Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 11 September 2023 | 21.24 WIB

Mengenal Mbah Sukamah, Sang Maestro di Festival Payung Indonesia X

Mbah Sukamah asal Jepara, Jawa Tengah, dinobatkan sebagai "maestro payung tradisi" oleh Fespin. (fajar mujianto/jawapos.com) - Image

Mbah Sukamah asal Jepara, Jawa Tengah, dinobatkan sebagai "maestro payung tradisi" oleh Fespin. (fajar mujianto/jawapos.com)

JawaPos.com – Festival Payung Indonesia (Fespin) X telah selesai digelar di Solo selama tiga hari, 8-10 September 2023. Kegiatan itu berlangsung dengan meriah.

Festival yang pertama kali diadakan pada 2014 itu diadakan di dua tempat, yakni Balai Kota Solo dan Pasar Gede dengan tema “Sepayung Bumi, Alam adalah Kita”.

Selama tiga hari, Fespin menjadi tempat pertemuan beragam kelompok seni, seniman, budayawan, kreator, crafter, akademisi, dan berbagai profesi lainnya.

Acara yang masuk dalam SPORTIVE 2023 – Kemenparekraf menampilkan beragam kerajinan payung dan kelompok pertunjukkan seni dari Indonesia, Thailand, India, Jepang, hingga Ekuador.

Diramaikan oleh 65 grup seni pertunjukan, 8 grup fashion show, dan 33 kelompok UMKM dan komunitas kreatif.

Dari sekian puluhan beragam kerajinan payung, ada salah satu yang mencuri perhatian para pengunjung. Adalah sosok Mbah Sukamah yang nampak sedang melukis di atas payung berukuran sedang.

Mbah Sukamah menjadi perhatian pengunjung karena perawakannya yang tua, tetapi lihai dalam membuat lukisan motif bunga di atas payung.

Mbah Sukamah merupakan pengrajin payung yang berasal dari Desa Sekarjati, Jepara, Jawa Tengah. Dia tak datang sendiri, Mbah Sukamah didampingi pengrajin tenun Omah Petrok Ecoweaving yang juga berasal dari Jepara.

Mbah Sukamah sudah membuat payung selama kurang lebih 60 tahun. Dia merupakan satu-satunya pelukis payung tradisi dari Jepara.

Mbah Sukamah ketika melukis di atas payung kertas. (fajar mujianto/jawapos.com)

Keistiqamahan Mbah Sukamah untuk menjadi pengrajin payung hingga sekitar 3/4 dekade ini yang menjadi alasan untuk mempredikati Sukamah sebagai "maestro payung tradisi" dari Fespin.

Sukamah, yang kesehariannya membuat payung Orinan, biasanya dipesan untuk properti pertunjukan atau sekadar pajangan di rumah. Dan, tak jarang Sukamah mendapat pesanan payung untuk kematian.

Kendati tiga perempat dekade telah berlalu, cara beliau memproses karyanya tetaplah sama. Dia masih efisien (dan cukup sustainable).

Beliau menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekeliling, cukup dengan bambu, kayu mahoni, benang sulam, dan kertas semen bekas. Satu lagi yang tak kalah unik, beliau menggunakan kulit kayu waru atau lulup sebagai kuas.

Dan, untuk pewarnanya, cat kayu dicampur dengan gondo rukem yang kemudian ditumbuk dan dilelehkan dengan minyak tanah.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore