Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Juni 2025 | 05.34 WIB

Bandara Thaif Jadi Alternatif Baru, Bisa Pangkas Waktu Jemaah di Saudi dan Kurangi Biaya Berhaji

Calon jemaah haji Indonesia terakhir yang akan bertolak dari Bir Ali menuju Makkah, Minggu (25/5). (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com) - Image

Calon jemaah haji Indonesia terakhir yang akan bertolak dari Bir Ali menuju Makkah, Minggu (25/5). (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

JawaPos.com – Di tengah proses pemulangan jemaah haji Indonesia dari Arab Saudi yang dimulai hari ini, Rabu (11/6), pemerintah Indonesia mulai menyiapkan berbagai terobosan untuk pelaksanaan ibadah haji tahun-tahun mendatang.

Salah satunya adalah usulan pemanfaatan Bandara Thaif sebagai alternatif bandara untuk keberangkatan dan kepulangan jemaah haji Indonesia.

Saat ini, proses kedatangan dan pemulangan jemaah hanya terpusat pada dua bandara, yakni Bandara King Abdul Aziz di Jeddah dan Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz di Madinah.

Dua bandara tersebut menanggung beban seluruh jemaah dari berbagai negara, termasuk 221 ribu jemaah asal Indonesia. Dampaknya, antrean penerbangan padat dan masa tinggal jemaah di Arab Saudi menjadi lebih lama dari seharusnya.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendi, yang menjadi salah satu Amirul Hajj tahun ini, menilai pemanfaatan Bandara Thaif bisa menjadi solusi strategis.

Menurutnya, pemanfaatan bandara ini tidak hanya mempercepat waktu kepulangan, tapi juga bisa menghemat biaya penyelenggaraan haji secara signifikan.

“Kalau hasil pembicaraan dengan kepala pengelola bandara, positif. Bandara Thaif jaraknya dari Mekkah bahkan lebih dekat daripada Jeddah, hanya sekitar 70 km. Saya sudah coba kemarin, dari Mekkah ke sana tidak sampai satu jam,” kata Muhadjir di Jeddah, Selasa (10/6).

Selain jaraknya yang dekat, Bandara Thaif juga memiliki infrastruktur yang mendukung operasional haji. Bandara ini memiliki dua landasan pacu (runway) yang sudah memenuhi syarat untuk pendaratan pesawat berbadan lebar seperti Boeing dan Airbus. Dari sisi teknis, bandara ini siap digunakan.

“Runway-nya sudah siap. Yang perlu diperbesar hanya terminal internasionalnya, karena saat ini kapasitasnya hanya sekitar 500 orang. Tapi pihak pengelola bandara menyanggupi jika ada kerja sama, mereka akan memenuhi permintaan kita,” ujarnya.

Muhadjir menekankan, secara operasional, Bandara Thaif juga sudah melayani penerbangan 24 jam. Sebanyak 11 maskapai, termasuk dari Iran, Mesir, dan Qatar, sudah menggunakan bandara tersebut.

Sebagian besar lalu lintas udara di bandara ini memang masih untuk penerbangan domestik, tapi slot internasional bisa diperluas.

“Kalau sekarang kita punya 17–20 slot penerbangan per hari, dan Thaif bisa menambah 10 slot lagi, maka total bisa jadi 30 slot. Artinya, kita bisa memangkas masa tinggal jemaah yang selama ini terlalu lama hanya karena menunggu giliran terbang,” kata Muhadjir.

Selama ini, antrean kepulangan menjadi salah satu penyebab masa tinggal jemaah membengkak hingga 40 hari. Dengan tambahan slot dan akses bandara baru, jemaah bisa lebih cepat kembali ke Tanah Air. “Tidak banyak yang suka berlama-lama di sini. Saya kira lebih baik segera pulang,” lanjutnya.

Usulan pemanfaatan Bandara Thaif ini akan segera dilaporkan ke Presiden Prabowo Subianto. Muhadjir mengatakan, percepatan ini dilakukan agar presiden dapat mempertimbangkan kebijakan strategis ke depan, termasuk dalam konteks diplomasi haji.

“Saya agak percepat kembali ini untuk segera melaporkan. Supaya bisa jadi bahan pertimbangan Presiden dalam mengambil keputusan,” katanya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore