
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti. (ANTARA)
JawaPos.com - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen masih menyisakan persoalan struktural yang serius.
Ia mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mampu menciptakan dampak yang luas terhadap kesejahteraan masyarakat. Dimana, sektor-sektor yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) yakni sektor tradable, justru tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebaliknya, pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh sektor jasa yang bersifat non-tradable dan relatif kurang menciptakan lapangan kerja, seperti sektor informasi dan komunikasi, akomodasi dan makan minum, serta pengadaan listrik dan gas.
"Akibatnya, pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menghasilkan efek pengganda (spillover effect) yang kuat terhadap kesejahteraan masyarakat," ujar Esther kepada JawaPos.com, Jumat (7/8).
Eshter mengatakan, pertumbuhan ekonomi tersebut juga sejalan dengan kontraksi Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global mencerminkan pelemahan permintaan, meningkatnya biaya produksi, serta masih kuatnya tekanan akibat tingginya biaya energi, ketergantungan terhadap bahan baku impor, dan persaingan produk impor.
Padahal, apabila Indonesia ingin mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sektor manufaktur seharusnya mampu tumbuh secara konsisten di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebagai mesin utama industrialisasi.
Di sisi investasi, Esther menilai peningkatan realisasi investasi juga belum sepenuhnya berhasil dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi maupun penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.
Ia mencatat pertumbuhan investasi sebesar 7,1 persen atau senilai Rp511,8 triliun hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen. Selain itu, masih terdapat perbedaan data penyerapan tenaga kerja antara Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dinilai perlu mendapatkan klarifikasi lebih lanjut dari kedua instansi tersebut.
Menurutnya, Kualitas tenaga kerja Indonesia juga masih menjadi tantangan karena dominasi pekerja informal serta rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja belum sejalan dengan kebutuhan kebijakan hilirisasi yang berorientasi pada industri bernilai tambah tinggi,” ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022