Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Juli 2025 | 19.43 WIB

Jika Anda Ingin Berhenti Terlalu Memikirkan Setiap Keputusan, Mulailah dengan Mengucapkan Selamat Tinggal pada 5 Keyakinan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang meragukan keputusannya yang telah diambil

 
JawaPos.com - Dalam hidup sehari-hari, kita semua dihadapkan pada berbagai keputusan—dari yang sepele seperti memilih menu makan siang, hingga yang besar seperti menerima tawaran pekerjaan atau mengakhiri hubungan. 
 
Namun, bagi sebagian orang, proses pengambilan keputusan tidak pernah terasa ringan.
 
Mereka terjebak dalam siklus berpikir berlebihan (overthinking), meragukan setiap pilihan, dan merasa cemas akan kemungkinan membuat kesalahan.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai decisional paralysis atau kelumpuhan dalam pengambilan keputusan, yang kerap berasal bukan dari situasi itu sendiri, tetapi dari keyakinan keliru yang ditanamkan selama hidup. 
 
 
Dilansir dari Geediting pada Senin (14/7), jika Anda ingin benar-benar berhenti terlalu memikirkan setiap keputusan, maka langkah pertama adalah mengidentifikasi dan melepaskan lima keyakinan mental berikut ini:

1. “Saya harus membuat keputusan yang sempurna”

Keyakinan bahwa hanya keputusan sempurna yang boleh diambil adalah musuh utama ketenangan pikiran. 
 
Dalam psikologi, ini berkaitan erat dengan perfeksionisme maladaptif, di mana seseorang menuntut standar yang tidak realistis pada dirinya sendiri.

Masalahnya, tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna—selalu ada risiko, ketidakpastian, dan faktor luar kendali. 
 
Terlalu fokus pada kesempurnaan membuat kita terjebak dalam analisis tanpa akhir (analysis paralysis), dan justru memperbesar rasa takut gagal.

Gantilah keyakinan ini dengan:

“Keputusan yang baik bukanlah yang sempurna, tetapi yang cukup baik berdasarkan informasi yang saya miliki saat ini.”
 

Keyakinan ini memperbesar dampak dari satu keputusan seolah-olah itu akan menentukan seluruh nasib hidup Anda. 
 
Dalam psikologi kognitif, ini disebut catastrophic thinking—sebuah pola berpikir ekstrem yang membayangkan skenario terburuk.

Padahal kenyataannya, kebanyakan keputusan bersifat reversible atau dapat disesuaikan. 
 
Bahkan keputusan besar pun jarang menjadi akhir segalanya. 
 
Hidup bersifat fleksibel, dan manusia punya kemampuan luar biasa untuk beradaptasi.

Gantilah keyakinan ini dengan:

“Tidak ada satu keputusan pun yang menentukan seluruh hidup saya. Saya bisa menyesuaikan diri dan belajar dari pengalaman.”

3. “Saya harus mempertimbangkan semua kemungkinan sebelum bertindak”

Pada pandangan pertama, keyakinan ini terdengar bijak. Namun jika dibawa ke ekstrem, hal ini justru menyebabkan kelumpuhan mental. 
 
Otak kita tidak dirancang untuk mempertimbangkan semua variabel. 
 
Semakin banyak pilihan, semakin tinggi risiko kelelahan dalam pengambilan keputusan (decision fatigue).

Psikolog Barry Schwartz menyebut ini sebagai paradox of choice, di mana terlalu banyak pilihan justru menurunkan kepuasan dan meningkatkan penyesalan setelah keputusan diambil.

Gantilah keyakinan ini dengan:

“Saya akan mempertimbangkan yang paling relevan dan membuat keputusan berdasarkan prioritas, bukan kemungkinan tak berujung.”

4. “Orang lain akan menilai saya dari keputusan saya”

Manusia secara alami peduli terhadap penilaian sosial. 
 
Tapi jika setiap keputusan Anda dilandasi oleh kekhawatiran akan penilaian orang lain, Anda sedang memberikan kendali hidup Anda kepada mereka.

Keyakinan ini berasal dari bias spotlight, yaitu ilusi bahwa orang lain memperhatikan kita lebih dari kenyataannya. 
 
Nyatanya, kebanyakan orang sibuk dengan urusan mereka sendiri dan jarang memperhatikan keputusan kita sedetail itu.

Gantilah keyakinan ini dengan:

“Saya hidup untuk membangun versi terbaik diri saya, bukan untuk menyenangkan ekspektasi semua orang.”

5. “Saya harus merasa 100% yakin sebelum membuat keputusan”

Dalam kenyataan, hampir tidak ada keputusan yang datang dengan rasa kepastian penuh. 
 
Keyakinan bahwa kita harus merasa yakin sebelum bertindak adalah bentuk dari intolerance of uncertainty, yaitu ketidakmampuan menerima ambiguitas atau ketidakpastian.

Menunggu hingga “saya benar-benar yakin” sering kali hanya menunda dan memperbesar kecemasan. 
 
Dalam psikologi, orang yang bisa berdamai dengan ketidakpastian justru lebih adaptif dan berani melangkah.

Gantilah keyakinan ini dengan:

“Tidak apa-apa merasa sedikit ragu. Saya bisa tetap mengambil langkah sambil terus belajar.”

Penutup: Latihan Keberanian dalam Ketidaksempurnaan

Berhenti terlalu memikirkan setiap keputusan bukan berarti menjadi ceroboh. 
 
Itu berarti melatih diri untuk percaya pada intuisi, menerima ketidaksempurnaan, dan meyakini bahwa kesalahan adalah bagian dari proses tumbuh.

Beranilah mengatakan selamat tinggal pada kelima keyakinan penghambat ini. 
 
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan untuk membuat keputusan dengan tenang adalah salah satu bentuk kekuatan mental terbaik. 
 
Dan kabar baiknya: ini adalah sesuatu yang bisa dilatih.

Mulailah dari keputusan kecil hari ini. Biarkan dirimu mencoba, gagal, belajar, dan bertumbuh—tanpa perlu membebani pikiran dengan berlebihan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore