Menelusuri Jaringan Perdagangan Benur sejak dari Hulu (2-Habis)
Di Lombok, para penangkap benur kini kelimpungan setelah pintu ekspor ditutup sementara. Tapi, para pembudi daya juga kesulitan karena benur diborong pengusaha besar.
UMAR WIRAHADI, Lombok Timur,
Jawa Pos
---
HUJAN masih turun saat sebuah perahu motor bersandar di dermaga nelayan Desa Batunampar Selatan. Tiga nelayan ada di dalamnya setelah dari tengah laut untuk mengangkat jaring penangkap
benih lobster.
’’Hari ini sepi (bibit lobster, Red),’’ kata Hamdan, seorang di antara mereka, setelah mendarat di dermaga desa yang berada di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, itu pada Selasa pagi pekan lalu (1/12).
Di bak dan ember yang ada di perahu tersebut hanya tampak beberapa ekor
benur atau benih lobster yang berhasil ditangkap. Hasil tangkapan yang tak seberapa itu pula yang akan mereka serahkan kepada seorang pengepul.
Harga yang dipatok hanya Rp 5 ribu per ekor. Padahal, sebelumnya, harga di tingkat nelayan bisa mencapai Rp 14 ribu per ekor untuk lobster pasir. Sementara itu, harga lobster mutiara bisa mencapai Rp 34 ribu hingga Rp 35 ribu per ekor.
’’Sekarang harga sudah turun banyak,’’ tutur pemuda 27 tahun itu.
Memang, harga benih lobster di tingkat nelayan turun drastis setelah kasus tertangkapnya mantan Menteri Kelautan dan Perikanan
Edhy Prabowo oleh KPK dalam dugaan suap izin ekspor benih lobster. Harga anjlok karena ekspor benih ke Vietnam dihentikan sementara. Efeknya, perusahaan eksporter pun menyetop pembelian benih ke pengepul maupun nelayan.
Benih lobster menjadi tumpuan hidup bagi ribuan nelayan yang tinggal di sejumlah wilayah pesisir di Pulau Lombok, NTB, yang merupakan salah satu ’’surga’’ benur di tanah air. Namun, cara yang ditempuh berbeda.
Ada yang membudi daya benih, lalu menjualnya setelah lobster besar. Banyak pula yang memilih jalan pintas dengan menangkap benih lobster untuk dijual ke pengepul.
Setelah Edhy tertangkap pun tetap saja ada pembelian secara diam-diam oleh pihak tertentu. Mereka membeli benih ke nelayan dengan harga miring.
Hasil pembelian itu kemudian diselundupkan melalui jalur black market. Sumber koran ini menyebutkan, pengiriman dilakukan melalui jalur laut.
Start pengiriman dari Bali menggunakan kapal kargo yang berlayar ke Singapura sebelum sampai di Vietnam. ’’Kalau harganya segini terus (Rp 5 ribu per ekor, Red), nelayan rugi. Mendingan tidak melaut,’’ ujar Hamdan.
Sebelumnya, penangkapan benih
lobster di Desa Batunampar Selatan memang sangat marak. Bahkan menjadi mata pencaharian utama warga setempat.
Dari 1.700-an jumlah penduduk, mayoritas hidup dengan berburu benih lobster. Mereka membuat petak-petak karamba di tengah laut. Persisnya di Teluk Ekas dan Teluk Awang.
Tidak heran dua teluk tersebut dipenuhi karamba nelayan. Jumlahnya lebih dari seribu petak yang mengapung di permukaan laut.
Benih-benih lobster menempel di jaring yang ditebar di dalam karamba. ’’BL (benih lobster, Red) sangat membantu ekonomi masyarakat,’’ kata Burahing, salah seorang tokoh masyarakat Desa Batunampar Selatan.
Burahing tercatat sebagai salah seorang pengepul yang cukup terkenal. Benih dari nelayan dibeli, kemudian dijual ke perusahaan eksporter. Dia membawahkan sedikitnya 10 nelayan.
Jika beruntung, dia bisa mendapat 5 ribu benih per hari. Hitung saja berapa harganya. Bibit lobster pasir dihargai Rp 14 ribu, sedangkan lobster mutiara Rp 34 ribu sampai Rp 35 ribu.
Biasanya pengepul akan mengambil untung Rp 1 ribu hingga Rp 3 ribu per ekor saat dijual ke eksporter. ’’Benih lobster ini sangat membantu perekonomian nelayan,’’ tuturnya.
Berburu benih lobster memang tergolong pekerjaan enteng. Hasilnya juga menggiurkan. Nelayan pun tidak perlu bermandi peluh untuk mendapatkan benur.
Mereka cuma perlu pergi ke karamba menjelang matahari terbenam. Sekitar pukul 18.00 Wita, nelayan menyalakan lampu yang dipasang di pinggir karamba.
Lampu berfungsi untuk menarik perhatian benur agar mendekat ke karamba saat malam. Setelah semua lampu menyala, nelayan kembali ke rumahnya.
Keesokan paginya mereka akan kembali ke tengah laut untuk memeriksa jaring. Benur menempel di jaring yang ditempel di karamba. ’’Ini pekerjaan paling gampang. Untungnya jelas. Asal punya karamba, pasti dapat,’’ kata Burahing.
Tapi, kini nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Lombok itu dilanda kebingungan. Sebab, pesta panen benur seakan sudah berakhir. Izin ekspor benih lobster ke Vietnam masih distop sebagai dampak penangkapan Edhy Prabowo.
’’Kami sekarang bingung mau kerja apa,’’ tutur Multazam, salah seorang nelayan.
Tak pelak, penghentian izin ekspor benur menjadi pukulan besar bagi pengusaha. Khususnya mereka yang sudah memperoleh izin ekspor dari KKP.
Budi Osean, salah seorang eksporter, mengaku sedih sekaligus kecewa. Menurut dia, meski ada kasus penangkapan oleh KPK, tidak seharusnya izin ekspor benur dihentikan. ’’Ibarat kasus e-KTP. Jika ada masalah di program, masak produksi KTP dihentikan. Kan tidak begitu caranya,’’ ucapnya.
Dia menuturkan, keran izin ekspor benur resmi dibuka pada Juli lalu. Selama rentang waktu tersebut, total ada 42 juta ekor benih lobster yang diekspor ke Vietnam.
Ketika keran ekspor dihentikan seperti sekarang, lanjut dia, yang diuntungkan para penyelundup. Dia yakin saat ini oknum penyelundup sedang bermain secara ilegal.
Photo
TUMPUAN HIDUP: Basarudin memperlihatkan benur hasil tangkapannya di Teluk Awang, Lombok Tengah. (UMAR WIRAHADI/JAWA POS)
*
Tidak semua nelayan di Lombok setuju dengan ekspor benih lobster. Di Teluk Jukung, Desa Telong Elong, Lombok Timur, misalnya, para nelayan justru lebih setuju melakukan budi daya lobster. Setelah besar barulah diekspor.
’’Dengan begini, kita punya nilai jual lebih,’’ ujar Mashur, tokoh nelayan Teluk Jukung, kepada Jawa Pos.
Dia mengatakan, nelayan di wilayahnya menolak keras kebijakan ekspor benih lobster yang dikeluarkan KKP sejak Juli 2020. Saat keran ekspor dibuka besar-besaran, ratusan nelayan di Teluk Jukung dan sekitarnya sulit mendapat bibit untuk budi daya.
Harga bibit sangat mahal. Mereka pun bersaing dengan para pengepul dan bahkan eksporter. Sebab, nelayan tidak mau melepas harga di bawah harga yang ditetapkan eksporter. Karena itu, bibit lobster pasir dibeli dengan harga Rp 15 ribu dan benih lobster mutiara dihargai Rp 35 ribu per ekor. Bahkan pernah mencapai Rp 42 ribu per ekor. ’’Bagaimana kami bisa bersaing dengan pengusaha besar. Tapi, karena sangat butuh, ya harus dibeli,’’ tutur pria 51 tahun itu.
Petambak di wilayah tersebut kini sulit mengisi karamba tempat melakukan budi daya. Dari seratus lebih karamba di area itu, banyak yang tidak terisi.
Mashur, misalnya. Dari 30 petak karamba yang dimilikinya, baru 7 petak yang terisi. Sebanyak 23 karamba lainnya masih kosong. ’’Kami kesulitan bibit. Semua bibit dijual ke pengusaha eksporter,’’ katanya.
Memang, tutur dia, budi daya membutuhkan waktu yang cukup lama. Mulai enam bulan sampai setahun untuk bisa panen. Budi daya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Benih lobster harus diberi pakan setiap hari. Biasanya berupa ikan teri. Jika tidak ada hasil tangkapan di luat, Mashur membeli pakan. Harganya Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu untuk 18–22 kilogram ikan teri.
Tapi, semuanya terbayar saat waktu panen tiba. Harga lobster pasir ukuran 100 gram mencapai Rp 250 ribu, sedangkan mutiara semakin besar semakin mahal.
Harga lobster mutiara di atas 200 gram bisa mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Sekali panen, dia mampu menghasilkan Rp 200 juta hingga Rp 500 juta. ’’Banyak juga yang dapat sampai Rp 1 miliar sekali panen,’’ tuturnya.
Warga Teluk Jukung merasa lobster memberikan manfaat luar biasa bagi hidup mereka. Terutama secara materi. Kesejahteraan nelayan meningkat.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=D9vxMSwMW0U