Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 Maret 2022 | 23.59 WIB

Migor Curah Kosong, Pengrajin Kerupuk Terpaksa Hentikan Produksi

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Miris, perjuangan industri kerupuk rumahan untuk bertahan hidup harus menghentikan usahanya karena mahalnya harga minyak goreng (migor) curah. Jika ada stok, harganya masih belum terjangkau. Perajin kerupuk di Dusun Sidolegi, Desa Parengan, Kecamatan Jetis harus menghentikan produksinya karena tak mampu menutup biaya produksi yang melonjak karena kenaikan bahan baku.

Sejak lima hari terakhir, industri rumahan milik Aisyah itu memutuskan berhenti produksi. Empat pekerjanya terpaksa dirumahkan. Sebab, pengolahan kerupuk teplek atau bandung yang telah berlangsung selama 26 tahun itu tak mungkin dilakukan di tengah lonjakan harga dan kelangkaan migor. ”Lima hari. Sampai sekarang sudah tidak produksi sama sekali,” ungkap Aisyah ucapnya kepada Radar Mojokerto, Kamis (24/3).

Keputusan menutup usaha diambil dengan perhitungan biaya produksi yang tak sebanding dengan penghasilan. Menurut dia, harga migor kemasan sekarang sangat mahal. Satu kilogram mencapai Rp 25 ribu.

Di lain sisi, migor curah sulit dicari di pasaran. Jenis migor yang ditetapkan satu harga itu sedang langka. Setiap agen yang didatangi selalu kehabisan stok. ”Katanya masih disubsidi ya kita senang. Eh ternyata barangnya kosong di mana-mana,” keluh perempuan 42 tahun tersebut. Kalaupun ada stok, harga migor curah ugal-ugalan. Yakni, Rp 23 ribu per kilogram. Jauh di atas HET yang ditetapkan pemerintah Rp 14 ribu per kilogram.

Kondisi demikian membuat industri rumahan yang dikelolanya bersama sang kakak mengalami tekor. Aisyah menjelaskan, dalam sehari, dirinya membutuhkan 50 kilogram migor. Jumlah itu untuk menghasilkan 10-12 ribu kerupuk.

Dengan harga migor yang ada saat ini, dia mengaku rugi besar. Pembengkakan ongkos produksi mencapai Rp 1,7-Rp 2 juta. ”Kalau saya paksakan beli minyak yang harganya mahal, itu sama dengan kerja bakti. Tidak dapat apa-apa,” cetusnya.

Selain kendala migor, ia juga mengeluhkan lonjakan harga bahan baku berupa tepung yang mencapai Rp 980 ribu per kwintal. Menghadapi situasi sulit, Aisyah bukan tanpa siasat. Sejak harga migor terkerek naik, dia berusaha bertahan.

Uang tabungan dikeluarkan untuk menutup biaya produksi. Namun, setelah berlangsung selama berbulan-bulan, industrinya tak bisa dipertahankan. ”Waktu itu meskipun tekor-tekor sedikit tak tambeli saja, eh sekarang tabungannya sudah habis total. Yo wis tutup,” ungkapnya.

Aisyah belum tahu sampai kapan berhenti produksi. Selama migor masih langka dan mahal, dia belum berani memulai kembali usahanya. Kondisi yang sangat ia sayangkan. Sebab, jelang bulan Ramadan seperti ini permintaan kerupuk yang jamak ditemukan di warung-warung itu naik drastis.

Dirinya berharap, pemerintah turun tangan untuk mengatasi mahalnya migor kemasan dan kelangkaan migor curah. Selama tutup, tak ada kegiatan sama sekali di industri rumahan yang menjadi penghasilan utamanya serta empat karyawan tersebut. Sesekali, dia hanya membereskan bakal kerupuk yang sudah mengering namun tidak digoreng karena tak ada migor. ”Sekarang diam saja di rumah. Menata kerupuk di pabrik yang berantakan,” ucapnya lirih.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore