Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Mei 2025 | 20.17 WIB

Prof. Aswadi: Makna Arbain Lebih Luas dari Sekadar 40 Waktu Salat Berjamaah di Nabawi

Jemaah yang melaksanakan salat di Masjid Nabawi. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com) - Image

Jemaah yang melaksanakan salat di Masjid Nabawi. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

JawaPos.com – Ibadah Arbain, yakni salat fardu berjamaah selama 40 waktu di Masjid Nabawi, menjadi salah satu amalan yang ingin dikejar oleh jemaah haji Indonesia saat berada di Madinah. Namun, dalam praktiknya, tidak semua jemaah dapat menyempurnakan amalan ini karena ketidakpastian jadwal pendorongan ke Makkah.

Konsultan Haji Kementerian Agama, Prof. Aswadi Syuhada, mengajak jemaah untuk melihat Arbain tidak hanya sebagai hitungan kuantitatif, tetapi juga dari sisi spiritualitas yang lebih luas dan mendalam.

“Selama di Madinah, selain salat fardu, ada pula amalan seperti salat jenazah yang bernilai pahala besar,” katanya, Selasa (13/5).

“Insya Allah fadilahnya bisa mencapai seribu kali lipat dan menjadi khufrotan minan nar (penjagaan dari api neraka),” imbuhnya.

Prof. Aswadi menyadari bahwa keterbatasan informasi jadwal keberangkatan kloter sering kali membuat jemaah gelisah. Informasi resmi biasanya baru diterima satu atau dua hari sebelum hari keberangkatan.

Oleh sebab itu, ia mengajak jemaah untuk tidak terlalu fokus pada sisi teknis jumlah salat berjamaah, melainkan menjadikan masa tinggal di Madinah sebagai ladang ibadah dalam bentuk yang lebih luas.

Arbain tidak hanya soal kuantitas salat berjamaah, tetapi juga mencakup ragam ibadah lain yang tinggi nilai spiritualnya,” tuturnya.

Prof. Aswadi juga mengingatkan jemaah tentang pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi perubahan, termasuk perubahan regulasi yang terjadi selama pelaksanaan haji. Salah satunya adalah perubahan sistem kloter yang kini diganti oleh sistem syarikah di Arab Saudi.

“Hidup itu selalu berubah, yang pasti hanya kematian. Dalam Alquran, kata akhya (hidup) itu mu’rab (bisa berubah0, sedangkan maut (mati) itu mabni (tetap),” ujarnya.

“Jemaah perlu siap menghadapi sistem baru demi pelayanan yang lebih baik,” tambahnya.

Menurut Prof. Aswadi, salah satu indikator keberhasilan ibadah haji adalah kesiapan jemaah untuk menjalani manasik secara mandiri. Di sinilah peran penting Karu (Ketua Regu), Karom (Ketua Rombongan), dan KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah) diuji.

“Kesiapan jemaah dalam melaksanakan manasik secara mandiri akan menjadikan mereka lebih adaptif terhadap perubahan,” jelasnya. “Ini menjadi indikator profesionalisme KBIHU,” sambungnya.

Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya bersandar kepada Allah SWT dalam setiap tahapan ibadah. Jika hanya menggantungkan diri kepada sistem atau seseorang, maka jemaah akan mudah kecewa saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

“Jika kita menggantungkan manasik kepada seseorang, lalu ia tak bisa membantu, kita akan rugi. Tetapi jika kita menggantungkan kepada Allah, niscaya akan ada jalan keluar,” pungkasnya.

Dengan pendekatan yang lebih spiritual, mandiri, dan adaptif, Prof. Aswadi berharap jemaah dapat menunaikan ibadah Arbain dan seluruh rangkaian haji dengan hati tenang, niat lurus, dan fokus kepada keridaan Allah SWT.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore