Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Djati Waluyo
Minggu, 1 November 2026 | 19.47 WIB

Rupiah Diperkirakan Makin Melempem, Kebijakan AS dan Data Ekonomi jadi Pengaruh Utama

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada perdagangan 2 hingga 6 November 2026. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada perdagangan 2 hingga 6 November 2026.

Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada pekan depan dipengaruhi oleh menguatnya mata uang dolar AS, kebijakan ekonomi AS dan kebijakan dalam negeri.

“Untuk rupiah sendiri, dalam minggu depan (2 hingga 6 November) kemungkinan akan ditransaksikan di Rp 18.000 sampai Rp 18.320 (per dolar AS),” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (1/11).

Ibrahim mengatakan, perkiraan melemahnya nilai tukar rupiah salah satunya dipengaruhi oleh menguatnya mata uang dolar AS.

Ia memperkirakan, dalam perdagangan awal November indeks dolar diperkirakan akan ditransaksikan pada rentang 101,20 hingga 103,20.

Adapun, kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) turut memengaruhi pergerakan pasar. Data inflasi AS juga dinilai masih cukup tinggi. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

“Ada kemungkinan besar Bank Sentral Amerika akan menaikkan suku bunga di bulan November atau bulan Desember. 89 persen ekonom di Amerika mengindikasikan bahwa ada kemungkinan di akhir tahun ini 25 basis point yang akan dinaikkan oleh Bank Sentral Amerika,” ujarnya.

Dari dalam negeri, pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis pada awal November. Data tersebut meliputi neraca perdagangan, inflasi, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur, cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, hingga perkembangan defisit transaksi berjalan pada kuartal III 2026.

Menurut Ibrahim, data-data tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk melihat kondisi perekonomian Indonesia, termasuk perkembangan defisit anggaran.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore