Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 September 2023 | 17.54 WIB

Sungai Dipenuhi Ikan Mati! Kekeringan di Amazon Ancam Keterbatasan Makanan dan Air Bersih untuk Penduduk

Kapten kapal, Paulo Monteiro da Cruz sedang mengamati ikan mati di Sungai Solimoes, Manacapuru. Kekeringan terjadi di Amazon dan sungai sekitarnya. - Image

Kapten kapal, Paulo Monteiro da Cruz sedang mengamati ikan mati di Sungai Solimoes, Manacapuru. Kekeringan terjadi di Amazon dan sungai sekitarnya.

JawaPos.com - Beberapa sungai yang meliuk-meliuk melalui hutan hujan Amazon di Brasil telah dipenuhi ikan mati sejak beberapa hari terakhir.

Insiden tersebut terjadi karena kekeringan yang semakin parah di Amazon yang menyebabkan tingkat air turun, dan memengaruhi akses masyarakat lokal terhadap pasokan makanan dan minuman.

Lebih dari 110.000 orang telah terkena dampaknya, kata para pejabat, karena ikan-ikan yang mati telah membusuk dan mencemari pasokan air.
 
Di Manacapuru, sebuah kota yang berjarak dua jam perjalanan dari kota hutan Manaus, ikan-ikan melompat-lompat dalam upaya melarikan diri dari perairan dangkal yang terik dan bau binatang membusuk.
 
"Sulit karena airnya terkontaminasi, kami perlu banyak air untuk mandi. Dan kami juga meminum airnya, tapi karena airnya terkontaminasi, kami tidak meminumnya," kata Caroline Silva dos Santos, penjaga toko berusia 19 tahun di Manacapuru. "Kami mendapatkan air dengan membawanya dari kota," lanjutnya.
 
Wilayah ini berada di bawah tekanan fenomena cuaca El Nino, dengan volume curah hujan di Amazon bagian utara di bawah rata-rata historis.
 
 
Di negara bagian Amazonas, 59 dari 62 kota menghadapi kekeringan dan 15 di antaranya berada dalam situasi darurat, menurut Kelompok Kerja Amazon yang menyatukan 503 organisasi lokal dilansir dari Reuters, Jumat (29/9).
 
Ketinggian air di Rio Negro, anak sungai terbesar di sebelah kiri Sungai Amazon, telah turun 20 cm setiap hari, kata organisasi tersebut.
 
Pada 2010, kekeringan parah menyebabkan permukaan sungai di wilayah Amazon mencapai titik terendah, sehingga menimbulkan masalah serupa.
 
"Kita belum sampai pada level itu (2010), tapi kita punya potensi untuk mencapai titik itu. Saya kira ini sudah menjadi gambaran kemungkinan kondisi normal yang baru yang akan kita hadapi di masa depan," kata Ane Alencar, direktur sains di Institut Penelitian Lingkungan Amazon (IPAM).
 
Alencar mengatakan perubahan iklim tidak hanya akan berdampak pada alam, tetapi juga kehidupan masyarakat di Amazon.
 
 
"Masyarakat akan kehilangan harta benda, rumah, ternak. Kita biasanya mengabaikan dampak kekeringan terhadap kehidupan dan kesehatan manusia," katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintah perlu lebih siap menghadapi kejadian seperti ini.
 
Penduduk setempat yang kehabisan persediaan dan tidak bisa menangkap ikan di perairan tersebut meminta bantuan tambahan. Pemerintah Brasil mengatakan pada Rabu (27/9) bahwa pihaknya sedang mempersiapkan satuan tugas untuk memberikan bantuan darurat kepada penduduk.
 
"Semakin kering, semakin banyak ikan yang mati dan situasi menjadi semakin genting," kata Anesio Junior, seorang nelayan 39 tahun di wilayah tersebut.
 
"Kami di sini meminta dukungan dari semua orang di pemerintah kota dan negara bagian yang dapat membantu kami dalam situasi darurat ini," pungkasnya.
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore