Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Februari 2024 | 12.40 WIB

Polisi Kediri Tangkap Empat Santri Terkait Kasus Teman Meninggal

Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji. - Image

Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji.

JawaPos.com–Aparat Kepolisian Resor Kediri Kota tangkap empat santri salah satu pondok pesantren di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Mereka terkait kasus temannya yang meninggal dunia diduga karena dianiaya.

Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji mengatakan, pihaknya menindaklanjuti laporan keluarga. Kendati laporannya di Banyuwangi, Polres Kediri Kota tetap menindaklanjuti dengan melakukan olah tempat kejadian perkara serta pemeriksaan sejumlah saksi.

”Kasus ini terjadi di salah satu pondok pesantren di Mojo, Kabupaten Kediri. Kami tetapkan empat tersangka dan kami lakukan penahanan untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” kata Bramastyo Priaji seperti dilansir dari Antara di Kediri.

Dia menjelaskan empat tersangka itu yakni MN, 18, asal Sidoarjo; MA, 18, asal Kabupaten Nganjuk; AF, 16, asal Denpasar, Bali; dan AK, 17, asal Surabaya. Sedangkan korban berinisial BM, 14, yang merupakan adik kelas para pelaku.

”Korban berasal dari Afdeling Kampunganyar, Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi,” terang Bramastyo Priaji.

Dia menjelaskan, kasus itu dilakukan berulang-ulang. Diduga, terjadi kesalahpahaman di antara anak-anak tersebut sehingga menyebabkan kejadian penganiayaan berulang.

Bramastyo Priaji menyatakan, masih mendalami kasus tersebut termasuk meminta keterangan dari pesantren maupun dokter yang memeriksa jenazah.

”Dari pondok juga kami dalami. Yang pasti kami sudah menetapkan empat tersangka,” ujar Bramastyo Priaji.

Santri tersebut diketahui meninggal dunia pada Jumat (23/2). Kasusnya dilaporkan ke Polsek Glenmore, Banyuwangi, pada Sabtu (24/2).

Keempat pelaku terancam pasal 80 ayat 2 tentang perubahan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Sementara itu, pengasuh pesantren tempat santri tersebut menimba ilmu di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Fatihunada mengaku, tidak tahu kejadian itu. Pada Jumat (23/2), dia tiba-tiba diberi laporan jika santrinya itu sudah meninggal dunia.

”Saat itu saya capai dan dibangunkan. Saya dapat laporan anak itu jatuh terpeleset di kamar mandi. Saat itu juga tidak muncul dugaan dan saya tidak sempat melihat karena mengurus ambulans dan keperluan untuk berangkat ke sana (Banyuwangi),” kata Gus Fatih, sapaan akrabnya.

Dia kemudian mencari nomor telepon keluarga santri tersebut dan menghubungi. Keluarga berencana memakamkan di Banyuwangi, sehingga dia mencari mobil ambulans untuk membawa jenazah. Hingga kemudian di rumah duka ada kejadian viral itu (video keluarga tidak terima dengan kematian santri tersebut).

Fatihunada mengaku tidak tega saat melihat kondisi tubuh santri tersebut saat dibuka di rumah duka, Banyuwangi. Ada memar dan wajahnya bengkak.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore