Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Oktober 2026 | 14.44 WIB

Jelang Rilis Data Inflasi AS, Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 18.060

Pegawai menunjukan mata uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Pegawai menunjukan mata uang dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (15/10), setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 3 poin menjadi Rp 17.903 per dolar AS pada perdagangan Rabu (14/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (15/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.780 - Rp 18.060,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Kamis (15/10).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal yang akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah adalah rilis data inflasi AS, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang masing-masing dijadwalkan pada hari Rabu dan Kamis.

Angka CPI utama bulan September diperkirakan naik 0,6 persen secara bulanan (MoM), meningkat dari 0,4 persen pada bulan Agustus. Inflasi tahunan diprediksi naik menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4. 

Di samping itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat juga akan menjadi perhatian pasar. 

Sementara itu dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,0 persen ke 5,1 persen pada 2026.

Namun, tingkat inflasi diproyeksikan naik hingga ke 3,3 persen. Lembaga tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari laporan sebelumnya pada Juli 2026 yakni 5,0 persen.  

“Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berdasarkan laporan edisi Oktober tidak berubah dari edisi Juli yakni 5,1 persen,” ujarnya.  

Ia mengatakan, IMF menyoroti dua kekuatan transformatif yang membentuk kembali ekonomi global yaitu geopolitik dan teknologi. Setiap negara dinilai memiliki dampak paparan berbeda dari sisi ekonomi tergantung dari kedekatan dengan wilayah konflik maupun sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas. 

Tidak hanya itu, situasi ekonomi setiap negara berbeda tergantung pada kemampuan mereka memanfaatkan lonjakan sektor kecerdasan buatan (artifical intelligence/AI). 

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore