lebih lama tersimpan dibanding perasaan netral. Hal inilah yang membuat banyak orang masih merasa dihantui peristiwa masa lalu meski sudah bertahun-tahun berlalu.

Psikolog dari Beyond Healing Counseling menjelaskan bahwa keterikatan pada masa lalu sering berkaitan dengan kebutuhan manusia akan rasa aman.

Masa lalu, meskipun menyakitkan, tetap memberi rasa familiar. Otak lebih memilih mempertahankan sesuatu yang dikenal daripada menghadapi ketidakpastian masa depan.

Di sisi lain, kenangan indah juga bisa menjadi jebakan. Abby Medcalf, Ph.D., seorang pakar hubungan, menilai bahwa orang kerap mengulang cerita masa lalu karena sulit menerima bahwa keadaan sekarang tidak sebaik dulu. Mereka berharap bisa menghidupkan kembali momen bahagia, padahal kondisi saat ini sudah berbeda.

Fenomena ini pun mendapat perhatian dari berbagai penelitian. Medical News Today melaporkan bahwa rasa bersalah, dendam, hingga kegagalan yang tidak terselesaikan menjadi faktor dominan yang membuat seseorang tidak bisa melangkah maju. Bahkan, terus-menerus memikirkan masa lalu bisa meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Menurut artikel di Thrive Global, ada delapan alasan psikologis mengapa orang sulit move on, mulai dari rasa takut sendirian, rendahnya harga diri, hingga kebiasaan overthinking. Namun, ada pula strategi untuk melepaskan diri dari jerat masa lalu. Misalnya, menerima kenyataan, menulis jurnal refleksi, mencari dukungan sosial, dan mempraktikkan mindfulness.

Verywell Mind menambahkan bahwa salah satu langkah praktis adalah mengubah perspektif. Daripada melihat masa lalu sebagai beban, coba jadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk membangun masa depan lebih baik. Latihan pernapasan, meditasi, hingga terapi profesional juga terbukti efektif membantu individu berdamai dengan masa lalu.

Meski begitu, proses melepaskan tidak selalu mudah dan instan. Butuh waktu, keberanian, serta konsistensi untuk benar-benar bisa melanjutkan hidup. Tidak apa-apa bila masih teringat pada peristiwa tertentu, asalkan tidak sampai menghambat aktivitas atau menggerogoti kesehatan mental.

Psikolog klinis juga menekankan pentingnya self-compassion atau rasa kasih pada diri sendiri. Banyak orang terjebak dalam sikap menyalahkan diri atas kesalahan masa lalu, padahal setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Dengan menerima bahwa kita tidak sempurna, proses pemulihan bisa berjalan lebih ringan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore