Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 Juli 2025 | 02.26 WIB

Ekspor AS ke Indonesia Bebas Tarif, Bakal Geser Dominasi Tiongkok di Indonesia?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Istimewa) - Image

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Istimewa)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja mengumumkan bahwa ekspor negaranya ke Indonesia tidak dikenakan bea masuk sepeserpun alias bebas tarif. Sedangkan ekspor Indonesia ke negara Paman Sam itu dikenakan sebesar 19 persen.

Di sisi lain, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada lima tahun terakhir, terhitung tahun 2021 hingga Semester I-2025, impor Tiongkok masih mendominasi di tanah air.

Bahkan secara urutan, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini, Tiongkok selalu menjadi nomor satu negara paling besar melakukan ekspor ke Indonesia. Misalnya saja, pada sepanjang tahun 2024, Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar selama 2024 dengan mencatatkan nilai USD 73.853,1 juta dan volume 42.737,5 ribu ton.

Sementara AS tercatat sebagai peringkat keempat setelah Singapura dan Jepang, dengan nilai impor sepanjang tahun 2024 senilai USD 12.019,7 juta. Angka ini tercatat naik 6,38 persen, dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 11,277,5 juta.

Di sisi lain, impor pada sepanjang Semester I-2025 juga masih didominasi oleh Tiongkok. Dalam hal ini Tiongkok menjadi negara utama asal impor non migas Indonesia dengan nilai USD 33,12 miliar (39,92 persen), diikuti Jepang sebesar USD 6,31 miliar (7,61 persen),  dan Singapura sebesar USD 3,89 miliar (4,69 persen).

Lantas, apakah ekspor AS ke Indonesia yang bebas tarif mampu meruntuhkan dominasi Tiongkok di tanah air?

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menyampaikan bahwa tujuan akhir dari kebijakan Trump dengan meminta 0 persen tarif bea masuk ke Indonesia memang untuk menjauhkan ketergantungan RI terhadap impor dari Tiongkok.

"Tujuan akhir dari Trump ingin agar Indonesia menjauhkan ketergantungan terhadap impor dari Tiongkok, jadi AS minta 0 persen tarif bea masuk ke indonesia," kata Bhima kepada JawaPos.com, Rabu (16/7).

Namun, kata dia, permasalahannya taktik AS tidak semudah itu. Pertama, harga dan kualitas produk Tiongkok lebih masuk ke preferensi perusahaan dan konsumen Indonesia, dibanding dengan harga dan kualitas produk dari AS.

"Misalnya soal barang elektronik, preferensi barang AS meski tarifnya 0 persen ke Indonesia tetap lebih mahal dibanding produk Tiongkok," lanjut Bhima.

Kemudian, kedua, Indonesia justru belajar dari hasil negosiasi yang tertekan atau unbalanced dengan Trump bahwa urgensi diversifikasi mitra dagang ke negara BRICS lebih penting.

"Daripada harus tunduk ke AS dibawah Trump, bergeser ke BRICS adalah keputusan rasional," pungkasnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore