Ilustrasi penyebab terjadinya imposter syndrome dalam diri seseorang/freepik.com
JawaPos.com - Penelitian awal menjelaskan bahwa imposter syndrome berhubungan dengan berbagai faktor, seperti dinamika keluarga di masa kecil dan stereotip gender. Akan tetapi, studi lanjutan mengungkapkan bahwa fenomena ini jauh lebih luas.
Nyatanya, siapa pun bisa mengalami sindrom penipu terlepas dari usia, jenis kelamin, atau latar belakang kehidupan.
Perasaan ragu terhadap kemampuan diri dan takut dianggap tidak layak dapat dialami oleh siapa saja, bahkan mereka yang terlihat percaya diri dan sukses di permukaan. Dikutip dari Very Well Mind, berikut ini beberapa penyebab terjadinya imposter syndrome dalam diri seseorang yang sepatutnya segera ditangani secara baik.
1. Pendidikan keluarga
Berbagai studi menyatakan bahwa pola asuh dan dinamika keluarga punya pengaruh besar terhadap perkembangan sindrom penipu. Khususnya, gaya pengasuhan yang cenderung mengontrol atau terlalu protektif dapat meningkatkan risiko anak tumbuh dengan perasaan tidak cukup layak, walau memiliki pencapaian nyata.
Contohnya, kamu mungkin tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat menekankan nilai prestasi, atau punya orang tua yang tidak konsisten kadang memuji, kadang mengkritik secara tajam. Ketidakpastian emosional seperti ini dapat membuat anak merasa bahwa pencapaian mereka tidak pernah cukup.
Penelitian juga menemukan bahwa seseorang yang berasal dari keluarga dengan tingkat konflik tinggi dan dukungan emosional yang rendah cenderung lebih rentan mengalami sindrom penipu di kemudian hari.
2. Peluang kerja atau sekolah baru
Memasuki peran atau fase baru dalam hidup sering kali menjadi pemicu munculnya imposter syndrome. Contohnya, saat kamu mulai kuliah, mungkin muncul perasaan seolah tidak pantas berada di sana, atau merasa kurang cakap dibanding teman-teman lain. Hal serupa juga bisa terjadi ketika dirimu memulai posisi baru di tempat kerja meski telah lolos seleksi, tetap saja muncul rasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri.
Menurut Asosiasi Psikologi Amerika, imposter syndrome paling sering muncul ketika seseorang menghadapi perubahan besar atau mencoba sesuatu yang baru. Di masa transisi ini, tekanan tampil sempurna dan kurangnya pengalaman dapat menciptakan perasaan tidak layak, meski sebenarnya kamu berada di jalur yang tepat.
3. Kepribadian
Beberapa tipe kepribadian diketahui memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengalami sindrom penipu. Karakteristik tertentu membuat seseorang lebih rentan meragukan kemampuan dan pencapaiannya, walaupun bukti keberhasilan sudah jelas.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
