Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 September 2026 | 04.20 WIB

Bill Gates Peringatkan AI Bisa Perlebar Kesenjangan Sosial, Yayasan Siapkan USD 1 Miliar untuk Pemer

Bill Gates memperingatkan AI dapat memperlebar kesenjangan sosial / Foto: (AP News) - Image

Bill Gates memperingatkan AI dapat memperlebar kesenjangan sosial / Foto: (AP News)

JawaPos.com — Bill Gates memperingatkan perusahaan teknologi dan para pemimpin dunia agar tidak membiarkan kecerdasan buatan (AI) memperlebar kesenjangan sosial. Melalui Gates Foundation, pendiri Microsoft itu menyiapkan dana sedikitnya USD 1 miliar atau sekitar Rp17,64 triliun dengan kurs Rp17.640 per dolar AS untuk memperluas akses AI selama dua tahun ke depan, terutama di bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, dan bahasa lokal.

Dana itu diumumkan bersamaan dengan laporan tahunan Goalkeepers yang mengukur kemajuan target pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga 2030. Fokus Gates bukan hanya mempercepat penggunaan AI, tetapi memastikan manfaatnya menjangkau masyarakat yang selama ini tertinggal dari perkembangan teknologi.

Dilansir dari AP News, Rabu (16/9/2026), Gates menilai AI dapat menjadi alat yang mempersempit kesenjangan, tetapi mekanisme pasar berisiko membuat manfaat teknologi lebih dulu dinikmati mereka yang mampu membayarnya. “Begitulah ketimpangan berlipat ganda: teknologi yang membuat hidup lebih mudah, meningkatkan produktivitas, dan terkadang bahkan menyelamatkan nyawa, pertama-tama hadir bagi orang-orang yang sudah memiliki segalanya,” tulis Gates dalam laporan Goalkeepers.

Peringatan itu muncul ketika perdebatan mengenai dampak AI semakin meluas. Dalam tulisan bulan lalu, Gates menyebut AI dapat menjadi “penyetara terbesar” atau “sumber ketidakadilan terburuk”. Dia juga memperingatkan bahwa teknologi yang sama dapat memperkuat penipuan, disinformasi, pengawasan, serangan siber, hingga bioterorisme.

Karena itu, Gates Foundation memilih memperbesar akses ketimbang hanya membiayai pengamanan AI. Sekitar USD 100 juta atau Rp1,764 triliun dialokasikan untuk membangun kumpulan data dalam bahasa yang kurang terwakili, termasuk bahasa komunitas di Afrika. Tujuannya agar model AI tidak hanya bekerja optimal dalam bahasa Inggris dan, dalam tingkat tertentu, Mandarin.

CEO Gates Foundation Mark Suzman mengatakan AI harus dapat digunakan dalam konteks lokal agar mampu mempercepat pembangunan. “Kami belum menyerah pada AS,” kata Suzman kepada AP, merujuk pada upaya yayasan mendorong Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump tetap mendukung bantuan luar negeri meski terjadi pemangkasan anggaran bantuan internasional.

Namun, memperbanyak data tidak otomatis membuat AI lebih adil. Jonathan Shaffer, sosiolog University of Vermont, memperingatkan bahwa lemahnya infrastruktur kesehatan di banyak negara dapat membuat kelompok paling terpinggirkan tetap tidak terwakili dalam data. Kondisi itu, menurutnya, “bahkan dapat memperkuat jenis ketimpangan” yang hendak dikurangi yayasan.

Gates Foundation menggandeng perusahaan teknologi besar untuk menguji penerapan tersebut. OpenAI berkomitmen USD 50 juta atau sekitar Rp882 miliar bersama yayasan untuk melatih tenaga kesehatan di klinik Rwanda, sementara Anthropic bekerja dalam pengembangan vaksin dan pengayaan data tentang tanaman lokal. Google.org dan AI for Good Lab milik Microsoft juga membantu pendanaan proyek bahasa yang kurang terwakili di Afrika.

Dari total komitmen, sekitar USD 400 juta atau Rp7,056 triliun diarahkan ke pendidikan, termasuk alat yang membantu guru menyesuaikan rencana pelajaran berdasarkan materi yang paling sulit dipahami siswa. Jumlah serupa disiapkan untuk kesehatan, termasuk alat pemeriksa laporan klinis, sedangkan sekitar USD 100 juta ditujukan untuk pertanian, termasuk aplikasi yang memberikan saran kepada petani berdasarkan kondisi cuaca, pengendalian hama, dan penggunaan pupuk.

Suzman mengakui seluruh dana itu hanya “sebagian kecil” dari miliaran dolar yang dibelanjakan perusahaan teknologi untuk produk komersial mereka. Di sisi lain, Shaffer mempertanyakan apakah akses dapat benar-benar setara ketika pengembangan AI banyak diarahkan yayasan dan korporasi swasta. “Mereka tetap berarti suatu bentuk akses yang secara khusus diprivatisasi,” ujarnya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore