Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 04.21 WIB

Nvidia Hadapi Tekanan Baru, CEO Jensen Huang Ungkap Rasa Kecewa atas Larangan Chip AI di Tiongkok

CEO Nvidia, Jensen Huang, menghadiri acara - Image

CEO Nvidia, Jensen Huang, menghadiri acara

JawaPos.com - Nvidia kembali menghadapi tekanan besar di pasar Tiongkok setelah laporan terbaru menyebutkan pemerintah Tiongkok melarang penggunaan chip kecerdasan buatan (AI) buatan perusahaannya. 

CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan kekecewaannya atas kebijakan itu yang semakin menambah ketidakpastian bisnis perseroan di salah satu pasar teknologi terbesar dunia.

Financial Times melaporkan bahwa Administrasi Dunia Maya Tiongkok (Cyberspace Administration of China/CAC) meminta sejumlah perusahaan besar, termasuk ByteDance dan Alibaba, untuk tidak membeli chip RTX Pro 6000D, produk yang dirancang khusus untuk pasar Tiongkok. Langkah ini disebut sebagai bagian dari kebijakan teknologi strategis Beijing.

Menanggapi hal itu, Huang menegaskan pihaknya memahami konteks geopolitik, meski tidak menutupi kekecewaannya.

"Kami hanya bisa melayani sebuah pasar jika negara itu menginginkannya. Kami mungkin telah memberikan kontribusi lebih banyak kepada pasar Tiongkok dibandingkan banyak negara lain. Dan saya kecewa melihat hal ini," ujarnya dalam konferensi pers di London, dilansir dari Al Jazeera, Kamis (18/9/2025).

Huang menambahkan bahwa situasi ini bukan semata persoalan bisnis, melainkan berkaitan dengan agenda politik yang lebih luas antara Washington dan Beijing.

"Namun, mereka memiliki agenda yang lebih besar untuk diselesaikan antara Tiongkok dan Amerika Serikat, dan saya memahami hal itu," kata Huang.

Larangan terbaru ini menambah daftar panjang ketidakpastian Nvidia di Tiongkok. Sebelumnya, pemerintahan Amerika Serikat membatasi ekspor chip AI, termasuk H20, dengan alasan keamanan nasional. Pada Agustus lalu, Presiden Donald Trump mencapai kesepakatan dengan Nvidia yang memberikan lisensi ekspor dengan syarat 15 persen penjualan chip H20 di Tiongkok dialihkan kepada pemerintah AS.

Namun, dinamika semakin pelik ketika otoritas pasar Tiongkok juga membuka penyelidikan anti-monopoli terhadap akuisisi Nvidia atas Mellanox, perusahaan teknologi asal Israel yang bergerak di bidang solusi jaringan data center. Hal ini memperburuk prospek bisnis Nvidia di negara Tiongkok.

Di sisi lain, Huang menekankan pentingnya Tiongkok bagi industri teknologi global. "Pasar Tiongkok sangat penting. Ukurannya besar, industrinya dinamis, dan kami telah hadir melayani selama 30 tahun," jelasnya. 

Dia menambahkan, "Kami akan terus mendukung pemerintah dan perusahaan Tiongkok sejauh mereka menghendaki, sekaligus tetap mendukung pemerintah Amerika Serikat ketika kedua negara menyelesaikan kebijakan geopolitik mereka," kata Huang menekankan.

Meski demikian, Nvidia tidak sepenuhnya bergantung pada Tiongkok. Dalam kunjungannya ke Inggris bersama Presiden Trump, Huang mengumumkan investasi sebesar £11 miliar atau sekitar Rp 246 triliun (kurs Rp 22.420 per pound sterling) untuk infrastruktur AI di negara tersebut. Investasi ini menegaskan fokus perusahaan dalam memperkuat pijakan di pasar Eropa.

Huang menutup dengan nada hati-hati, sembari mengingatkan bahwa arah bisnis Nvidia di Tiongkok kini sepenuhnya berada dalam pusaran kebijakan geopolitik.

"Kami telah memberi arahan kepada para analis agar tidak memasukkan Tiongkok dalam proyeksi keuangan, karena hal itu sepenuhnya akan ditentukan oleh diskusi antara pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Tiongkok," pungkasnya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore