
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Tekanan dari sektor eksternal serta kebijakan pemerintah, baik dari sisi fiskal maupun moneter, menjadi sentimen yang berpotensi membuat nilai tukar rupiah tetap tertekan dalam dua bulan ke depan.
Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan tekanan rupiah sudah terjadi sejak awal tahun 2026.
Ia menyebut, rupiah sempat berada di sekitar Rp 16.690 per dolar AS pada 1 Januari 2026, kemudian mencapai Rp 18.180 pada 8 Juni atau terdepresiasi mendekati 8 persen sepanjang tahun 2026.
"Rupiah sudah beberapa kali menyentuhnya sejak Juni dan Bank Indonesia mampu meredam tekanan. Bedanya, pengujian kali ini terjadi ketika persoalan global bertemu dengan penurunan kepercayaan terhadap pasar domestik," ujar Yusuf kepada JawaPos.com, Minggu (18/10).
Yusuf memperkirakan dalam satu hingga dua bulan ke depan, saya memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 sampai Rp 18.100 per dolar AS. Jika tekanan meningkat, terutama apabila The Fed menaikkan suku bunga pada Desember dan arus modal keluar terus berlanjut.
Di saat yang sama, ia belum melihat Rp 20.000 sebagai skenario dasar. Pasalnya, untuk mencapai level itu, rupiah harus melemah sekitar 11 persen lagi dalam waktu singkat.
Ia menjelaskan, pergerakan sebesar itu biasanya membutuhkan tekanan serius pada neraca pembayaran atau penurunan tajam kepercayaan terhadap kebijakan fiskal.
"Keduanya belum terlihat saat ini. Cadangan devisa sebesar USD 146,3 miliar pada akhir September juga masih memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas pasar," ucapnya.
Yusuf mengatakan, pelemahan rupiah dapat dijelaskan melalui tiga lapisan yang saling memperkuat. Lapisan pertama berasal dari faktor global yang berasal dari Yield US Treasury tenor 10 tahun masih berada di atas 5 persen, sedangkan inflasi AS meningkat akibat tekanan harga energi.
"Kondisi tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga The Fed dan membuat aset dolar lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang," ungkapnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

4 Keunggulan Introvert yang Kini Justru Diinginkan oleh Banyak Orang Pada Era Modern
Prediksi Skor Borneo FC vs Tainan City: Jeronimo Turunkan Susunan Pemain Terbaik
Debut di ITB Ultra Marathon 2026, Alumni ITS Langsung Rebut Gelar Juara
Prediksi Skor Persik Kediri vs PSS Sleman: Macan Putih Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Club Brugge vs Lens di Liga Champions: Blauw-Zwart Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Vasco da Gama vs Boca Juniors: Duel Ketat demi Tiket Final Copa Sudamericana
Prediksi Skor Real Betis vs Feyenoord di Liga Champions: Los Beticos Siap Tekuk Tamu
Prediksi Skor Bournemouth vs AC Milan: The Cherries Berpeluang Perpanjang Tren Positif
Prediksi Skor Aston Villa vs Viking FK di Liga Champions: The Villans Jaga Tren Kemenangan!
Prediksi Palmeiras vs Fluminense: Tuan Rumah Selangkah Lagi Lolos ke Final Copa Libertadores 2026

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022