Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Desember 2020 | 20.51 WIB

Makanan dari Mitra Dibungkus Ulang, lalu Disisipkan Story

TEROBOSAN: Revo Sulasdasha dan Eri Kuncoro, dua inisiator Yuk Tukoni, menunjukkan makanan-makanan yang dipasarkan Yuk Tuhoni selama pandemi Covid-19. (Yuk Tuhoni for Jawa Pos) - Image

TEROBOSAN: Revo Sulasdasha dan Eri Kuncoro, dua inisiator Yuk Tukoni, menunjukkan makanan-makanan yang dipasarkan Yuk Tuhoni selama pandemi Covid-19. (Yuk Tuhoni for Jawa Pos)

Gerakan Yuk Tukoni membantu menjualkan mangut lele sampai mi ayam khas Jogjakarta ke berbagai kota di Indonesia. Standar ketat diterapkan untuk memastikan makanan steril, aman, bersih, dan sehat.

SAHRUL YUNIZAR, Jawa Pos, Jakarta

---

KETIKA pandemi memaksa berbagai pembatasan sosial di Jogjakarta, Revo Suladasha dan Eri Kuncoro kebanjiran curhat. Para pemilik warung, kedai, atau restoran mengeluhkan usaha mereka.

’’Awal pandemi, beberapa teman di komunitas kuliner ngeluh karena warung nggak bisa buka,’’ kata Revo.

Revo dan Eri punya pengalaman panjang di bidang brand dan marketing. Revo, misalnya, pernah menjadi managing director of Jack & Revo Marcomm. Sementara itu, Eri pernah menduduki marketing director of Medcom EO. Keduanya juga dikenal dekat dengan komunitas pengusaha-pengusaha kuliner Jogjakarta.

Pendapatan menurun drastis, sedangkan kebutuhan tetap harus terpenuhi. Belum lagi tingkat kepercayaan pembeli untuk belanja produk yang mereka jual ikut terpengaruh.

Takut tidak steril, takut jadi media yang bisa menularkan virus korona, dan ketakutan-ketakutan lain.

Mangut Lele Mbah Marto adalah salah satu bukti nyata. Betapa pandemi virus korona bisa membuat usaha yang sudah kukuh terguncang.

Sehari-hari mereka biasa menjual 100–300 porsi. Begitu pandemi terjadi, penjualan loyo. Turun menjadi 5–10 porsi per hari. Terjun bebas. Padahal, Mangut Lele Mbah Marto sudah ’’punya nama’’.

Contoh lainnya adalah Mie Ayam Bu Tumini. Mereka juga merasakan sulitnya bertahan di tengah gempuran virus korona. Tidak hanya sepi, pembeli nyaris tidak ada.

Cerita para pelaku usaha kuliner tersebut membuat Revo dan Eri berpikir keras. Mencari cara agar bisa membantu. Yuk Tukoni (istilah dalam bahasa Jawa yang artinya ayo dibeli) muncul saat itu.

Sesuai dengan namanya, ide tersebut berupa social movement. Mengajak masyarakat tidak takut berbelanja. Membeli aneka kuliner yang dijual para pengusaha di Jogjakarta.

Awalnya, pengusaha kuliner yang masuk gerakan Yuk Tukoni bisa dihitung jari. Sekarang ratusan orang sudah bergabung. Mulai pebisnis kuliner yang sudah punya brand cukup besar sampai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih merintis.

Lewat dapur kolektif Yuk Tukoni, mereka berjualan. Mereka juga menerapkan standar ketat. Makanan dipastikan steril. Aman, bersih, dan sehat.

Awalnya, hanya makanan beku yang bisa dipasarkan Tukoni. ’’Semua yang bisa kami olah jadi frozen food,’’ imbuhnya.

Selain mangut lele dan mi ayam, ada sate, ayam bakar, ayam goreng, sampai steak. Seiring tumbuhnya minat para pengusaha bergabung dengan Tukoni, kriteria makanan yang mereka pasarkan bertambah.

Bukan cuma makanan beku, mereka juga membantu menjual makanan kering serta minuman dalam kemasan. ’’Seperti kering tempe, kering teri, terus beberapa lauk yang kering. Ada juga gudeg kering,’’ ungkap Revo.

Semua makanan yang mereka terima dibungkus ulang agar bisa bertahan sampai diterima pemesan. Yang masuk kategori famous brand disesuaikan supaya tidak kehilangan identitas. Sementara itu, makanan yang dibuat pengusaha rumahan dikemas sedemikian rupa agar lebih menarik. Bahkan, Tukoni menyisipkan story dalam setiap makanan yang mereka pasarkan.

Tukoni mengerti, di Jogjakarta sudah lama ada ojek dalam jaringan atau ojek online. Karena itu, mereka mencari celah yang belum diisi ojek online.

Mengumpulkan semua produk dari mitra Tukoni di satu warehouse. Dengan begitu, pembeli bisa memesan aneka produk dengan ongkos kirim yang lebih murah.

Sebab, pengirim tidak perlu mendatangi satu per satu outlet penjual produk-produk tersebut lazimnya yang dilakukan ojek online. Selain itu, lewat warehouse yang terpusat, mereka bisa mengemas ulang produk-produk tersebut agar kualitasnya lebih terjamin.

Strategi lain yang juga membuat Tukoni terus berkembang selama pandemi adalah pasar yang lebih luas. Tidak melulu Jogjakarta, mereka juga menerima pesanan dari daerah lain. Termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, dan daerah lainnya di luar Jawa.

’’Malah banyak yang pesan dari Jakarta dan Bandung, banyak banget,’’ ujar Revo.

Cara berbelanja di Tukoni juga terbilang mudah. Khususnya bagi pembeli yang sudah terbiasa belanja online. Mereka bisa belanja lewat Instagram dan website.

Dua platform itu nanti mengarahkan pembeli ke admin Tukoni yang melayani via WhatsApp. Setelah itu, pembeli tinggal memilih produk yang ingin dibeli, mengirimkan bukti transfer, kemudian barang dikirim ke alamat pembeli.

Dengan strategi itu, Tukoni melesat pesat. Kali pertama beroperasi pertengahan April, saat ini mereka bisa mengirim ribuan paket makanan setiap hari. Bahkan, ada satu produk yang bisa dipesan ribuan pembeli per hari. Salah satunya Mie Ayam Bu Tumini.

’’Awal kami buka pesanan di IG (Instagram, Red) itu sehari bisa 2.000 porsi, sampai handphone hang,’’ jelas Revo.

Mangut Lele Mbah Marto pun demikian. Dari yang semula 5–10 order per hari kini naik cukup tinggi ke 200 porsi per hari. ’’Dua bulan pertama itu Tukoni ngasih dampak penjualan cukup signifikan,’’ tambahnya. Tidak heran, mereka berani membuka gerai di salah satu pusat perbelanjaan di Jogjakarta.

Ya, sekarang Tukoni tak hanya mengandalkan satu warehouse. Mereka sudah punya gerai di Plaza Ambarrukmo. Menurut Revo, alasannya membuka offline store di mal tidak lain untuk mendongkrak kepercayaan pembeli, kemudian menambah daya jual produk UMKM yang mereka pasarkan, dan memudahkan pembeli di Jogjakarta.

’’Jadi, sambil jalan-jalan bisa makan Mie Ayam Bu Tumini atau Mangut Lele Mbah Marto di satu tempat dengan produk yang tetap otentik dari dapurnya,’’ terang dia.

Keberhasilan Tukoni tidak cuma membawa pengusaha kuliner di Jogjakarta dan sekitarnya bertahan di tengah pandemi, tapi juga turut mengantarkan mereka meraih penghargaan. Walau umurnya belum genap setahun, Tukoni sukses memukau juri Semangat Astra Terpadu untuk (SATU) Indonesia Awards 2020.

Andryan Prasetya, pemiliki Sate Samirono, salah satu mitra Tukoni yang turut merasakan manfaat inovasi yang dilahirkan Revo bersama Eri.

"Samirono mengharap dari Tukoni bisa memasarkan beberapa menu lagi," pintanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=0PUT9JJyvik

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore