Petugas Akomodasi Sektor 5 Madinah, Asep (kanan) dan Zulkifli saat sweeping kamar hotel yang ditinggalkan jemaah. Itu dilakukan untuk mengumpulkan barang tertinggal. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
JawaPos.com – Suasana di Hotel Mirage Taiba, Madinah, mendadak lengang pada Senin (12/5) sore. Satu kloter jemaah haji asal embarkasi JKG 8 (Jakarta) baru saja diberangkatkan ke Makkah.
Namun, kesibukan belum usai. Di balik kamar-kamar yang kosong, Asep Saepullah dan Zulkifli Ismail, anggota tim akomodasi Sektor 5, Daker Madinah, justru mulai menjalankan tugas penting: sweeping kamar.
“Sweeping itu proses pengecekan ulang semua kamar yang habis ditinggalkan jemaah. Kami pastikan tidak ada barang mereka yang tertinggal. Baik di bawah selimut, di lemari, kamar mandi, atau laci-laci meja,” kata Asep.
Dua kantong plastik besar berhasil mereka kumpulkan dalam waktu singkat. Isinya mulai dari sandal, kaos, makanan ringan, hingga botol air minum.
Barang-barang itu kemudian mereka laporkan ke layanan perlindungan jemaah (linjam) untuk didata dan diamankan.
Perpindahan jemaah dari Madinah ke Makkah memang berlangsung masif. Dari Sabtu (10/5) hingga Senin (12/5) pukul 18.00 Waktu Arab Saudi (WAS), tercatat 206 kloter atau 80.107 jemaah sudah tiba di Arab Saudi. Dari jumlah itu, sebanyak 11.230 jemaah telah tiba di Makkah pada hari ketiga pendorongan.
Di tengah skala logistik yang besar, fenomena barang tertinggal menjadi masalah yang nyaris tak terhindarkan. Kasi Linjam Daker Madinah M. Slamet membenarkan bahwa barang seperti tas, koper, kursi roda, bahkan handphone kerap ditemukan tertinggal di hotel maupun Masjid Nabawi.
“Banyak yang kita temukan, ya, di antara tas koper, kursi, HP, dan lain sebagainya,” kata Slamet.
Untuk koper, Slamet menambahkan bahwa fenomena ini tak lepas dari sistem penempatan hotel berdasarkan fast track embarkasi. Gerak jemaah harus cepat dan tidak selalu satu lokasi.
"Kadang hotelnya pun berbeda-beda, jadi perpindahan logistik jemaah juga tidak sesederhana itu. Koper jadi seperti hilang, padahal kami amankan," ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, linjam menerapkan sistem koordinasi lintas sektor yang terstruktur. Setiap sektor (1 sampai 5) memiliki petugas linjam, dan mereka tergabung dalam grup koordinasi melalui WhatsApp.
Jika ada barang tertinggal yang ditemukan oleh sektor (di hotel maupun Masjid Nabawi) atau bandara, datanya akan langsung dibagikan ke grup untuk ditindaklanjuti.
“Kita bikin WA Group tentang linjam Madinah. kita share, dan kita sampaikan misalnya embarkasi ini nanti dia ke sektor berapa. Kita informasikan, supaya linjam punya waktu mengambil barang di dakar Madinah,” jelas Slamet.
Barang-barang yang ditemukan akan didata berdasarkan embarkasi, kemudian diserahkan kepada linjam sektor masing-masing untuk dijemput. Jika jumlahnya sedikit, bisa dijemput langsung. Namun jika banyak, sektor harus menyiapkan kendaraan.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
