Muhammad Naufal Zidan (MNZ) mahasiswa UI yang dibunuh oleh seniornya, Altafasalya Ardnika Basya.
JawaPos.com - Meninggalnya Muhammad Naufal Zidan setelah dibunuh oleh kakak angkatannya, Altafasalya Ardnika Basya di Universitas Indonesia menyisakan duka dan kenangan mendalam bagi sejumlah temannya saat duduk di bangku sekolah dasar.
Menurut penuturan beberapa kawan, seperti dikutip dari Radar Bromo (Jawa Pos Grup) Muhammad Naufal Zidan sejak SD dikenal sebagai siswa yang pintar.
Faridi, teman Zidan di SDN Sebaung 1, Desa Sebaung, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo mengenang Zidan sebagai anak yang pendiam.
"Dia tidak akan ngomong kalau tidak diajak ngobrol duluan. Tapi Zidan adalah anak yang pintar karena dia beberapa kali jadi juara kelas," kenang Faridi.
Namun ia sempat kehilangan kontak dengan Zidan setelah lulus SD, karena saat SMP dan SMA, Zidan bersekolah di kota Probolinggo.
"Lalu saat saya masih kelas 12 SMA, Zidan ternyata sudah pasang Twibbon Universitas Indonesia (UI) di Instagram-nya. Artinya, ia sudah diterima kuliah di UI. Saya takjub tapi tidak heran karena Zidan memang siswa berprestasi," lanjut Faridi yang kini kuliah di Universitas Negeri Surabaya.
Fikri Abqorizzaman, teman Zidan lainnya saat masih SD, mengisahkan kalau Zidan sangat suka bermain game.
"Ia pandai membagi waktu antara belajar dan bermain. Buktinya, dia bisa lulus pendidikan SMA selama dua tahun saja dan lolos diterima di UI tanpa tes," ujar Fikri.
Selain berprestasi secara akademik, Zidan juga dikenal pandai dalam bidang teknologi informasi (IT).
"Pernah saat masih kelas lima SD, ia bersama Zidan dan teman-teman lainnya bermain game di sekolah. Zidan bisa meretas serta mengetahui password Wifi SDN Sebaung 1. Gara-gara itu kami kena hukuman dari sekolah," kenang Fikri yang terakhir kali bertemu Zidan saat buka puasa bersama tahun 2022 sekaligus reuni SD.
“Sebenarnya kami ada janji ketemu lagi. Rencananya jalan-jalan bersama teman-teman SDN Sebaung 1 dan nonton bioskop. Tapi ternyata, Allah lebih sayang sama Zidan,” jelas Fikri.
Teman Zidan lainnya ketika SD, Vidy Fahrel juga mengenang keakrabannya bersama mahasiswa Sastra Rusia itu.
"Saya termasuk dekat dengan Zidan karena dari 25 siswa (satu kelas dengan Zidan di SDN Sebaung 1), ia hanya akrab dengan beberapa siswa saja. Saat saya mampir ke rumahnya, orang tuanya selalu memberi durian," ungkap Vidy yang menilai Zidan sebagai sosok yang tidak sombong.
"Kita sering kontak-kontakan dan terakhir bertemu sekitar dua tahun lalu. Saya tidak menyangka Zidan sudah tiada," kata Vidy yang mengaku selalu saling mengucapkan ulang tahun dengan Zidan.
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia, Muhammad Naufal Zidan ditemukan meninggal dunia di kosnya dengan sejumlah luka tusuk dan dibungkus dengan kantong sampah dua lapis.
Setelah diusut, kepolisian menangkap pelakunya yaitu Altafasalya Ardnika Basya yang tidak lain adalah teman dekat sekaligus kakak angkatan jurusan Zidan di Sastra Rusia.
Altaf mengaku melakukan pembunuhan itu untuk merampok barang-barang milik Zidan karena ia tengah terjerat hutang pinjol hingga sekitar Rp 15 juta.